Rabu, Oktober 7, 2026

Parta Ceritakan Perjuangan Pelestari Tari Bali di Kendran

NasionalDaerahParta Ceritakan Perjuangan Pelestari Tari Bali di Kendran

BALI – Anggota DPR RI Dapil Bali, I Nyoman Parta, membagikan kisah inspiratif mengenai semangat pelestarian seni dan budaya Bali melalui akun Instagram pribadinya. Dalam unggahannya, ia mengangkat cerita tentang Banjar Kendran, Desa Kendran, Kecamatan Tegallalang, Gianyar, sebagai sebuah ruang yang terus menjaga denyut kebudayaan Bali melalui generasi mudanya.

Mengawali unggahannya dengan kalimat penuh makna, “Kemanapun langkah kita semoga Kendran selalu menjadi alasan untuk pulang,” I Nyoman Parta mengajak masyarakat melihat bahwa kebudayaan bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan identitas yang harus terus dirawat bersama.

Dalam narasinya, I Nyoman Parta menyoroti bagaimana keadilan dan kesetaraan selalu menjadi bagian penting dalam dunia seni budaya Bali. Menurutnya, seni Bali telah lama menjadi fondasi utama berkembangnya pariwisata budaya di Pulau Dewata. Namun demikian, ia mengingatkan bahwa pembicaraan mengenai seni budaya sering kali hanya berhenti di ruang-ruang diskusi, tanpa benar-benar mendengar suara para pelaku budaya yang bekerja langsung di lapangan.

BACA JUGA :  HGU Habis dan Telantar Tak Perlu Lagi Diberi Hak Pengelolaan

Perspektif inilah yang kemudian diangkat oleh Widya Kendran, mahasiswi Visual Arts di Ringling College of Art and Design, Florida, Amerika Serikat, melalui karya fotografi yang mendokumentasikan kehidupan masyarakat di kampung halamannya.

Widya memilih mendokumentasikan aktivitas Ni Wayan Ayu Agustini atau Ayu, seorang perempuan yang sejak 2015 mendirikan Sekaa Tari Cening Ayu. Sanggar tari tersebut dibangun untuk membangkitkan kembali semangat anak-anak di Banjar Kendran agar mencintai Tari Bali sejak usia dini. Sekaa Tari Cening Ayu terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar menari sekaligus ikut ngayah dalam berbagai upacara keagamaan di Pura Tri Kahyangan maupun Pura Griya Sakti Manuaba.

Bagi Ayu, mengajar tari bukan sekadar aktivitas mengisi waktu. Kecintaannya pada seni yang telah tumbuh sejak remaja membuatnya tetap setia menjadi pelatih, meski pekerjaan itu tidak selalu memberikan keuntungan secara materi.

BACA JUGA :  Warga Apresiasi Pembangunan Jembatan Jalan Pule di Ciracas, Aliran Kali Lancar Jaya

I Nyoman Parta juga mengangkat temuan tim riset “Kisah Kasih” yang mencatat ungkapan masyarakat Kendran, “tuyuh den maan”, yang berarti “yang didapat hanya capeknya saja.” Ungkapan tersebut menggambarkan realitas para pelaku seni tradisi yang sering kali bekerja dengan penuh pengabdian tanpa imbalan yang sepadan.

Namun bagi Ayu dan para pelestari budaya lainnya, menjaga Tari Bali bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan jiwa untuk memastikan tradisi tetap hidup di tengah perubahan zaman. Di era ketika hampir semua aktivitas diukur dengan nilai ekonomi, perjuangan mereka menjadi simbol kepahlawanan masyarakat desa dalam menjaga identitas Bali.

Dalam unggahan tersebut, I Nyoman Parta juga menyampaikan apresiasinya kepada Widya Kendran yang telah mengangkat kisah tersebut melalui sebuah pameran fotografi di Kulidan Kitchen and Space. Menurutnya, karya fotografi tidak hanya menjadi media seni, tetapi juga menjadi dokumentasi penting yang merekam perjuangan masyarakat dalam mempertahankan budaya Bali agar tetap hidup di tengah arus modernisasi.

BACA JUGA :  Dua SPPG di Jakbar Disetop Sementara, KSP Temukan Kondisi Tak Layak

Ia berharap kisah-kisah seperti ini semakin banyak diketahui masyarakat sehingga tumbuh kesadaran bersama untuk menghargai para pelaku seni tradisi yang selama ini bekerja dengan penuh ketulusan.

“Terima kasih Widya telah menjadikan kisah ini dalam bentuk pameran foto,” tulis I Nyoman Parta, seraya menegaskan bahwa kisah Ayu dan para perempuan desa adalah cerita tentang dedikasi, pengabdian, dan cinta kepada budaya Bali yang tidak boleh pernah padam.

spot_img

Simak Konten Lainnya :

Terbaru

Check out other tags:

spot_img
spot_imgspot_img
spot_imgspot_img

Berita Populer