JAKARTA, Zonarilis.com – Poros Pemuda Minang Jakarta menilai PT Bank Nagari perlu melakukan lompatan strategi apabila ingin menjadi bank pembangunan daerah (BPD) yang mampu bersaing di tingkat nasional. Meski tetap mencatatkan kinerja keuangan yang positif, organisasi tersebut menilai kekuatan Bank Nagari masih terlalu bergantung pada pasar Sumatera Barat dan belum mampu menunjukkan pengaruh yang signifikan di Jakarta sebagai pusat ekonomi Indonesia.
Berdasarkan Laporan Tahunan 2024, Bank Nagari membukukan total aset sebesar Rp32,96 triliun, tumbuh 3,27 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat Rp26,68 triliun, meningkat 2,84 persen, sedangkan kredit dan pembiayaan mencapai Rp25,55 triliun atau tumbuh 6,32 persen. Namun, pertumbuhan aset Bank Nagari masih berada sedikit di bawah rata-rata pertumbuhan aset Bank Pembangunan Daerah (BPD) secara nasional yang mencapai 3,70 persen.
Di sisi lain, berdasarkan Roadmap Penguatan Bank Pembangunan Daerah 2024–2027 yang diterbitkan OJK, total aset Bank Nagari masih berada di kisaran Rp32 triliun, jauh di bawah sejumlah BPD besar seperti Bank BJB (sekitar Rp186 triliun), Bank Jatim (sekitar Rp101 triliun), Bank Jateng (sekitar Rp86 triliun), dan Bank DKI (sekitar Rp82 triliun). Kondisi tersebut menunjukkan masih besarnya ruang pertumbuhan yang harus dikejar Bank Nagari apabila ingin menjadi pemain utama di industri perbankan nasional.
Ketua Umum Poros Pemuda Minang Jakarta, Ridal Walidaen, mengatakan ukuran keberhasilan sebuah bank daerah tidak lagi cukup dinilai dari dominasi di daerah asal, melainkan dari kemampuannya membangun daya saing di pusat ekonomi nasional.
“Bank Nagari jangan terus berbangga menjadi juara di halaman sendiri. Tantangan sesungguhnya bukan di Sumatera Barat, melainkan di Jakarta sebagai pusat ekonomi nasional. Kalau di ibu kota saja Bank Nagari belum mampu menunjukkan pengaruh yang signifikan, bagaimana publik bisa percaya bahwa bank ini siap naik kelas menjadi bank pembangunan daerah yang diperhitungkan secara nasional?”
Menurut Ridal, Jakarta merupakan episentrum aktivitas ekonomi, investasi, dan perbankan nasional. Sebagian besar penghimpunan dana perbankan nasional berasal dari wilayah DKI Jakarta sehingga keberhasilan memperkuat bisnis di ibu kota akan sangat menentukan kemampuan bank meningkatkan skala usahanya.
Sayangnya, menurut Poros Pemuda Minang, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal oleh Bank Nagari.
“Kami melihat ada paradoks. Di kampung, Bank Nagari tampil dominan karena memiliki captive market. Namun ketika berhadapan dengan kompetisi yang sesungguhnya di Jakarta, gaungnya nyaris tidak terdengar. Ini bukan sekadar soal jumlah kantor cabang, tetapi soal keberanian membangun daya saing.”
Poros Pemuda Minang juga menyoroti besarnya potensi ekonomi masyarakat Minangkabau di perantauan yang dinilai belum mampu dikapitalisasi menjadi kekuatan bisnis Bank Nagari.
Ribuan pengusaha Minang di Jabodetabek bergerak di sektor perdagangan, kuliner, properti, jasa, hingga industri dengan nilai transaksi yang sangat besar. Namun, Bank Nagari dinilai belum berhasil menjadikan komunitas tersebut sebagai basis utama pertumbuhan bisnisnya.
“Jakarta adalah rumah bagi ribuan pengusaha dan jutaan perantau Minang yang mengelola perputaran ekonomi bernilai triliunan rupiah. Sangat disayangkan apabila potensi sebesar itu belum mampu dijadikan kekuatan bisnis Bank Nagari. Ini menunjukkan ada strategi yang perlu dievaluasi secara serius.”
Ridal menegaskan bahwa kritik tersebut tidak dimaksudkan untuk mendiskreditkan Bank Nagari, melainkan sebagai dorongan agar manajemen memiliki keberanian melakukan transformasi yang lebih agresif.
“Kami tidak sedang menyerang Bank Nagari. Justru kami ingin Bank Nagari menjadi bank yang benar-benar membanggakan masyarakat Minangkabau. Kritik ini adalah bentuk kepedulian. Sebab kami percaya Bank Nagari memiliki modal, jaringan, dan sejarah yang kuat untuk tumbuh lebih besar.”
Poros Pemuda Minang menilai, apabila Bank Nagari ingin mempercepat pertumbuhan aset, dana murah, dan pangsa pasar, maka Jakarta harus ditempatkan sebagai salah satu fokus utama ekspansi bisnis, bukan sekadar lokasi operasional kantor cabang.
Organisasi tersebut juga meminta Pemerintah Provinsi Sumatera Barat selaku pemegang saham pengendali agar mendorong manajemen menetapkan target yang lebih ambisius, termasuk meningkatkan penghimpunan dana dari komunitas perantau, memperkuat layanan digital, memperluas kerja sama dengan pelaku usaha, serta memperbesar pangsa pasar di luar Sumatera Barat.
Menutup pernyataannya, Ridal menegaskan bahwa Bank Nagari memiliki modal yang cukup untuk tumbuh menjadi BPD papan atas, asalkan berani keluar dari zona nyaman.
“Sudah saatnya manajemen keluar dari zona nyaman. Jangan hanya mengejar prestasi di daerah sendiri, tetapi berani bertarung di pusat ekonomi nasional. Bank Nagari harus berhenti menjadi jago kandang dan mulai membuktikan diri sebagai bank pembangunan daerah yang mampu bersaing dengan bank-bank besar di Indonesia.”
“Kalau Bank Nagari ingin menjadi simbol kebangkitan ekonomi Minangkabau, maka ukurannya bukan lagi seberapa kuat di Sumatera Barat, melainkan seberapa besar kontribusinya terhadap ekonomi masyarakat Minang di seluruh Indonesia. Di situlah ujian kepemimpinan dan visi manajemen sesungguhnya.” tandasnya. (Zr).










