Rabu, Oktober 7, 2026

Ujian Status Kota Global, Mengapa Jakarta Gagal Gelar ‘Big Match’ Meski Dinobatkan Teraman ke-2 di ASEAN?

HeadlineUjian Status Kota Global, Mengapa Jakarta Gagal Gelar 'Big Match' Meski Dinobatkan Teraman ke-2 di ASEAN?

JAKARTA, Zonarilis.com – Ironi besar tengah menyelimuti Ibu Kota. Di tengah klaim prestasi sebagai kota teraman kedua di Asia Tenggara (ASEAN) pada 2026, Jakarta justru dinyatakan “tidak aman” untuk menggelar laga adu gengsi antara Persija Jakarta melawan Persib Bandung. Keputusan memindahkan duel pekan ke-32 Super League ini ke Stadion Segiri, Samarinda, memicu polemik mengenai kredibilitas Jakarta sebagai Kota Global.

​Direktur Utama I.League, Ferry Paulus, mengonfirmasi bahwa pertandingan yang dijadwalkan pada 10 Mei 2026 tersebut resmi dipindahkan setelah koordinasi ketat di Mabes Polri. Alasan keamanan pasca-rangkaian agenda besar seperti May Day menjadi dasar utama kepolisian tidak menerbitkan izin keramaian di Jakarta.

​Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyatakan dirinya turut merasakan kepedihan yang dialami puluhan ribu The Jakmania. Meski kecewa, ia memilih mengikuti pertimbangan taktis kepolisian.

BACA JUGA :  Mini Soccer Jadi Agenda Rutin Perkuat Soliditas AMPI

​“Saya termasuk yang kecewa. Kemarin teman-teman juga tahu saya menerima Kapolda. Namun, demi menjaga Jakarta tetap adem, ayem, dan tentrem, saya menghormati keputusan bersama tersebut karena ada reasoning yang masuk akal,” ungkap Pramono di Balai Kota, Rabu (6/5/2026).

​Saat didesak mengenai detail ancaman keamanan yang dimaksud, Pramono enggan berkomentar jauh. “Kalau kecewa, saya kecewa banget. Mengenai alasan, biarkan pihak yang membuat alasan saja yang bicara,” tegasnya.

​Mantan Ketua Umum The Jakmania, Richard Ahmad Suprianto, memberikan reaksi keras atas pengusiran Macan Kemayoran dari rumahnya sendiri. Ia menilai ada kontradiksi nyata antara piagam penghargaan internasional yang diterima Jakarta dengan realitas di lapangan.

​“Ini sangat ironis. Katanya Jakarta kota teraman ke-2 se-ASEAN, tapi menggelar satu pertandingan saja tidak mampu? Status itu patut dipertanyakan kembali. Narasi ‘Jakarta tidak aman’ ini sangat tendensius bagi warga dan Jakmania,” ujar Richard saat dihubungi Zonarilis.com, Jumat (8/5/2026).

BACA JUGA :  Dituding Permalukan Gubernur dan Langgar Konstitusi, Kadisdik DKI Diminta Mundur

​Ia juga menyoroti penggunaan dana hibah dari pajak warga Jakarta kepada pihak keamanan yang seharusnya berbanding lurus dengan jaminan perlindungan kegiatan publik.

​“Bagaimana bisa disebut kota global jika laga El Clasico saja harus mengungsi? Pihak keamanan mendapatkan hibah dari pajak warga, tapi Persija justru rugi besar karena diusir oleh kebijakan Kapolda dan Kapolri,” lanjutnya ketus.

​Sebagai penutup, Richard menekankan bahwa luka ini hanya bisa diobati dengan prestasi di lapangan hijau. Ia pun menyerukan konsolidasi besar-besaran bagi organisasi suporter agar memiliki posisi tawar yang lebih kuat di masa depan.

​“Kekecewaan ini mahal harganya, maka Persija harus menang lawan Persib! Harga diri warga Jakarta harus dibayar dengan poin penuh di Samarinda,” tegas Richard.

BACA JUGA :  Putusan MK: Sisa Kuota Tak Hangus, Kata Konsumen Merah Putih Dorong Operator Segera Implementasi

​Ia mengingatkan agar peristiwa “pengusiran” ini menjadi pelajaran terakhir. “Jangan sampai terjadi kembali di kemudian hari. Konsolidasi organisasi harus dikencangkan dan disegerakan. Kita harus solid agar Jakarta benar-benar menjadi rumah yang aman bagi tim kebanggaannya,” pungkasnya.(Red/ZR).

spot_img

Simak Konten Lainnya :

Terbaru

Check out other tags:

spot_img
spot_imgspot_img
spot_imgspot_img

Berita Populer