Rabu, Oktober 7, 2026

Ketum Pemuda LIRA: Perdamaian Harus Dimulai dari Melindungi Anak dan Perempuan

UncategorizedKetum Pemuda LIRA: Perdamaian Harus Dimulai dari Melindungi Anak dan Perempuan

JAKARTA — Peringatan Hari Perdamaian Internasional setiap 21 September seharusnya tidak berhenti pada seruan untuk menghentikan perang dan konflik bersenjata. Perdamaian, menurut Ketua Umum DPP Pemuda LIRA Habibie Mahabbah, SIP, MM harus diterjemahkan ke dalam tindakan nyata, terutama memastikan anak-anak dan perempuan terbebas dari kekerasan.

Habibie mengatakan, dunia tidak dapat berbicara terlalu jauh mengenai perdamaian apabila kekerasan masih terjadi di rumah, sekolah, lingkungan masyarakat, ruang digital, hingga wilayah konflik.

“Jangan kita bicara terlalu tinggi tentang perdamaian dunia kalau anak-anak di sekitar kita masih takut, perempuan masih menjadi korban kekerasan, dan ruang sosial kita masih dipenuhi kebencian. Perdamaian harus dimulai dari manusia yang paling dekat dengan kita,” kata Habibie dalam refleksinya menyambut Hari Perdamaian Internasional 21 September 2026.

Habibie yang merupakan mantan Bendahara Umum PB HMI dan mantan Wakil Sekjen DPP KNPI tersebut menilai generasi muda harus ditempatkan sebagai bagian penting dalam gerakan perdamaian. Terlebih, saat ini anak muda hidup di tengah perkembangan teknologi yang memungkinkan pesan perdamaian menyebar sangat cepat, tetapi pada saat yang sama juga dapat mempercepat penyebaran kebencian, hoaks, perundungan dan provokasi.

Selain aktif dalam gerakan kepemudaan, Habibie juga dipercaya sebagai Ketua Umum Persigawa, sehingga ia melihat olahraga, komunitas dan organisasi pemuda sebagai ruang strategis untuk membangun karakter generasi yang menjunjung sportivitas dan menolak kekerasan.

Perdamaian Bukan Sekadar Tidak Ada Perang

Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapkan 21 September sebagai Hari Perdamaian Internasional. Untuk 2026, PBB mengangkat tema “Invest in Peace: For Everyone, Everywhere, Every Day” atau “Berinvestasi pada Perdamaian: Untuk Semua, Di Mana Saja, Setiap Hari.”

PBB menekankan bahwa perdamaian lebih luas daripada sekadar tidak adanya perang. Perdamaian juga merupakan pengalaman hidup yang ditandai dengan rasa aman, martabat, kesempatan dan kerja sama. PBB pada 2026 juga menyoroti peran para everyday architects of peace, yakni masyarakat, relawan, komunitas dan berbagai kelompok yang membangun perdamaian dari tingkat paling bawah.

Bagi Habibie, gagasan tersebut sangat relevan dengan kondisi Indonesia. Di mana menurut dia, membangun perdamaian berarti memastikan masyarakat memiliki ruang aman untuk hidup, bekerja, belajar, beribadah, berorganisasi dan berpendapat tanpa ancaman kekerasan.

“Perdamaian harus terasa di rumah. Harus terasa di sekolah. Harus terasa di kampus. Harus terasa di tempat kerja, di lapangan olahraga dan bahkan di media sosial. Kalau rasa aman itu tidak ada, maka perdamaian masih menjadi pekerjaan rumah,” ujarnya.

Anak-Anak Tidak Boleh Menjadi Korban Kekerasan

Habibie secara khusus menyoroti perlindungan anak. Komisi Perlindungan Anak Indonesia atau KPAI dalam laporan pengawasan Januari-April 2026 mencatat 426 kasus pengaduan. KPAI menyebut persoalan yang ditemukan mencakup pengasuhan bermasalah, kekerasan fisik dan psikis, kejahatan seksual terhadap anak serta ancaman konten digital berbahaya.

KPAI juga menegaskan bahwa kerentanan anak tidak hanya berada di ruang publik, tetapi dapat muncul di keluarga, satuan pendidikan, ruang digital dan lembaga pengasuhan.

BACA JUGA :  Nasril Bahar: Kebijakan Pengetatan DHE Ini Langkah Tegas Merespons Evaluasi Ekspor Rugikan Keuangan Negara oleh Pengusaha Nakal

Bagi Habibie, fakta tersebut harus menjadi alarm bersama. Anak, kata dia, seharusnya menjadi kelompok yang paling mendapatkan perlindungan karena mereka merupakan generasi yang akan menentukan masa depan bangsa.

“Anak-anak tidak boleh menjadi korban kegagalan orang dewasa mengelola konflik. Mereka tidak boleh menjadi korban amarah, kekerasan, eksploitasi atau kebencian. Kita punya kewajiban moral untuk memastikan mereka tumbuh dalam lingkungan yang aman, sehat dan penuh kasih sayang,” katanya.

Ia mendorong keluarga, sekolah, pemerintah, aparat penegak hukum, organisasi masyarakat, media dan komunitas pemuda memperkuat sistem pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap anak.

Lebih lanjut, Habibie menjelaskan, perlindungan anak bukan hanya tugas lembaga negara, tetapi tanggung jawab seluruh masyarakat.

Kekerasan terhadap Perempuan Tidak Boleh Dianggap Persoalan Domestik

Habibie juga memberikan perhatian khusus terhadap kekerasan terhadap perempuan. Berdasarkan CATAHU 2025 yang dirilis Komnas Perempuan pada 2026, sepanjang 2025 tercatat 376.529 kasus Kekerasan Berbasis Gender terhadap Perempuan (KBGtP). Angka tersebut meningkat 14,07 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sebanyak 337.961 kasus atau 89,76 persen berada di ranah personal.

Data tersebut, menurut Habibie, memperlihatkan bahwa agenda perdamaian harus masuk hingga ke dalam keluarga dan relasi personal.

“Rumah semestinya menjadi tempat paling aman. Karena itu, ketika kekerasan justru terjadi dalam rumah atau relasi personal, kita harus berani mengatakan bahwa ini bukan sekadar persoalan privat. Ini persoalan kemanusiaan dan persoalan masa depan keluarga,” ujarnya.

Ia mengajak pemuda menjadi bagian dari upaya pencegahan kekerasan berbasis gender dengan membangun budaya saling menghormati, tidak menormalisasi kekerasan, tidak menyalahkan korban dan berani melaporkan tindakan kekerasan melalui mekanisme yang tersedia.

Palestina: Ketika Anak dan Perempuan Menanggung Dampak Konflik

Dalam konteks internasional, Habibie juga menyoroti kondisi masyarakat sipil Palestina. Ia menerangkan, konflik bersenjata memperlihatkan dengan sangat jelas bagaimana anak-anak dan perempuan menjadi kelompok yang sangat rentan.

Ia mengatakan penderitaan masyarakat sipil di Palestina seharusnya memperkuat kesadaran masyarakat internasional bahwa perlindungan terhadap kelompok rentan harus menjadi bagian utama dari setiap agenda perdamaian.

“Ketika perang terjadi, anak tidak pernah menjadi pihak yang menentukan perang. Perempuan juga bukan pihak yang harus menanggung seluruh akibatnya. Tetapi sering kali justru mereka yang merasakan dampak paling panjang—kehilangan keluarga, rumah, sekolah, kesehatan dan rasa aman,” kata Habibie.

Karena itu, menurut dia, perjuangan perdamaian harus selalu disertai perlindungan terhadap masyarakat sipil dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Habibie menegaskan bahwa kepedulian terhadap Palestina tidak harus membuat masyarakat mengabaikan persoalan kekerasan di Indonesia.

Sebaliknya, menurutnya, solidaritas kemanusiaan harus bersifat universal.

“Kita bisa bersolidaritas untuk Palestina dan pada saat yang sama memperjuangkan perlindungan anak serta perempuan di Indonesia. Kemanusiaan tidak mengenal batas geografis,” tegasnya.

Pemuda Tidak Boleh Hanya Menjadi Penonton

BACA JUGA :  Peringati Hari Keluarga Nasional 2026, Adde Rosi Ajak Perkuat Ketahanan Keluarga Demi Indonesia yang Lebih Baik

Habibie kemudian mengajak generasi muda Indonesia mengambil peran lebih aktif. Menurutnya, pemuda tidak cukup hanya menjadi penonton terhadap berbagai konflik sosial dan kemanusiaan.

Pemuda harus menjadi peacebuilder, atau pembangun perdamaian. Hal itu dapat dilakukan melalui berbagai cara sederhana: membangun dialog lintas kelompok, menjadi relawan, membantu korban bencana, membuat kampanye anti-kekerasan, mendampingi masyarakat, mengembangkan literasi digital dan menciptakan ruang interaksi yang sehat.

PBB sendiri dalam pesan Hari Perdamaian Internasional 2026 menekankan pentingnya tindakan masyarakat di tingkat lokal, termasuk kegiatan membantu orang lain, membangun dialog antargenerasi dan menggunakan platform publik untuk menyebarkan pesan perdamaian.

“Pemuda jangan menunggu punya jabatan untuk berbuat baik. Jangan menunggu menjadi pejabat untuk membangun perdamaian. Dari sekarang kita bisa melakukan sesuatu, sekecil apa pun, yang membuat lingkungan kita menjadi lebih aman dan manusiawi,” katanya.

Media Sosial Harus Menjadi Ruang Perdamaian

Menurut Habibie, salah satu medan perjuangan pemuda saat ini adalah media sosial.

Media sosial, kata dia, dapat menjadi instrumen yang sangat kuat untuk menyebarkan pendidikan dan perdamaian. Namun jika digunakan tanpa tanggung jawab, media sosial juga dapat memperbesar konflik.

Ujaran kebencian, fitnah, perundungan, penghinaan, penyebaran informasi palsu dan provokasi dapat menyebar dalam hitungan detik.

Karena itu, Habibie mengajak anak muda menerapkan prinsip sederhana sebelum mengunggah atau membagikan informasi.

Periksa, pahami, kemudian bagikan. “Jangan sampai jempol kita lebih cepat daripada akal sehat. Jangan sampai satu unggahan kita menjadi awal dari permusuhan orang lain. Kita boleh kritis, tetapi jangan kehilangan adab. Kita boleh berbeda, tetapi jangan kehilangan kemanusiaan,” ujarnya.

Olahraga Bisa Menjadi Laboratorium Perdamaian

Sebagai Ketua Umum Persigawa, Habibie juga mengangkat peran olahraga sebagai instrumen membangun perdamaian.

Menurut dia, olahraga mengajarkan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan: kompetisi tidak harus menghasilkan permusuhan.

Di lapangan, pemain dapat bersaing dengan keras, tetapi tetap menghormati lawan. Ada aturan yang harus dipatuhi, ada wasit yang harus dihormati, ada kemenangan yang harus diterima dengan rendah hati dan ada kekalahan yang harus diterima secara sportif.

“Olahraga mengajarkan kita bahwa berbeda tim bukan berarti bermusuhan. Kita bisa berkompetisi secara keras tetapi tetap saling menghormati. Nilai ini harus kita bawa ke kehidupan sosial, politik dan kebangsaan,” kata Habibie.

Ia berharap semakin banyak program kepemudaan yang menggabungkan olahraga, pendidikan karakter, perlindungan anak, pemberdayaan masyarakat dan kampanye anti-kekerasan.

Pemuda LIRA Dorong Gerakan Perdamaian dari Bawah

Sebagai Ketua Umum DPP Pemuda LIRA, Habibie menyatakan organisasi kepemudaan harus mengambil bagian dalam agenda perdamaian secara konkret.

Menurut dia, organisasi pemuda harus menjadi ruang untuk belajar menyelesaikan perbedaan melalui dialog, bukan kekerasan.

“Kita ingin organisasi pemuda menjadi tempat anak muda belajar menjadi manusia yang matang. Belajar berbeda pendapat, belajar menghormati orang lain, belajar bertanggung jawab dan belajar menyelesaikan masalah tanpa kekerasan,” ujarnya.

BACA JUGA :  Akmal B. Yulianto Raih Industry Marketing Champion 2026, Pemuda LIRA: Bukti Kerja Tulus BPJS Kesehatan untuk Rakyat

Ia juga mendorong organisasi pemuda membangun kerja sama lintas komunitas, lintas agama, lintas daerah dan lintas organisasi.

Tak hanya itu Habibie menjelaskan, semakin banyak ruang perjumpaan positif antarkelompok, semakin besar peluang masyarakat membangun kepercayaan.

Indonesia Punya Modal Sosial untuk Menjadi Jembatan Perdamaian

Habibie menilai Indonesia memiliki pengalaman penting dalam mengelola masyarakat yang beragam.

Keberagaman agama, suku, budaya, bahasa dan daerah dapat menjadi modal sosial bagi generasi muda untuk berkontribusi dalam percakapan global tentang perdamaian.

Nilai gotong royong, musyawarah dan persaudaraan dapat dibawa ke berbagai forum internasional.

“Indonesia memiliki pengalaman hidup dalam keberagaman. Anak-anak muda Indonesia harus berani membawa pengalaman itu ke dunia. Kita tidak hanya ingin menjadi penonton dalam percakapan global, tetapi ikut menawarkan gagasan dan praktik tentang bagaimana perbedaan bisa dikelola dengan dialog dan gotong royong,” katanya.

Ia juga mendorong pemuda memperluas jejaring dengan komunitas pemuda ASEAN dan dunia, termasuk melalui pendidikan, olahraga, budaya, teknologi, kemanusiaan dan lingkungan.

Perdamaian Dimulai dari Keberanian Menolak Kekerasan

Bagi Habibie, inti Hari Perdamaian Internasional 2026 bukan sekadar perayaan. Momentum tersebut harus menjadi ajakan untuk mengubah perilaku.

Berhenti melakukan kekerasan. Berhenti menormalisasi perundungan. Berhenti menyebarkan kebencian. Berhenti menyalahkan korban. Mulai mendengar. Mulai berdialog. Mulai melindungi kelompok rentan.

“Perdamaian bukan pekerjaan satu hari. Perdamaian adalah kebiasaan yang harus kita bangun setiap hari. Dan investasi paling besar dalam perdamaian adalah investasi pada manusia, terutama anak-anak dan generasi muda,” ujar Habibie.

Ia menegaskan bahwa pemuda Indonesia harus menjadi generasi yang mampu membawa pesan perdamaian dari tingkat lokal menuju internasional.

“Kita mulai dari rumah, lingkungan, sekolah, kampus, organisasi dan komunitas. Kemudian kita bawa semangat itu ke Indonesia dan dunia. Jangan menunggu dunia menjadi damai untuk kita berbuat damai. Justru kita harus berbuat damai agar dunia memiliki masa depan yang lebih baik,” pungkasnya.

Peringatan Hari Perdamaian Internasional 2026 akhirnya menjadi momentum untuk melihat perdamaian bukan sebagai sesuatu yang jauh dan abstrak, melainkan sebagai pekerjaan sehari-hari.

Perdamaian ada ketika anak merasa aman. Perempuan mendapatkan perlindungan. Korban kekerasan mendapatkan keadilan. Perbedaan diselesaikan melalui dialog. Media sosial digunakan secara bertanggung jawab. Dan generasi muda memilih menjadi jembatan ketika masyarakat terancam terpecah.

Dari Indonesia, pesan itu dapat dimulai dengan satu prinsip sederhana: berbeda boleh, berdebat boleh, berkompetisi boleh, tetapi kekerasan dan hilangnya kemanusiaan tidak boleh menjadi jalan keluar.

 

spot_img

Simak Konten Lainnya :

Terbaru

Check out other tags:

spot_img
spot_imgspot_img
spot_imgspot_img

Berita Populer