JAKARTA — Talkshow kedua yang diselenggarakan oleh Cooptv pada Jumat, 7 Juli 2026, mengangkat tema menarik seputar “Peluang dan Tantangan KDMP” (Koperasi Desa/Kawasan Mandiri Pangan). Acara ini menghadirkan Bapak Alwin Fajrie Siregar, SE., Pendamping KDMP Mockup Girimukti yang berlokasi di Cilograng, Lebak, Banten, sebagai narasumber utama.
Diskusi interaktif ini membedah perjalanan implementasi KDMP di lapangan, mulai dari model bisnis, potensi lokal yang luar biasa, hingga berbagai tantangan birokrasi dan administratif yang harus dihadapi.
Potensi Unggulan Daerah dan Model Bisnis KDMP
Dalam pemaparannya, Bapak Alwin membagikan pengalamannya setelah terakhir kali turun langsung ke lapangan bulan lalu. KDMP Girimukti berdiri di atas lahan seluas 1.000 meter persegi dengan luas bangunan 800 meter persegi, yang lahannya dibeli di Jalan Simpang Desa. Pusat Hub KDMP di wilayah ini sebelumnya telah diresmikan secara langsung oleh Menteri terkait.
Lebak, Banten, dikenal memiliki potensi alam yang sangat kaya dan unik. Bapak Alwin menggambarkan potensi tersebut dengan istilah kultural:
”Di atas aren, di bawah emas.”
Beberapa poin penting mengenai potensi dan operasional bisnis KDMP meliputi:
• Komoditas Unggulan: Gula aren asal Lebak dinilai sebagai salah satu yang terbaik di Indonesia. Dukungan dan kreativitas anak muda setempat seperti Asep Kurnia. Pabrik aren binaan mereka saat ini bahkan telah merangkul 300 warga binaan.
• Model Bisnis Inovatif: KDMP mengadopsi model bisnis yang fleksibel, mulai dari sistem Aman Mart, COD, hingga sistem inden (contohnya pembayaran susu Ultra yang dilakukan dua minggu sebelumnya). Sistem pembayaran di gerai juga sudah modern, menerima transaksi tunai (Cash) maupun QRIS.
• Mitra, Bukan Pesaing: Di wilayah tersebut, terdapat sekitar 63 warung warga. Bapak Alwin menegaskan bahwa KDMP tidak boleh menjadi pesaing warung, melainkan hadir sebagai supplier yang mensuplai kebutuhan warung-warung lokal tersebut.
Skala Ekonomi dan Angka Fantastis
Keberadaan KDMP terbukti memberikan dampak ekonomi yang masif bagi perputaran uang di perdesaan. Berdasarkan data operasional:
• Omset di tingkat Hub utama mencapai Rp120 juta per hari.
• Omset di masing-masing unit KDMP berkisar antara Rp5 juta hingga Rp10 juta per hari tergantung potensi daerahnya.
Perbedaan mendasar juga digarisbawahi antara BUMDes dan KDMP: BUMDes adalah milik desa, sementara KDMP sepenuhnya milik masyarakat.
Tantangan di Lapangan dan Harapan ke Depan
Meski mencatatkan angka omset yang menggiurkan, pengembangan KDMP tidak luput dari hambatan. Bapak Alwin mengungkapkan beberapa kendala krusial yang dihadapi di antaranya:
1. Persyaratan Administratif: Kompleksitas persyaratan dari Kementerian dan LPDB (Lembaga Pengelola Dana Bergulir).
2. Ketatnya Regulasi Pengurus: Adanya aturan bahwa pengurus dan pengawas tidak boleh memiliki catatan BI checking (SLIK OJK) yang bermasalah.
3. Potensi Hambatan Sosial: Adanya tantangan dari keberadaan tambang liar di sekitar wilayah operasional.
Menutup sesinya, Bapak Alwin menyampaikan harapan besar agar KDMP dapat menjadi jalan keluar yang efektif dalam mengembangkan produk lokal. Ia juga menekankan perlunya monitoring KDMP di tingkat provinsi guna memastikan keberlanjutan program.
Kehadiran KDMP selaras dengan arahan Presiden untuk menstabilkan harga dan menjamin ketersediaan produk pangan di tengah masyarakat, sekaligus membangun ekosistem ekonomi kerakyatan jangka panjang.(ok)










