JAKARTA, Zonarilis.com — Insiden viral terkait penurunan penumpang oleh petugas PT Transportasi Jakarta (TransJakarta) di ruang publik telah memicu berbagai diskursus serta perdebatan di tengah masyarakat. Merespons dinamika tersebut, Barisan Jakarta (BAJA) mengajak publik untuk menyikapi persoalan ini secara proporsional, objektif, dan mendasarinya pada edukasi pelayanan publik yang konstruktif.
Ketua Umum Barisan Jakarta (BAJA), Lintang Fisuma, menyatakan bahwa sikap kritis masyarakat terhadap kualitas pelayanan publik merupakan hal yang sehat dalam negara demokratis. Namun, respons emosional maupun tuntutan yang terburu-buru dikhawatirkan dapat mengaburkan substansi masalah yang sebenarnya harus diselesaikan secara sistemik.
”Transportasi publik kita mengemban misi sosial untuk inklusif dan ramah bagi seluruh warga tanpa terkecuali. Namun, kita perlu membedakan secara jernih: apakah insiden ini murni akibat kekhilafan teknis operasional oknum petugas di lapangan, atau merupakan kegagalan struktural dari kebijakan direksi? Kritik publik harus diarahkan secara tepat sasaran agar solusi yang dihadirkan benar-benar menyentuh akar permasalahan,” ujar Lintang Fisuma di Jakarta, Rabu (5/8/2026).
BAJA memandang bahwa edukasi publik sangat penting agar masyarakat memahami bahwa sebuah korporasi layanan publik sebesar TransJakarta memiliki Standard Operating Procedure (SOP) yang baku. Ketika terjadi penyimpangan dalam implementasinya di lapangan, langkah penindakan dan evaluasi harus berbasis pada audit internal yang transparan, bukan vonis yang bersifat sepihak.
Sebagai moda transportasi primadona pendukung mobilitas warga ibu kota, TransJakarta dituntut untuk terus menjaga Standar Pelayanan Minimum (SPM) yang mengedepankan prinsip keadilan, kesetaraan, dan perlindungan terhadap kelompok rentan sesuai dengan amanat regulasi pelayanan publik.
Guna merespons dinamika ini secara bijak, Barisan Jakarta (BAJA) merekomendasikan tiga langkah strategis bagi perbaikan layanan ke depan:
- Audit Operasional dan Investigasi Transparan: Mendorong manajemen TransJakarta untuk membuka hasil investigasi insiden secara objektif kepada publik guna meluruskan informasi dan mencegah disinformasi.
- Revitalisasi Kapasitas Petugas (Re-training): Memastikan seluruh petugas halte dan pramujasa mendapatkan pembekalan berkala mengenai psikologi komunikasi publik, manajemen emosi, serta penerapan SOP yang humanis dalam menghadapi situasi di lapangan.
- Penguatan Pengawasan Internal: Memperkuat sistem pengaduan dan kontrol kualitas secara berkesinambungan agar integritas pelayanan tetap terjaga seiring visi Jakarta menuju kota global yang inklusif.
Melalui pendekatan yang objektif dan edukatif, BAJA berharap masyarakat dan manajemen TransJakarta dapat berkolaborasi secara positif dalam mengawal kualitas transportasi publik yang aman, nyaman, dan berkeadilan bagi seluruh warga.(zr).










