JAKARTA, zonarilis.com — Program pengolahan sampah organik berbasis teknologi hydrotermal di Pasar Kramat Jati mendapat respon positif dari banyak pihak. Pasalnya pengelolaan sampah di pasar tradisional terbesar itu turut melibatkan masyarakat setempat dan para pedagang.
Ketua Umum Forum Betawi Rempug (FBR), KH Lutfi Hakim, menyatakan dukungan penuh saat mendampingi gubernur dalam peninjauan langsung di lokasi.
KH Lutfi Hakim mengapresiasi pelibatan masyarakat, khususnya para pedagang, dalam pengelolaan sampah dari sumbernya. Selain itu ia menjelaskan, teknologi hydrotermal juga merupakan salah satu upaya FBR ikut andil dalam membantu pemerintah daerah dalam menangani persoalan sampah.
“Pelibatan masyarakat ini sangat penting. Pedagang tidak hanya membuang sampah, tapi ikut memilah dan menjadi bagian dari solusi, untuk saat ini ujicoba baru 5 ton, kedepan akan bisa mengkonversi 50 ton sampah perhari di kawasan pasar Induk,” ujarnya, Senin (11/5/2026)
Ia juga menilai penggunaan teknologi hydrothermal sebagai langkah tepat dalam mengatasi persoalan sampah organik di Jakarta.
“Dengan konsep hydrothermal, sampah bisa diolah lebih cepat menjadi pupuk cair dan padat hanya dalam waktu 2 jam, yang tentunya bermanfaat. Ini solusi konkret yang harus kita dukung,” katanya.
Secara teknis, metode hydrothermal merupakan proses pengolahan sampah organik dengan menggunakan tekanan dan suhu tinggi di dalam reaktor tertutup. Sampah yang sudah dipilah dimasukkan ke dalam mesin, lalu dipanaskan dengan uap air hingga terurai secara cepat tanpa proses pembakaran.
Dalam waktu relatif singkat, material organik tersebut berubah menjadi produk turunan seperti pupuk cair organik (POC) dan residu padat yang bisa dimanfaatkan sebagai kompos atau bahan pupuk.
Selain mempercepat proses penguraian, metode ini juga mampu mengurangi bau dan volume sampah secara signifikan.
Menurut KH Lutfi, teknologi ini cocok diterapkan di kawasan padat seperti pasar karena prosesnya cepat, tidak membutuhkan lahan luas, dan hasilnya langsung bisa dimanfaatkan.
“Ini sangat relevan untuk kota seperti Jakarta. Cepat, efisien, dan hasilnya bisa langsung dirasakan masyarakat,” tambahnya.
Program ini mengandalkan pemilahan sampah oleh pedagang sebelum diolah, sehingga menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi dari hulu ke hilir. Pemerintah berharap model ini dapat diperluas ke berbagai titik lain di ibu kota sebagai solusi berkelanjutan. ***










