JAKARTA, ZONARILIS.COM – Pasar keuangan domestik menunjukkan sinyal positif dalam beberapa pekan terakhir. Penguatan nilai tukar Rupiah yang dibarengi dengan rebound Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai sebagai bukti nyata solidnya koordinasi antara otoritas fiskal dan moneter di Indonesia.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, mengungkapkan bahwa sentimen investor kini jauh lebih optimis berkat langkah taktis pemerintah dan Bank Indonesia (BI). Menurutnya, kebijakan yang terkoordinasi dengan baik mampu meredam gejolak di tengah ketidakpastian pasar global.
Salah satu indikator utama kembalinya kepercayaan investor adalah membaiknya kurva imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN). Setelah sempat mengalami tekanan arus keluar (outflow) di awal tahun, pasar obligasi kini kembali dibanjiri arus masuk (inflow).
”Kembalinya minat investor asing ke pasar obligasi dalam dua minggu terakhir menjadi bukti bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap dipandang menarik oleh pasar global,” ujar Andry dalam keterangannya, Minggu (28/6/2026).
Bank Mandiri turut mengapresiasi langkah pemerintah yang melakukan efisiensi melalui refocusing anggaran. Dana negara kini lebih difokuskan pada sektor-sektor strategis seperti infrastruktur logistik, telekomunikasi, serta digitalisasi UMKM.
Sementara itu, di sisi moneter, Bank Indonesia dinilai sangat sigap dalam menjaga stabilitas melalui:
- Intervensi pasar valas yang terukur.
- Penguatan pasokan devisa hasil ekspor.
- Perluasan mekanisme Local Currency Transaction (LCT) untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS.
Meski sentimen domestik cenderung membaik, Bank Mandiri mengingatkan agar pelaku pasar tetap waspada. Pasalnya, arah kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Fed) masih menjadi tantangan yang bisa memicu volatilitas mata uang di pasar negara berkembang.
Namun, Bank Mandiri optimistis posisi Indonesia tetap kokoh. Hal ini didukung oleh cadangan devisa yang mencapai USD 144–145 miliar—cukup untuk membiayai lebih dari lima bulan impor—serta proyeksi pertumbuhan ekonomi yang stabil di level 5 persen.
Bank Mandiri memetakan beberapa sektor yang diproyeksikan menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi ke depan, di antaranya:
- Transportasi & Logistik: Mendukung efisiensi rantai pasok.
- Makanan & Minuman: Menopang daya beli masyarakat.
- Perdagangan & Telekomunikasi: Akselerasi ekonomi digital.
- Pertanian & Manufaktur: Fokus pada peningkatan produktivitas melalui insentif fiskal.
”Dengan kebijakan yang terintegrasi dan komunikasi yang transparan, Indonesia memiliki modal kuat untuk terus tumbuh. Jika reformasi struktural terus dipacu, pertumbuhan di atas 5,5 persen bukan hal yang mustahil untuk dicapai dalam jangka panjang,” pungkas Andry.(zr).










