Rabu, Oktober 7, 2026

Kenaikan Laba PIS Nyaris Habis untuk Insentif Petinggi, CBA: Bonus Melonjak Rp214 Miliar Saat Untung Cuma Nambah Rp222 Miliar

NasionalKenaikan Laba PIS Nyaris Habis untuk Insentif Petinggi, CBA: Bonus Melonjak Rp214 Miliar Saat Untung Cuma Nambah Rp222 Miliar

JAKARTA, zonarilis — Lonjakan kinerja keuangan PT Pertamina International Shipping (PIS) sepanjang tahun 2025 menuai sorotan tajam. Di balik pertumbuhan laba bersih yang dibukukan, Center for Budget Analysis (CBA) mendapati adanya pembengkakan anggaran kompensasi bagi jajaran direksi dan komisaris yang dinilai tidak proporsional dan mencederai rasa keadilan publik.

Direktur Eksekutif CBA, Uchok Sky Khadafi, mengungkapkan kritik keras tersebut dalam keterangan resminya pada Senin, 28 September 2026. Menurutnya, tambahan keuntungan yang diperoleh perusahaan pelat merah tersebut seolah-olah hanya tersedot untuk mempertebal kantong para petinggi, alih-alih dialokasikan bagi penguatan ekspansi maupun kepentingan yang lebih luas.

Berdasarkan bedah data keuangan yang dilakukan CBA, laba tahun berjalan PIS pada 2025 tercatat sebesar USD572.478.498, naik dari posisi tahun sebelumnya yang berada di angka USD558.604.027. Artinya, terdapat penambahan laba bersih sebesar USD13.874.471 atau setara dengan kisaran Rp222 miliar (dengan asumsi kurs Rp16.000 per dolar AS).

BACA JUGA :  Hamka Minta Evaluasi Total Keselamatan Pelayaran

Kendati demikian, pertumbuhan laba sekitar Rp222 miliar tersebut hampir tak menyisakan ruang karena beriringan dengan lonjakan beban insentif, bonus, dan tantiem. Tercatat, alokasi untuk pos kompensasi petinggi PIS melonjak dari USD87.320.241 pada 2024 menjadi USD100.733.784 pada 2025. Dengan selisih kenaikan mencapai USD13.413.543—atau setara sekitar Rp214,6 miliar—rasio penyerapan bonus petinggi tercatat memakan hingga 96,7 persen dari total tambahan laba perusahaan.

Uchok turut menyoroti kejanggalan administratif dalam laporan tahunan PIS 2025. Disebutkan bahwa pembayaran bonus kinerja tahun 2024 bagi Dewan Komisaris dan Direksi belum terealisasi lantaran masih menunggu lampu hijau dari pemangku kepentingan. Kendati uangnya belum mengalir keluar dari kas perusahaan, beban kewajiban tersebut telanjur membengkak di dalam struktur laporan keuangan.

BACA JUGA :  Gus Falah Tekankan Pentingnya Pendidikan Moralitas dalam Kepolisian

“Kenaikan insentif, bonus, dan tantiem sekitar Rp214,6 miliar ini benar-benar menguras anggaran. Laba bertambah tipis, tetapi bonus petinggi langsung melompat hampir menyamai nilai tambah keuntungan itu. Petinggi PIS benar-benar tidak punya hati nurani jika menerimanya dengan senang hati,” tegas Uchok.

Ia menambahkan, fenomena ini mencerminkan mentalitas “ambil untung saat ada kesempatan”—di mana para pejabat menikmati limpahan kesejahteraan ketika kinerja positif, namun menyerahkan risiko kerugian kepada negara dan masyarakat.

Atas temuan tersebut, CBA melayangkan desakan kepada Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) agar segera turun tangan melakukan audit dan evaluasi menyeluruh. CBA mengusulkan agar Danantara menginstruksikan Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, untuk menghapus mata anggaran insentif dan tantiem yang menuai kontroversi tersebut demi menegakkan prinsip transparansi, akuntabilitas, dan tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance) di sektor BUMN.(Zr)

BACA JUGA :  Didesak CBA, Dewas KPK Diminta Bongkar Status 10 Klaster Perkara Bea Cukai yang Menggantung
spot_img

Simak Konten Lainnya :

Terbaru

Check out other tags:

spot_img
spot_imgspot_img
spot_imgspot_img

Berita Populer