Angka Perceraian di Garut Melonjak, Faktor Ekonomi hingga Judi Online Jadi Pemicu Utama

14
Tangkap layar vidio viral di garut

​GARUT, ZONARILIS.COM – Kabupaten Garut tengah menjadi sorotan publik setelah data mengenai lonjakan angka perceraian sepanjang pertengahan tahun 2026 mencuat ke permukaan. Fenomena ini semakin ramai diperbincangkan setelah sebuah video yang mengulas tingginya angka gugatan cerai di Garut viral di platform TikTok dan memicu diskusi hangat di kalangan netizen.

​Dalam video yang beredar luas tersebut, dinarasikan bahwa Pengadilan Agama (PA) Garut telah menerima lebih dari 2.500 perkara perceraian hingga pertengahan tahun 2026. Angka tersebut didominasi oleh cerai gugat, di mana pihak istri menjadi pihak yang paling banyak mengajukan permohonan untuk mengakhiri hubungan pernikahan.

Ketua Pengadilan Agama Garut menjelaskan bahwa meskipun masalah ekonomi klasik—seperti ketidakmampuan suami memenuhi kebutuhan keluarga—masih menjadi penyebab utama, kini muncul faktor destruktif baru yang memperparah kondisi keuangan rumah tangga, yakni kecanduan judi online.

BACA JUGA :  Pelantikan 40 Advokat Muda PERADI Profesional di Bandung, Prof. Aslam Fadli: Integritas dan Marwah Profesi Adalah Benteng Utama Penegak Hukum

​”Judi online menjadi faktor yang sangat dominan belakangan ini. Hal ini memicu tumpukan utang, pertengkaran rumah tangga yang tak kunjung usai, hingga akhirnya istri memilih untuk menggugat cerai karena merasa keamanan ekonomi dan psikologisnya terancam,” ungkap pihak Pengadilan Agama.

​Selain faktor ekonomi dan judi online, kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) juga menempati posisi signifikan sebagai alasan hukum yang diajukan para penggugat. Realita ini menunjukkan bahwa keretakan rumah tangga di Garut saat ini telah mencapai tingkat yang cukup mengkhawatirkan.

Respons Publik dan Seruan Kolaborasi
Ramainya perbincangan mengenai data ini di media sosial menuai berbagai reaksi dari warganet. Banyak yang menyayangkan kondisi tersebut dan mendesak pemerintah untuk lebih serius menangani persoalan sosial, khususnya terkait dampak judi online yang semakin merusak tatanan keluarga.

BACA JUGA :  Rp5 T Dana PEN DKI Nyasar ke Jakpro, ASNI Desak Kejagung Bongkar Dugaan "Modal Ventura Terselubung"

​Menanggapi fenomena tersebut, pengamat sosial menilai bahwa lonjakan ini harus menjadi alarm bagi semua pihak. Upaya preventif tidak lagi bisa dilakukan secara parsial.

​”Kolaborasi lintas sektor antara pemerintah daerah, tokoh agama, hingga lembaga pendidikan menjadi harga mati. Edukasi pranikah, program penguatan ketahanan keluarga, hingga langkah konkret untuk memberantas judi online harus dioptimalkan.

Kita harus bersama-sama membangun keluarga yang tangguh agar perceraian tidak lagi menjadi jalan pintas dalam menyelesaikan konflik,” pungkas para komentar dalam video viral tersebut.

​Lonjakan perkara perceraian ini kini menjadi pengingat keras bahwa persoalan keluarga merupakan tanggung jawab kolektif yang membutuhkan perhatian lebih dari sekadar jalur hukum. – ZR

BACA JUGA :  Kawal Akuntabilitas Aset Daerah, Fraksi PKS DKI Konsisten Dorong Pelepasan Saham PT Delta Djakarta

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini