Rabu, Oktober 7, 2026

Soroti Beban Utang dan Bunga yang Membengkak, GSBK Desak Evaluasi Ketat Proyek Pertamina NRE

Ekonomi dan BisnisSoroti Beban Utang dan Bunga yang Membengkak, GSBK Desak Evaluasi Ketat Proyek Pertamina NRE

​JAKARTA, ZONARILIS.COM — Ambisi besar Indonesia dalam mengakselerasi transisi menuju Energi Baru Terbarukan (EBT) kerap disuarakan nyaring di ruang publik. Namun, di balik megahnya narasi hijau tersebut, sorotan tajam justru dialamatkan ke dapur pacu keuangan PT Pertamina Power Indonesia atau Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE). Korporasi pelat merah ini kini dihadapkan pada sebuah paradoks ekonomi yang memantik tanya: mengapa pendapatan dan aset tumbuh, tetapi utang membengkak dan laba bersih justru menyusut?

​Berdasarkan data pemeringkatan dari PEFINDO, posisi adjusted debt (utang yang disesuaikan) Pertamina NRE menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke tahun. Tercatat, utang perusahaan merangkak dari US733,3 juta pada 2023, naik menjadi US764,3 juta pada 2024, hingga menembus angka US$811,6 juta pada 2025. Sejalan dengan itu, rasio adjusted debt to EBITDA turut terkerek dari 2,4 kali menjadi 2,8 kali.

​Kenaikan kewajiban finansial ini beririsan langsung dengan membengkaknya biaya pendanaan. Beban keuangan perusahaan pada laporan 2024 melonjak menjadi US32,72 juta, naik signifikan dari US24,44 juta pada periode sebelumnya. Lonjakan tersebut dipicu oleh kenaikan drastis pada pos bunga obligasi dan pinjaman jangka panjang, yang menunjukkan bahwa strategi ekspansi berbasis pembiayaan eksternal menuntut biaya dana (cost of fund) yang tidak sedikit.

BACA JUGA :  MUI Pastikan Sapi Kurban dari Banpres Sah Secara Syar'i

​Ironisnya, agresivitas ekspansi dan suntikan modal jumbo tersebut tidak berbanding lurus dengan perolehan bottom-line perusahaan. Data memperlihatkan fenomena anomali di mana pendapatan konsolidasian sebenarnya mengalami kenaikan—dari US411,54 juta (2023) menjadi US416,82 juta (2024), dan terus bergerak ke US440,4 juta pada 2025. Kendati penjualan bertumbuh, laba bersih setelah kepentingan nonpengendali justru mengalami koreksi tajam dari US86,8 juta pada 2024 menjadi hanya US$53,8 juta pada 2025.

​Catatan kritis lain turut mendarat pada struktur pendapatan perusahaan. Analisis terhadap laporan keuangan menunjukkan bahwa porsi terbesar pendapatan Pertamina NRE masih sangat bergantung pada ekosistem internal Grup Pertamina, dengan kisaran angka mencapai 96 persen pada tahun 2024. Walau merupakan praktik yang lazim dalam struktur holding terintegrasi, tingginya konsentrasi transaksi afiliasi ini dinilai memerlukan terobosan diversifikasi pasar agar ketahanan bisnis lebih mandiri di masa depan.

BACA JUGA :  Terseret Dugaan Korupsi BBM Rp958 Miliar, Bos United Tractors & Pamapersada Didesak Segera Diperiksa Kejagung

​Menanggapi dinamika finansial tersebut, Koordinator Nasional Gerakan Santri Biru Kuning (GSBK), Febri Yohansyah, menyampaikan pandangan kritisnya. Menurut Febri, jajaran manajemen Pertamina NRE—baik Direksi maupun Komisaris—harus lebih transparan dan akuntabel dalam mengawal efisiensi proyek-proyek transisi energi agar tidak menjadi beban jangka panjang bagi keuangan negara maupun induk usaha.

​”Transisi energi adalah keniscayaan dan mandat strategis yang harus didukung penuh. Namun, pengelolaannya wajib berpijak pada prinsip kehati-hatian korporasi dan efisiensi anggaran. Ketika utang merangkak naik dan laba bersih justru tergerus di tengah ekspansi, manajemen tidak boleh sekadar berpuas diri dengan klaim pertumbuhan aset atau bersandar penuh pada jaring pengaman induk. Harus ada evaluasi mendalam agar setiap dolar investasi publik benar-benar produktif dan bernilai ekonomis,” ujar Febri.

​Kendati demikian, lembaga pemeringkat PEFINDO pada Mei 2026 masih mempertahankan peringkat idAAA dengan prospek stabil bagi Pertamina NRE, yang utamanya ditopang oleh keyakinan atas kuatnya dukungan finansial dari PT Pertamina (Persero) serta total aset yang disesuaikan mencapai US$3,560 miliar pada 2025.

BACA JUGA :  CBA Kecam Pemborosan APBD Berau: Anggaran Rutin Bupati Melejit, Rasa Keadilan Publik Terluka

​Kendati mendapat topangan penuh dari induk, tantangan terbesar Pertamina NRE ke depan adalah membuktikan bahwa kapasitas besar dan gelontoran dana masif di sektor EBT mampu dikonversi secara efisien menjadi arus kas yang sehat. Publik kini menanti langkah taktis manajemen untuk membalikkan tren penurunan laba sekaligus memastikan bahwa ambisi hijau korporasi berjalan selaras dengan kesehatan neraca keuangan yang berkelanjutan.(zr).

spot_img

Simak Konten Lainnya :

Terbaru

Check out other tags:

spot_img
spot_imgspot_img
spot_imgspot_img

Berita Populer