JAKARTA, Zonarilis.com – Mungkin kamu sering mendengar beredarnya ungkapan di media sosial yang menyebut “jika emas atau logam mulia ditemukan di tanah, maka menjadi milik negara, tapi jika ada ganja di tanah mu maka itu menjadi milik mu,” demikian bunyi kalimat tersebut yang membuat kita sedikit terpana dan membenarkan.
Seperti hari ini di Myanmar, yang kembali menjadi sorotan dunia setelah mengumumkan penemuan rubi raksasa seberat 11.000 karat atau sekitar 2,2 kilogram. Batu berwarna merah keunguan tersebut ditemukan di kawasan Mogok, wilayah Mandalay yang sejak lama dikenal sebagai salah satu pusat batu mulia dunia.
Temuan ini langsung menyita perhatian karena disebut sebagai salah satu rubi paling langka dalam beberapa dekade terakhir. Kementerian Penerangan Myanmar dalam pernyataan resminya menyebut batu tersebut sebagai “sangat besar, langka, dan sulit ditemukan”.
Pemerintah juga menyatakan kualitasnya berpotensi melampaui temuan rubi 21.450 karat yang ditemukan pada 1996 di wilayah yang sama, meski nilai ekonominya belum diumumkan.
Hingga kini, belum diketahui pihak pertama yang menemukan batu permata raksasa tersebut. Namun sesuai regulasi di Myanmar, setiap penemuan batu berharga wajib dilaporkan kepada pemerintah pusat yang saat ini berada di bawah kendali junta militer.
Menariknya, penemuan ini terjadi di wilayah yang sebelumnya kerap mengalami ketegangan politik. Sejumlah pengamat menyebut, dinamika konflik lokal di Myanmar sering kali beririsan dengan perebutan kendali sumber daya alam, termasuk batu mulia.
Setelah diumumkan, rubi tersebut langsung diklaim sebagai milik negara sesuai aturan yang berlaku.
Myanmar telah lama dikenal sebagai salah satu produsen utama batu mulia dunia, terutama rubi dan giok. Namun industri ini juga dibayangi oleh persoalan serius, mulai dari tambang ilegal hingga konflik berkepanjangan di dalam negeri.
Wilayah Mogok sendiri sudah berabad-abad dikenal sebagai penghasil rubi berkualitas tinggi yang dipasok ke pasar global.
Rubi, Batu Mulia Kelas Dunia. Rubi (ruby) sendiri sejak lama masuk dalam kategori batu permata paling berharga di dunia, sejajar dengan safir dan zamrud dalam kelompok precious gemstones.
Dalam tradisi sejarah Islam, rubi kerap disebut dengan istilah “yaqut”, yang menggambarkan batu berwarna merah indah dan bernilai tinggi. Dalam berbagai literatur klasik, permata ini juga kerap dihubungkan dengan gambaran kemewahan dan keindahan, bahkan disebut sebagai bagian dari deskripsi kenikmatan dalam beberapa riwayat dan teks keagamaan lain.
Namun perlu diluruskan, rubi tidak secara eksplisit disebutkan dalam Al-Qur’an. Kitab suci tersebut lebih banyak menyebut permata seperti mutiara (lu’lu) dan marjan (koral), sementara rubi lebih banyak muncul dalam literatur tafsir dan karya ulama klasik sebagai bagian dari deskripsi kekayaan alam dan keindahan ciptaan Tuhan.
Di era modern, rubi tetap menjadi salah satu batu permata paling mahal di dunia, terutama jenis dengan warna merah “pigeon blood” yang sangat langka dan bernilai tinggi di pasar internasional.
Wilayah Mogok selama ini menjadi pusat perhatian industri batu mulia global. Namun di balik kekayaan alamnya, kawasan ini juga kerap menjadi sorotan karena praktik penambangan yang tidak transparan serta tarik-menarik kepentingan antara negara, militer, dan penambang lokal.
Dengan ditemukannya rubi raksasa ini, Myanmar kembali masuk radar pasar batu mulia dunia. Di sisi lain, temuan ini juga memunculkan pertanyaan baru: siapa yang akan mengendalikan dan menikmati nilai ekonomi dari salah satu batu permata terbesar yang pernah ditemukan. ***
Sumber : Bloomberg










