JAKARTA, zonarilis.com – Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama 2026 menjadi forum strategis dalam membahas arah kepemimpinan serta strategi organisasi menghadapi tantangan zaman.
Dalam Sidang Pleno II yang digelar di Pondok Pesantren Al Falah, Ploso, Kediri, dua tokoh senior Pengurus Besar PBNU, yakni KH Afifuddin Muhajir dan KH Anwar Iskandar, menyampaikan pandangan terkait prinsip dasar organisasi serta agenda strategis ke depan.
Wakil Rais Aam PBNU KH Afifuddin Muhajir menegaskan bahwa dalam tubuh NU terdapat prinsip yang bersifat tetap (harga mati) dan ada pula yang bersifat fleksibel mengikuti perkembangan zaman.
Ia menyebut terdapat empat prinsip utama yang tidak berubah, yaitu Qanun Asasi beserta mukadimah dan ushulnya, posisi NU sebagai jam’iyyah ijtima’iyyah bukan partai politik, komitmen terhadap Pancasila, serta ideologi Ahlussunnah wal Jamaah.
“Yang menjadi perdebatan adalah apakah mekanisme pemilihan kepemimpinan termasuk hal yang tetap atau bisa beradaptasi,” ujarnya.
Menurutnya, tujuan organisasi bersifat tetap, sedangkan mekanisme dapat menyesuaikan kebutuhan zaman, dengan tetap berlandaskan prinsip musyawarah.
“Dalam Islam, musyawarah menjadi prinsip utama dalam pengambilan keputusan, termasuk dalam memilih pemimpin,” tambahnya.
Ia juga menegaskan bahwa pembahasan terkait sistem Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) maupun mekanisme pemilihan lainnya akan dibahas melalui forum resmi organisasi pada muktamar mendatang.
Sementara itu, KH Anwar Iskandar menilai Munas-Konbes tidak hanya menjadi forum konsolidasi internal, tetapi juga wadah merespons berbagai persoalan kebangsaan.
Ia menekankan bahwa NU memiliki tanggung jawab moral terhadap umat, bangsa, dan negara.
“Persoalan bangsa yang kompleks menjadi bagian dari tanggung jawab NU,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya optimalisasi lembaga filantropi seperti Lazisnu untuk mendukung sektor pendidikan dan kesehatan warga NU yang masih perlu penguatan.
Selain itu, ia menekankan pentingnya adaptasi dakwah di era digital.
“Tidak ada yang bisa lepas dari dunia digital saat ini. Metode dakwah juga harus menyesuaikan,” katanya.
Menurutnya, generasi muda atau Gen Z akan menjadi penentu masa depan bangsa sehingga NU perlu hadir lebih aktif di ruang digital.
Ia juga mendorong penguatan koordinasi potensi sumber daya manusia NU yang tersebar di berbagai sektor seperti pendidikan, kesehatan, bisnis, teknologi, dan pertanian.
“Potensi besar ini perlu dikoordinasikan agar memberi manfaat lebih luas,” ujarnya.
Munas-Konbes NU 2026 diharapkan menghasilkan rumusan strategis yang mampu memperkuat konsolidasi organisasi sekaligus menjawab tantangan zaman di tingkat nasional. ***










