Rabu, Oktober 7, 2026

Danantara Jadi “Single Exporter”, Ichsanuddin Noorsy: Hanya Solusi Tambal Sulam, Akar Masalah Ekonomi Dibiarkan

Ekonomi dan BisnisDanantara Jadi "Single Exporter", Ichsanuddin Noorsy: Hanya Solusi Tambal Sulam, Akar Masalah Ekonomi Dibiarkan

​JAKARTA, zonarilis.com – Pemerintah resmi meluncurkan PT Danantara Sumber Daya Indonesia sebagai BUMN Khusus Ekspor untuk komoditas strategis. Langkah yang ditujukan untuk mengamankan devisa ini menuai kritik tajam dari analis ekonomi-politik senior, Dr. Ichsanuddin Noorsy. Ia menilai, kebijakan single exporter ini hanyalah solusi fungsional-administratif yang gagal menyentuh akar rapuhnya struktur ekonomi nasional.

​PT Danantara Sumber Daya Indonesia kini ditetapkan sebagai pintu tunggal (single exporter) bagi komoditas strategis nasional, seperti kelapa sawit, batu bara, hingga besi ferro-alloy. Kebijakan yang diumumkan oleh Menko Perekonomian Airlangga Hartarto bersama Menteri Investasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani ini diklaim sebagai instrumen untuk memberantas praktik under-invoicing dan transfer pricing yang selama ini memicu pelarian Devisa Hasil Ekspor (DHE).

BACA JUGA :  CBA Endus Ketidakwajaran Anggaran: KPK Harus Audit Proyek Komputer Kemensos Rp84,9 Miliar

​Namun, bagi Dr. Ichsanuddin Noorsy, kebijakan tersebut terlalu simplistik. Ia menyebut pendekatan pemerintah saat ini hanyalah “penyelesaian fungsional” yang sekadar mengejar dolar, namun abai terhadap penyakit sistemik ekonomi Indonesia.

​”Ini hanyalah upaya mengumpulkan dolar AS hasil ekspor SDA saja. Namun, akar masalah dan fundamental struktural ekonomi kita tetap dibiarkan tidak tersentuh,” ujar Noorsy dalam keterangan resminya, Rabu (20/5/2026).

​Dalam analisis kritisnya, Noorsy membedah enam persoalan fundamental yang seharusnya menjadi prioritas pemerintah dibandingkan sekadar mengatur administrasi ekspor:

  • ​Defisit Neraca Jasa: Masalah kronis yang terus mendera ketahanan eksternal negara.
  • ​Ketergantungan Impor: Belum adanya kemandirian pada sektor energi, bahan baku, hingga bahan penolong industri.
  • ​Beban Utang & Finansialisasi: Ketergantungan pada Surat Berharga Negara (SBN) yang kian menjerat ruang fiskal.
  • ​Ekonomi Khayalan: Ketergantungan berlebih pada sektor moneter semu (seperti SBI).
  • ​Komersialisasi Sektor Publik: Fenomena Financial Fragility yang melemahkan ketahanan ekonomi rakyat.
  • ​Deindustrialisasi Dini: Melemahnya sektor manufaktur yang mengancam produktivitas domestik jangka panjang.
BACA JUGA :  Dipanggil Prabowo ke Istana, Menkes dan Dirut BPJS Bahas Keuangan 2027 hingga Kualitas Layanan

​Noorsy menambahkan, pembentukan BUMN khusus ini akan sia-sia jika pemerintah terus menutup mata terhadap “tujuh kelumpuhan ekonomi” dan “lima penyebab jatuhnya Rupiah”. Menurutnya, kebijakan ekonomi yang diterapkan saat ini belum mampu menjawab realitas ketimpangan sosial-politik di lapangan.

​Ia mendesak pemerintah untuk beralih dari sekadar mengelola logistik ekspor menuju langkah berani dalam mereformasi postur industri dan memutus ketergantungan pada dikte asing.

​”Pemerintah seharusnya berani melakukan reformasi menyeluruh terhadap struktur industri dan jeratan utang. Saatnya rebut kembali kedaulatan ekonomi-politik bangsa yang selama ini terdikte oleh regulasi, akuntabilitas, dan standarisasi asing,” tegas Noorsy.(zr).

spot_img

Simak Konten Lainnya :

Terbaru

Check out other tags:

spot_img
spot_imgspot_img
spot_imgspot_img

Berita Populer