Rabu, Oktober 7, 2026

Habib Salim Bin Jindan: Jangan Terprovokasi Isu Hoaks, Jaga Persatuan Jelang Muktamar ke-35 NU

NasionalHabib Salim Bin Jindan: Jangan Terprovokasi Isu Hoaks, Jaga Persatuan Jelang Muktamar ke-35 NU

​JAKARTA, Zonarilis.com – Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), tensi dinamika internal organisasi kian memanas. Menyusul penetapan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, sebagai tuan rumah Muktamar oleh rapat gabungan Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU pada 7 Juli 2026, muncul berbagai respon di akar rumput.

​Di tengah situasi tersebut, beredar sebuah dokumen berjudul “Pernyataan Sikap” yang mengatasnamakan PWNU DKI Jakarta dan PCNU se-DKI Jakarta. Dokumen tersebut berisi tudingan adanya tindakan intimidasi oleh oknum PBNU.

​Menanggapi hal tersebut, pemerhati Nahdlatul Ulama, Habib Salim bin Shalahuddin bin Salim bin Ahmad bin Jindan, angkat bicara pada Rabu (8/7/2026). Ia secara tegas menyebut dokumen tersebut sebagai produk hoaks yang bertujuan merusak marwah organisasi.

BACA JUGA :  Peringati G30S/PKI, Adde Rosi: Jaga Persatuan dan Jadikan Pancasila Benteng Berbangsa

​”Setelah saya cermati, dokumen tersebut tidak memiliki legalitas administratif. Tidak ada tanda tangan Ketua PWNU, Sekretaris, Rais Syuriyah, maupun Katib. Ini membuktikan bahwa surat itu bukan produk resmi PWNU DKI Jakarta,” tegas Habib Salim.

​Habib Salim menduga dokumen tersebut sengaja disebarkan oleh pihak-pihak yang berniat jahat untuk memecah belah keutuhan Nahdlatul Ulama. “Saya mengimbau seluruh warga Nahdliyin agar tidak terprovokasi oleh narasi adu domba. Kita harus cerdas memilah informasi agar tidak menjadi alat bagi mereka yang ingin menghancurkan marwah jam’iyyah,” lanjutnya.

​Untuk meredam spekulasi, Habib Salim mengajak warga Nahdliyin untuk menilik kembali proses pengambilan keputusan yang sempat diwarnai dinamika di Munas-Konbes, Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, Kediri.

BACA JUGA :  Dinilai "Sakit Jiwa" dalam Penanganan Korupsi, Aliansi Seniman Ngeyel Indonesia Ancam Geruduk KPK

​Beberapa poin krusial yang perlu dipahami warga Nahdliyin, di antaranya:

  • ​Proses Survei Kelayakan: Sejak awal, Rais Aam PBNU menegaskan bahwa penentuan lokasi Muktamar tidak dilakukan sepihak, melainkan harus melalui proses survei kelayakan yang objektif.
  • ​Lima Opsi Wilayah: Forum di Ploso menyepakati lima wilayah kandidat—NTB, Jawa Timur, Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Sumatera Barat—sebagai lokasi potensial yang kemudian ditinjau oleh tim khusus PBNU.
  • ​Penyesuaian Jadwal: Meski jadwal awal Muktamar direncanakan pada 1–5 Agustus 2026, PBNU melakukan penyesuaian teknis guna memastikan kelancaran acara.

​Habib Salim menekankan bahwa pemilihan Tambakberas, Jombang, memiliki nilai historis yang kuat karena didirikan oleh KH. Abdul Wahab Chasbullah, salah satu pendiri utama NU. Baginya, perbedaan pendapat adalah bagian dari dialektika, namun persatuan tetap berada di atas segalanya.

BACA JUGA :  Local Pride Jember! Modal KUR BNI Rp200 Juta Bikin Bisnis Sapu Ijuk Ken Dedes Makin Menyala

​”Saya mengajak seluruh elemen Nahdliyin untuk kembali pada komitmen jam’iyyah. Mari kita hormati keputusan rapat gabungan Syuriyah dan Tanfidziyah. Semoga Muktamar ke-35 berjalan sukses, penuh berkah, dan dilaksanakan dengan kebijaksanaan demi kemaslahatan umat dan bangsa,” tutup Habib Salim.(zr).

spot_img

Simak Konten Lainnya :

Terbaru

Check out other tags:

spot_img
spot_imgspot_img
spot_imgspot_img

Berita Populer