TANGERANG, Zonarilis.com – Kompetisi sepak bola usia dini seharusnya menjadi ajang pengembangan bakat dan sportivitas. Namun, menjelang babak 8 besar Piala Bupati Tangerang U-13 & U-15, alarm bahaya justru dibunyikan oleh manajemen BMS FC. Mereka mendesak perangkat pertandingan untuk lebih tegas dalam melindungi keselamatan pemain di atas lapangan.
Desakan ini dipicu oleh insiden tragis yang menimpa pemain U-13 BMS FC, Sandi Permana, yang mengalami patah tulang kaki pada laga babak 16 besar. Kasus ini menambah deretan luka serius di turnamen tersebut, setelah sebelumnya penjaga gawang dari Bintang Kelapa Dua juga menjadi korban dalam situasi pertandingan yang serupa.
Manajemen BMS FC, Raden Lintang Fisutama, menyoroti lemahnya kontrol wasit di lapangan yang membiarkan permainan keras menjurus kasar. Dengan nada sarkastis, Lintang menyebut jika perlindungan fisik pemain tidak diperketat, maka bukan mustahil pemain harus mengenakan peralatan perlindungan bela diri saat bertanding.
”Ini ironi. Anak-anak datang ke sini untuk bermain sepak bola, bukan mengikuti pertandingan bela diri. Jangan sampai orang tua beranggapan bahwa untuk sekadar bertanding di turnamen ini, pemain harus memakai body protector agar tidak pulang dengan cedera serius,” ujar Lintang, Kamis (4/6/2026).
BMS FC menegaskan bahwa kunjungan empati dari jajaran PSSI Kabupaten Tangerang kepada Sandi memang patut diapresiasi. Namun, menurut mereka, kepedulian yang lebih substansial adalah penegakan aturan yang adil selama 2×30 menit pertandingan berlangsung.
”Kami tidak mencari siapa yang salah atau meminta perlakuan istimewa. Kami hanya meminta aturan ditegakkan secara profesional. Jika pelanggaran membahayakan dibiarkan, maka masa depan anak-anaklah yang menjadi taruhannya,” tegas Lintang.
BMS FC berharap babak 8 besar mendatang menjadi momentum bagi seluruh pihak untuk melakukan evaluasi. Bagi mereka, trofi dan gelar juara adalah hal yang bersifat sementara, namun masa depan dan kondisi fisik pemain adalah aset yang tak tergantikan.
”Hari ini Sandi, besok mungkin anak dari keluarga lain. Kami ingin turnamen ini menjadi panggung sportivitas, bukan arena yang menakutkan bagi anak-anak untuk berkembang,” pungkasnya.(zr).










