KARANGANYAR, ZONARILIS.COM – Ketua Dewan Pembina NPC Indonesia, Reda Manthovani, resmi memperkenalkan platform digital Jaga Inklusi (JAGAIN) sebagai langkah revolusioner untuk memperkuat ekosistem atlet disabilitas di tanah air. Program ini diluncurkan dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) National Paralympic Committee (NPC) Indonesia di Karanganyar, Rabu (29/4).
Reda menegaskan bahwa digitalisasi data adalah kunci untuk menciptakan pembinaan yang lebih presisi dan transparan. Selama ini, ketimpangan data antara daerah dan pusat masih menjadi tantangan besar dalam memetakan potensi atlet secara nasional.
Melalui platform JAGAIN, NPC Indonesia kini memiliki basis data yang terintegrasi untuk menyatukan standar pembinaan di seluruh provinsi.
“Dengan adanya basis data ini, NPC memiliki legal standing yang kuat dalam melakukan pembinaan yang seragam. Kita ingin memastikan seluruh daerah memiliki kualitas pembinaan yang setara,” ujar Reda Manthovani di hadapan peserta Rakernas.
Fitur Utama Platform JAGAIN:
- Monitoring Real-Time: Memantau program latihan, fasilitas, hingga kendala teknis yang dihadapi atlet di daerah secara cepat.
- Komunikasi Dua Arah: Menghilangkan sekat birokrasi, memungkinkan aspirasi daerah langsung sampai ke tingkat pusat untuk pengambilan kebijakan yang lebih akurat.
- Intervensi Tepat Sasaran: Memastikan distribusi sarana dan prasarana didasarkan pada data kebutuhan riil di lapangan.
Sisi menarik dari program ini adalah pelibatan institusi Kejaksaan RI dalam pengawasan dan pelaksanaan kebijakan. Reda menjelaskan, langkah ini diambil untuk memastikan prinsip kesetaraan dan inklusivitas bagi atlet disabilitas terlindungi secara hukum.
Keterlibatan Kejaksaan ini merujuk pada amanat Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan, yang memberikan ruang bagi institusi tersebut untuk mendukung program strategis pemerintah di bidang sosial dan inklusi.
Langkah digitalisasi ini disambut hangat oleh pengurus daerah, termasuk Ketua NPC Jawa Timur, Imam Kuncoro, dan Ketua NPC Papua Pegunungan, Alex Alua. Mereka menilai JAGAIN sebagai solusi atas keterbatasan akses komunikasi dan sarana yang selama ini dialami daerah pelosok.
Apalagi, Indonesia baru saja menorehkan prestasi gemilang di ASEAN Para Games 2025 dengan raihan 135 medali emas, 143 perak, dan 114 perunggu, melampaui target yang ditetapkan.
“Harapannya, perhatian pemerintah daerah semakin besar melalui data yang transparan ini. Kita ingin atlet disabilitas terus terdorong untuk berprestasi tanpa merasa tertinggal secara fasilitas,” pungkas Reda.(Red).










