Rabu, Oktober 7, 2026

Tajuk Rencana: Jakmania di Persimpangan, Menolak Suporter Menjadi Komoditas Politik

Gaya HidupOlah RagaTajuk Rencana: Jakmania di Persimpangan, Menolak Suporter Menjadi Komoditas Politik

Zonarilis.com – ​Pasca-terpilihnya pasangan Pramono Anung–Rano Karno dalam Pilkada Jakarta, narasi mengenai kekuatan “akar rumput” kembali menguat. Di tengah riuh rendah dinamika politik ibu kota, satu entitas kini menjadi pusat perhatian strategis: The Jakmania. Bukan lagi sekadar kelompok suporter yang mendedikasikan suaranya untuk Persija Jakarta, Jakmania kini dipandang sebagai kekuatan massa yang sangat “seksi” dalam kalkulasi politik praktis.

​Fenomena ini adalah pesan tegas: kekuatan suporter hari ini telah melampaui garis tepi lapangan hijau. Mereka adalah sleeping giant yang kini disadari oleh para elite politik sebagai instrumen efektif untuk meraup suara. Namun, di balik potensi tersebut, terdapat “bom waktu” yang mengancam integritas organisasi jika tidak disikapi dengan bijak.

​Politik Praktis dan Ancaman Infiltrasi

​Kekhawatiran publik kini tertuju pada kandidat yang terafiliasi kuat dengan partai politik tertentu. Ketika mesin politik mulai menyasar basis massa sebesar Jakmania, ada upaya sistematis untuk membawa agenda kekuasaan masuk ke dalam struktur organisasi.

BACA JUGA :  Persija Jakarta Ketar-Ketir! Duel Panas Lawan Persib Bandung Terancam Batal di GBK, Pramono Anung Turun Tangan

​Pertanyaannya menjadi sangat krusial: Apakah Mubes atau Pemilu Raya Jakmania ke depan akan menjadi ruang demokrasi suporter yang sehat, atau justru akan disulap menjadi arena pertarungan proksi (proxy war) bagi kepentingan partai?

​Kita harus mewaspadai upaya menjadikan organisasi suporter sebagai “kendaraan” atau alat tawar-menawar kekuasaan. Jika kepentingan partai menyusup ke dalam urat nadi organisasi, independensi yang selama ini menjadi martabat Jakmania akan tergadai. Loyalitas yang seharusnya satu arah—untuk Persija—akan terfragmentasi oleh warna bendera partai yang berbeda-beda.

​Mengembalikan Jakmania ke Khitahnya
​Edukasi politik bagi suporter memang penting, namun menjadi alat politik praktis adalah langkah mundur yang berbahaya. Organisasi suporter yang terjebak dalam pusaran kekuasaan akan kehilangan daya kritisnya terhadap kebijakan yang merugikan kepentingan publik atau nasib klub kebanggaan mereka sendiri.

BACA JUGA :  Gerak Cepat Rano Karno dan Kejujuran Mengungkap Akar Masalah

​Jakmania adalah milik anggotanya, bukan milik segelintir elite yang haus akan sokongan massa. Mubes atau Pemilu Raya mendatang harus menjadi momentum bagi Jakmania untuk menunjukkan kemandiriannya. Ini adalah ujian integritas bagi seluruh pengurus dan anggota:

​Menolak segala bentuk infiltrasi partai yang berusaha memecah belah solidaritas oranye.

​Mengutamakan regenerasi organisasi yang berfokus pada pengembangan komunitas, bukan lobi-lobi politik.

​Menjaga marwah suporter sebagai entitas independen yang tidak bisa “dibeli” oleh janji-janji kekuasaan.

​Jakmania harus sadar bahwa di lapangan politik, suporter seringkali hanya dianggap sebagai “lahan basah” saat masa pemilihan, namun ditinggalkan ketika kepentingan tersebut terpenuhi. Jangan biarkan seragam oranye kebanggaan itu dipinjam oleh pihak-pihak yang hanya ingin menjadikan Jakmania sebagai alat legitimasi kursi kekuasaan.

BACA JUGA :  Dari Nadiem ke Yaqut, Tameng Integritas yang Nyangkut...

​Jika Jakmania gagal menjaga kedaulatannya, maka mereka tidak hanya mengkhianati sejarah panjang organisasi, tetapi juga sedang meruntuhkan fondasi loyalitas tanpa batas yang dibangun dengan keringat dan air mata di tribun stadion.

​Mari kita tanya kembali pada diri kita sendiri: Masihkah Jakmania milik kita, atau kita sudah mulai menjadi properti milik mereka yang berkuasa?(zr).

​#Jakmania #PersijaJakarta #Jakarta #PolitikJakarta #SuporterIndependen #Zonarilis #MenjagaMarwah #SepakBolaIndonesia

spot_img

Simak Konten Lainnya :

Terbaru

Check out other tags:

spot_img
spot_imgspot_img
spot_imgspot_img

Berita Populer