Jakarta, Zonarilis.com – Momentum perayaan May Day (Hari Buruh Internasional) di kawasan Monumen Nasional tahun ini menjadi sinyal kuat transformasi posisi buruh dalam pembangunan nasional. Bendahara Umum Pengurus Besar Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (PB SEMMI) menilai, kehadiran langsung Presiden Prabowo Subianto di tengah ratusan ribu pekerja merupakan simbol pengakuan negara bahwa buruh adalah subjek utama ekonomi, bukan sekadar instrumen produksi.
Pidato Presiden yang keberpihakan pada buruh, terutama dalam menata ulang sistem ketenagakerjaan, dinilai memiliki bobot strategis yang konkret. PB SEMMI menyoroti langkah progresif pemerintah melalui Danantara Indonesia yang mulai mengintervensi struktur kepemilikan platform digital seperti Gojek.
”Negara kini tidak lagi sekadar menjadi regulator yang pasif. Dengan masuknya instrumen negara ke ekosistem digital, ada target konkret untuk menurunkan potongan aplikator hingga ke kisaran 8 persen. Ini adalah langkah nyata dalam membela hak-hak pekerja sektor informal,” ujarAchmad Dony, Bendahara Umum PB SEMMI pada keterangan tertulisnya, Jum”at (01/05/26) di jakarta.
Penurunan beban potongan tersebut diyakini akan berdampak langsung pada peningkatan pendapatan harian para pengemudi ojek online (ojol) yang selama ini memiliki posisi tawar lemah di hadapan dominasi platform swasta. PB SEMMI memandang ini sebagai arah baru kebijakan ekonomi nasional yang lebih berani dan berpihak pada rakyat kecil.
Meski demikian, PB SEMMI memberikan catatan kritis terkait implementasi kebijakan tersebut:
- Transparansi & Akuntabilitas: Intervensi negara melalui Danantara harus dikelola dengan tata kelola yang bersih agar benar-benar menjadi instrumen keadilan sosial, bukan sekadar pengganti kapitalisme swasta.
- Pengawasan Publik: Mahasiswa dan pemuda memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan kebijakan ini tetap pada jalurnya (on-track) sesuai amanat konstitusi.
PB SEMMI menegaskan bahwa semangat May Day tidak boleh berhenti pada seremonial tahunan. Momen ini harus menjadi titik konsolidasi untuk membangun sinergi antara negara, pekerja, dan generasi muda.
”Kami mendorong agar kebijakan yang berpihak pada buruh ini dijalankan secara konsisten dan berintegritas. Ini adalah fondasi penting bagi Indonesia untuk berdaulat secara ekonomi. Mahasiswa akan terus mengawal setiap langkah progresif pemerintah demi masa depan pekerja Indonesia yang lebih bermartabat,” tutupnya.(Red).










