JAKARTA — Korps HMI-Wati (KOHATI) HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) Cabang Jakarta Selatan sukses menyelenggarakan kegiatan Latihan Khusus KOHATI (LKK) dengan mengusung tema “Kepemimpinan Perempuan: Dari Kapasitas Menuju Kemandirian. Belajar dari Realitas, Bergerak dengan Nilai Insan Cita.” Kegiatan ini menitikberatkan pada penguatan kapasitas intelektual, kepemimpinan strategis, serta kemandirian ekonomi kader perempuan HMI pada Sabtu (5/9).
Hadir sebagai narasumber utama, Ketua Umum INKOWAPI sekaligus Founder SAHARA, Ir. Sharmila Yahya, M.Si, menyampaikan materi mendalam mengenai realitas pemberdayaan perempuan di lapangan. Berdasarkan pengalamannya mendampingi pelaku UMKM, koperasi, dan warung rakyat, Sharmila menegaskan bahwa kerja keras kaum perempuan belaka tidaklah cukup tanpa didukung oleh akses, jaringan, dan kemampuan mengambil keputusan strategis.
“Kerja keras belum tentu membuat perempuan berdaya. Daya tumbuh ketika kemampuan, akses, dan kesempatan bertemu. Kemandirian ekonomi memperluas pilihan dan memperkuat keberanian mengambil keputusan.” kata Sharmila yang juga Alumni HMI ini.

Sharmila juga menambahkan bahwa modal finansial bukanlah satu-satunya jawaban atas persoalan ekonomi perempuan. Aspek lain seperti kualitas produk, legalitas, literasi digital, hingga kemampuan membaca pasar sangat menentukan keberhasilan kemandirian seorang perempuan. Oleh karena itu, organisasi seperti KOHATI memiliki peran vital sebagai laboratorium kaderisasi untuk melatih kepemimpinan yang solutif, kolaboratif, dan berintegritas.
“Jangan menunggu momentum itu datang baru mempersiapkan diri. Persiapkan diri sekarang, agar ketika ruang kepemimpinan terbuka, perempuan KOHATI tidak hanya siap hadir—tetapi siap mengambil tanggung jawab. Kapasitas, teknologi, jaringan, dan kemandirian ekonomi yang kalian bangun hari ini bukan hanya untuk keberhasilan pribadi, melainkan bekal ketika bangsa memanggil!” tambah Sharmila di hadapan peserta dari Cabang-cabang HMI Se-Indonesia yang hadir.
Melalui forum LKK ini, para kader mampu memanfaatkan kemajuan teknologi, memperkuat jaringan profesional, serta mengintegrasikan nilai-nilai keislaman sebagai fondasi moral dalam menjawab berbagai tantangan zaman, demi mewujudkan keseimbangan baru dalam kepemimpinan bangsa yang lebih berempati dan berdampak nyata.(RZ)










