Rabu, Oktober 7, 2026

Pemuda Adat Papua Deklarasikan Gerakan Aksi Iklim dari Kampung untuk Kampung

NasionalPemuda Adat Papua Deklarasikan Gerakan Aksi Iklim dari Kampung untuk Kampung

JAKARTA, zonarilis.com – Bertepatan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada 5 Juni 2026, puluhan pemuda adat dari wilayah Domberai dan Kepala Burung, Tanah Papua, mendeklarasikan gerakan “Aksi Iklim dari Kampung untuk Kampung” sebagai upaya memperkuat perlindungan hutan hujan tropis dan wilayah adat dari berbagai ancaman kerusakan lingkungan.

Deklarasi tersebut menjadi bentuk konsolidasi pemuda adat untuk mendorong aksi nyata penyelamatan lingkungan berbasis komunitas. Gerakan ini menekankan bahwa perlindungan iklim tidak hanya bergantung pada kebijakan tingkat nasional maupun internasional, tetapi juga pada peran masyarakat yang hidup dan menjaga wilayahnya secara langsung.

Dalam pernyataannya, para pemuda adat menegaskan bahwa “Aksi Iklim dari Kampung untuk Kampung” merupakan ruang solidaritas antar-komunitas untuk saling menguatkan, berbagi strategi advokasi, memetakan wilayah adat secara mandiri, serta membangun kesadaran kolektif mengenai pentingnya menjaga hutan dan sumber daya alam.

BACA JUGA :  BPJS Kesehatan Sabet "Investortrust Best Insurance 2026", JKN Jangkau Hampir 98% Penduduk Indonesia

Mereka menilai keadilan iklim hanya dapat terwujud apabila keberadaan masyarakat adat beserta pengetahuan tradisionalnya diakui dan dilindungi. Gerakan tersebut juga menolak berbagai pendekatan mitigasi perubahan iklim yang dinilai mengabaikan hak-hak masyarakat adat atas wilayah kehidupannya.

“Sejak tahun 1972, tanggal 5 Juni diperingati sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Momentum ini menjadi pengingat untuk merefleksikan cara kita memperlakukan lingkungan dan menentukan langkah nyata dalam merawat bumi,” ujar perwakilan pemuda adat dalam keterangannya.

Dalam aksi tersebut, pemuda adat dari kawasan Kepala Burung Papua juga menyuarakan penghentian praktik deforestasi, ekspansi industri berbasis bahan bakar fosil, pertambangan, serta berbagai aktivitas yang dinilai mengancam keberlangsungan hutan dan wilayah adat.

BACA JUGA :  Utang PLN Tembus Rp804 Triliun, Direktur Utama Darmawan Prasodjo Didesak Segera Dievaluasi

Menurut mereka, krisis iklim bukan sekadar persoalan kenaikan suhu global atau target penurunan emisi, melainkan realitas yang berdampak langsung pada hilangnya ruang hidup, berkurangnya sumber pangan, serta terancamnya identitas budaya masyarakat adat.

Para peserta aksi menilai gerakan berbasis kampung menjadi semakin penting di tengah meningkatnya tekanan terhadap ekosistem Papua yang selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan hutan hujan tropis terbesar dan paling kaya keanekaragaman hayati di dunia. ***

spot_img

Simak Konten Lainnya :

Terbaru

Check out other tags:

spot_img
spot_imgspot_img
spot_imgspot_img

Berita Populer