Rabu, Oktober 7, 2026

Saat Kota-kota Dunia Berjuang Melawan Panas Ekstrem

InternasionalSaat Kota-kota Dunia Berjuang Melawan Panas Ekstrem

JAKARTA, zonarilis.com – Panas ekstrem akibat perubahan iklim semakin menjadi tantangan bagi kota-kota di berbagai belahan dunia. Tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, suhu yang terus meningkat juga berdampak pada kesehatan, produktivitas kerja, hingga kualitas hidup warga perkotaan.

Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) mencatat sekitar 2,4 miliar pekerja atau lebih dari 70 persen angkatan kerja global harus menghadapi paparan panas ekstrem hampir sepanjang tahun. Kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, masyarakat berpenghasilan rendah, dan pekerja lapangan menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya.

Menghadapi kondisi tersebut, sejumlah kota di dunia mulai menerapkan berbagai strategi adaptasi untuk menekan dampak panas ekstrem sekaligus meningkatkan ketahanan wilayah perkotaan terhadap perubahan iklim.

Di Paris, Prancis, pemerintah kota melakukan simulasi skenario suhu hingga 50 derajat Celsius guna menguji kesiapan sistem tanggap darurat. Selain itu, Paris memperluas kawasan hutan kota, memperbanyak ruang terbuka hijau, menghijaukan sekolah dan kawasan permukiman, serta menambah elemen air dan material reflektif untuk membantu menurunkan suhu lingkungan.

BACA JUGA :  Buka Forum Dialog Perdamaian Global, HNW Ajak Dunia Bangun Perdamaian Berkeadilan

Sementara itu, Chennai dan sejumlah kota lain di India menerapkan Rencana Aksi Panas atau Heat Action Plan. Program ini mencakup sistem peringatan dini, kampanye edukasi masyarakat, penyediaan tempat pendinginan sementara, akses air bersih, hingga perlindungan bagi kelompok rentan saat gelombang panas terjadi. Chennai juga mulai mengintegrasikan ketahanan terhadap panas dalam rencana pembangunan kota jangka panjang.

Di Brasil, kota-kota seperti Teresina mengandalkan solusi berbasis alam untuk mengurangi suhu perkotaan. Hutan kota, taman, lahan basah, sungai, dan koridor hijau dimanfaatkan sebagai infrastruktur alami yang mampu menurunkan suhu sekaligus meningkatkan kualitas udara dan mengurangi risiko banjir.

Langkah serupa dilakukan Yangzhou, China. Kota ini mengintegrasikan adaptasi perubahan iklim dalam perencanaan pembangunan melalui restorasi lahan basah, pengembangan taman ekologi, serta penerapan konsep kota spons yang memungkinkan air hujan terserap lebih baik dan membantu menekan efek pulau panas perkotaan.

BACA JUGA :  Jakarta Optimalkan AI dan Teknologi Digital, Target Masuk Top 20 Kota Global

Di Afrika, Lagos, Nigeria, menjalankan program penghijauan skala besar untuk menghadapi peningkatan suhu akibat urbanisasi yang pesat. Sejak 2008, pemerintah setempat telah menanam lebih dari 6,2 juta pohon dan membangun 327 taman serta kebun kota. Program tersebut menjadi salah satu upaya penghijauan perkotaan terbesar di benua Afrika.

Melalui Rencana Adaptasi dan Ketahanan Iklim, Lagos juga menargetkan penanaman 50 ribu pohon tahan iklim setiap tahun serta pemulihan ratusan taman kota guna membantu menurunkan suhu lingkungan. Sistem peringatan dini juga terus dikembangkan untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi gelombang panas.

Berbagai upaya tersebut menunjukkan bahwa penanganan panas ekstrem tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga memerlukan perencanaan kota yang berkelanjutan, penambahan ruang hijau, serta kebijakan yang melindungi kelompok masyarakat paling rentan. Dengan langkah yang tepat, kota-kota di dunia berupaya menjaga kualitas hidup warganya di tengah ancaman perubahan iklim yang semakin nyata.

BACA JUGA :  Myanmar Temukan Rubi Raksasa 11.000 Karat, Salah Satu Batu Paling Langka di Dunia

 

spot_img

Simak Konten Lainnya :

Terbaru

Check out other tags:

spot_img
spot_imgspot_img
spot_imgspot_img

Berita Populer