Rabu, Oktober 7, 2026

Ranny Ingatkan Bahaya Abu Vulkanik: Keselamatan Warga yang Utama

NasionalRanny Ingatkan Bahaya Abu Vulkanik: Keselamatan Warga yang Utama

JAKARTA – Rangkaian erupsi yang terjadi di beberapa gunung api di Indonesia dalam waktu berdekatan mendapat sorotan tajam dari DPR RI. Anggota Komisi IX Fraksi Golkar, Ranny Fahd Arafiq, meminta pemerintah meningkatkan level kewaspadaan, terutama pada sektor kesehatan.

Ranny menilai, penanganan bencana erupsi selama ini masih terlalu berfokus pada penyelamatan fisik di lapangan. Padahal, dampak kesehatan akibat paparan abu vulkanik sama berbahayanya dan membutuhkan antisipasi yang matang sejak dini.

Ia mengingatkan, abu vulkanik membawa risiko medis yang tidak bisa dianggap remeh. Jika terhirup dalam jumlah banyak, partikel halus tersebut dapat melukai saluran napas, memicu iritasi mata akut, hingga menimbulkan masalah serius pada kulit.

BACA JUGA :  Jazuli Dorong Penguatan Organisasi dan Kolaborasi Pendidikan di MA

“Jangan disamakan dengan debu biasa. Abu vulkanik itu berbahaya. Bagi warga yang punya asma atau ISPA, paparannya bisa memperparah kondisi kesehatannya secara cepat,” ungkap Ranny dalam keterangannya, Sabtu 6 September 2026.

Untuk mengantisipasi hal itu, Ranny mendesak pemerintah pusat menyiapkan langkah konkret di lapangan. Mulai dari pembagian masker yang layak, penyediaan stok obat, pengerahan tenaga medis, hingga memastikan Puskesmas dan rumah sakit di ring satu erupsi tetap siaga 24 jam.

Ia juga menekankan agar perlindungan ekstra diberikan kepada kelompok yang paling berisiko. Anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penyintas gangguan pernapasan harus diprioritaskan dalam setiap skema perlindungan kesehatan darurat.

Menurutnya, cakupan tanggap darurat harus lebih komprehensif. Selain layanan medis, pemerintah wajib memastikan pasokan air bersih tetap aman, pangan tidak terkontaminasi abu, serta fasilitas sanitasi di lokasi pengungsian tetap higienis.

BACA JUGA :  Jazuli Juwaini: Pelayanan Haji Tahun Ini Harus Lebih Baik dan Lebih Profesional

Keterlambatan sekecil apapun, kata Ranny, bisa berakibat fatal. Oleh karena itu, ia menolak pendekatan menunggu dan melihat, dan meminta semua instansi bergerak sebelum dampak kesehatan meluas di masyarakat.

“Jangan tunggu warga sakit baru kita sibuk. Koordinasi antara pusat, daerah, BNPB, BPBD, Kemenkes dan semua faskes harus kencang sejak awal. Kita butuh tanggap darurat, bukan gagap darurat,” pungkasnya.

spot_img

Simak Konten Lainnya :

Terbaru

Check out other tags:

spot_img
spot_imgspot_img
spot_imgspot_img

Berita Populer