JAKARTA, ZONARILIS.COM — Badan Musyawarah Masyarakat Betawi (Bamus Betawi) menegaskan komitmen kuatnya agar identitas lokal tetap kokoh di tengah arus modernisasi. Hal tersebut mengemuka dalam perayaan HUT Bamus Betawi dan HUT ke-499 Kota Jakarta yang dihelat di Grand Orchardz Hotel Rajawali Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa malam (29/9/2026).
Mengusung tema besar “Menyongsong Lima Abad Jakarta, Kota Budaya & Kota Global”, agenda ini menjadi momentum penting tidak hanya untuk merayakan hari jadi, tetapi juga sebagai ajang konsolidasi strategis ormas Betawi dalam mengawal perjalanan panjang ibu kota.
Acara tersebut dihadiri oleh jajaran tokoh penting dan unsur pemerintahan. Tampak hadir Sekretaris Majelis Adat Betawi H. Syarif Hidayatullah, S.Ip., Kepala Sub-Kelompok Lembaga Kebudayaan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta Farza Elvinra, S.Sos., M.Pd. (mewakili Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta), serta perwakilan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol). Sinergi ini mencerminkan komitmen bersama dalam menjaga dan merawat warisan budaya lokal di pusat megapolitan.
Di sela-sela acara, kepemimpinan Bamus Betawi di bawah komando Bang Riano turut mengumumkan Pergantian Antarwaktu (PAW) kepengurusan. Langkah penataan ini dilakukan demi memastikan roda organisasi berjalan efektif, solid, dan adaptif. Dalam menjalankan kepengurusannya, Bang Riano didampingi oleh Sekretaris Jenderal Anas Mahrup, SE., serta Bendahara Umum Dra. Hj. Farida Listuti.
“Pergantian antarwaktu merupakan bagian dari dinamika organisasi. Yang terpenting adalah bagaimana roda organisasi tetap berjalan, soliditas tetap terjaga, dan seluruh jajaran dapat bersama-sama menjalankan amanah,” ujar Bang Riano. Ia juga menekankan agar Bamus Betawi tidak terjebak dalam aktivitas seremonial belaka. Organisasi, kata dia, harus hadir di tengah masyarakat, memperkuat komunikasi dengan pemerintah, serta memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan Jakarta.
Menyongsong usia lima abad Jakarta, transisi menuju kota global menjadi sorotan utama. Bang Riano mengingatkan bahwa kemajuan infrastruktur dan ekonomi tidak boleh membuat Jakarta tercerabut dari akar sejarah dan identitas kulturalnya. “Jakarta boleh semakin modern, semakin maju dan menjadi kota global, tetapi jangan sampai kehilangan jati dirinya. Budaya Betawi harus tetap hidup, berkembang dan menjadi bagian dari wajah Jakarta,” tegas Bang Riano. Lebih lanjut, ia mendorong agar generasi muda dilibatkan secara aktif sebagai motor penggerak kebudayaan agar budaya Betawi tidak sekadar menjadi cerita masa lalu, melainkan hidup berdampingan dengan dinamika zaman.
Menutup rangkaian acara, Bamus Betawi mengajak seluruh elemen masyarakat, tokoh budaya, dan pemerintah untuk berkolaborasi secara nyata. Masyarakat Betawi didorong untuk tidak hanya diposisikan sebagai simbol tradisi, melainkan turut mengambil peran strategis di berbagai sektor pembangunan kota. Melalui semangat kebersamaan dan konsolidasi ini, Bamus Betawi optimistis Jakarta dapat menjelma menjadi kota global yang maju secara modern, namun tetap memiliki fondasi sejarah dan budaya yang kokoh.(Zr).










