SURABAYA, Zonarilis.com – Sebuah foto yang menampilkan kemesraan kolaborasi antara Gus Ipul dan Khofifah Indar Parawansa saat membagikan sepatu kepada siswa Sekolah Rakyat (SR) kini berbuntut panjang. Bukan apresiasi yang didapat, publik justru dikejutkan dengan aroma tak sedap di balik harga sepasang sepatu yang disebut-sebut mencapai angka Rp700 ribu.
Meski Gus Ipul telah mengklarifikasi bahwa bantuan tersebut bukan berasal dari dana Kementerian Sosial melainkan “hadiah khusus” dari Gubernur Jawa Timur, tabir asal-usul anggaran tersebut akhirnya terkuak. Dana tersebut nyatanya tetap bersumber dari keringat rakyat Jawa Timur melalui APBD yang dikelola oleh Biro Umum Provinsi.
Direktur Center for Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi dalam keterangan tertulisnya pada kamis (07/05/26), mencium adanya ketidakkonsistenan yang mencolok dalam pengadaan alas kaki siswa ini. Berdasarkan temuan CBA, alokasi dana ini seolah menjadi agenda rutin dengan dalih dukungan terhadap program Sekolah Rakyat milik Presiden Prabowo.
Namun, yang menjadi sorotan tajam adalah fluktuasi harga yang dianggap tidak masuk akal:
- Tahun 2025: Alokasi Rp1 miliar dialokasikan untuk sepatu dengan harga rata-rata Rp375.000 per pasang.
- Tahun 2026: Anggaran menyusut menjadi Rp461 juta, dan secara ajaib harga per pasang turun drastis ke angka Rp171.000.
Uchok Sky Khadafi tak mampu membendung sarkasmenya melihat angka-angka tersebut. Ia mempertanyakan spesifikasi sepatu macam apa yang dibeli dengan harga hampir Rp400 ribu untuk anak sekolah tersebut.
”Kalau harganya setara sepatu bermerek di mal, ini sepatu apa sebenarnya? Apakah pakai kulit sapi pilihan, ada teknologi anti-air, atau jangan-jangan bisa berjalan sendiri ke sekolah? Atau mungkin ada logo khusus yang membuatnya jadi mahal?” ujar Uchok dengan nada menyindir.
Menurutnya, disparitas harga yang mencapai dua kali lipat dalam waktu singkat hanya menunjukkan satu hal: adanya indikasi mark-up yang sangat kasar. “Ini belanja negara atau belanja perasaan? Kalau lagi senang harga dibuat mahal, kalau lagi hemat turun drastis,” tambahnya.
CBA memperingatkan bahwa anggaran pajak rakyat harus diselamatkan dari praktik-praktik pengadaan yang tidak transparan. Jika anggaran tersebut digunakan dengan harga wajar, dipastikan jumlah siswa yang mendapatkan bantuan akan jauh lebih banyak.
Zonarilis.com mencatat, CBA secara resmi mendorong Kejaksaan Agung (Kejagung) untuk segera melakukan penyelidikan terhadap Biro Umum Provinsi Jawa Timur.
”Kita ingin sepatu ini membuat kaki anak-anak nyaman, tapi kita juga ingin proses pengadaannya ‘terang benderang’. Jangan sampai semangat memajukan pendidikan justru dijadikan ajang mengeruk keuntungan pribadi,” tutup Uchok Sky.(Red/ZR).










