Rabu, Oktober 7, 2026

Berada di Titik Nadir Depresi, Calvin Dores Mati Rasa dan Siap Lepas Sebelah Bola Mata

NasionalBerada di Titik Nadir Depresi, Calvin Dores Mati Rasa dan Siap Lepas Sebelah Bola Mata

JAKARTA, Zonarilis.com — Nama besar musisi legendaris Deddy Dores ternyata tidak otomatis menjamin kemudahan hidup bagi keturunannya. Calvin Dores, putra sang maestro, baru-baru ini mengguncang publik lewat pernyataan emosional di media sosial. Terimpit beban ekonomi ibu kota dan dihantui perasaan bersalah sebagai kepala keluarga, Calvin secara terbuka menyatakan kesiapannya untuk mendonorkan satu bola matanya demi finansial masa depan anak-anaknya.

​Bukan sebuah gimik atau cara instan mencari sensasi, Calvin menegaskan langkah ekstrem ini diambil sebagai bentuk keputusasaan seorang ayah yang enggan melihat darah dagingnya hidup dalam kekurangan.

​”Ini bukan untuk biaya makan sehari-hari, tapi murni untuk tabungan masa depan anak saya. Maka dari itu, saya rela menjual mata ini,” ungkap Calvin Dores saat dikonfirmasi via telepon, Minggu (17/5/2026).

​Bagi Calvin, realitas yang ia hadapi saat ini bak langit dan bumi jika dibandingkan dengan masa kecilnya dulu, di saat sang ayah berada di puncak kejayaan industri musik tanah air. Lahir dari keluarga musisi besar namun harus membesarkan anak dalam keterbatasan ekonomi memicu tekanan mental yang hebat dalam dirinya.

BACA JUGA :  Jazuli Dorong Penguatan Organisasi dan Kolaborasi Pendidikan di MA

​Ia juga meluruskan asumsi publik yang mengira dirinya hidup mewah dari royalti atau warisan. Calvin mengaku sama sekali tidak memegang aset peninggalan dari almarhum ayahnya.

​”Keputusan saya sudah bulat, Mas. Saya tidak mau melihat istri dan anak saya kesusahan. Saya selalu membandingkan masa kecil saya yang serba ada dengan kehidupan anak saya sekarang yang jauh berbeda. Saya merasa gagal sebagai ayah ketika melihat anak saya hidup dalam serba kekurangan,” tutur Calvin dengan nada getir.

​Sebelum sampai pada titik ekstrem ini, Calvin mengaku telah memeras keringat di industri kreatif. Ia terus mencoba menyambung hidup dengan menjual karya lagu dan menekuni berbagai bidang usaha. Sayangnya, roda ekonomi Jakarta yang berputar terlalu cepat perlahan menggilas mimpi-mimpinya.

​Rencana nekat ini sebenarnya telah memicu gelombang penolakan dari rekan-rekan sesama musisi, pencipta lagu, hingga sejumlah figur politisi yang prihatin dan mencoba menawarkan bantuan. Namun, Calvin dengan tegas menolaknya. Ia memilih mengorbankan fisiknya sendiri ketimbang harus hidup dari belas kasihan orang lain.

BACA JUGA :  Haul Ulama & Habaib Betawi di Monas: Habib Salim bin Jindan Serukan Pendidikan Inklusif sebagai Bentuk Hijrah Nyata

​”Saya bukan tipikal orang yang suka meminta-minta, Mas. Saya tidak mau merepotkan atau dikasihani orang lain. Karena itu, saya memilih jalan ini,” tegasnya parau.

​Di balik keputusan di luar nalar ini, tersimpan kondisi psikologis yang sudah sangat rapuh. Calvin secara jujur mengakui bahwa dirinya tengah berjuang melawan depresi berat yang membuatnya mati rasa terhadap risiko kehilangan penglihatan.

​”Jujur, kondisi saya saat ini sudah depresi berat. Makanya saya terpikir jual mata. Saya sudah tahu rasanya seisi dunia ini seperti apa, lalu apa lagi yang perlu saya lihat? Kehilangan mata satu tidak masalah buat saya,” ucapnya pasrah.

​Kini, ia hanya bisa menunggu jika ada pihak yang membutuhkan donor mata secara profesional, tanpa menetapkan nominal harga tertentu sejak awal.

​”Selama ini saya berjuang sendiri. Kalau memang mata saya ini laku, dihargai berapa saja silakan, yang penting bisa berguna bagi orang lain yang ingin melihat dan uangnya bisa untuk masa depan anak saya,” pungkas Calvin.

BACA JUGA :  TNI Kuat Bersama Rakyat

​Rekam Jejak Deddy Dores: Sang Arsitek Musik Pop Rock

​Kondisi yang dialami Calvin memicu simpati publik mengingat jasa besar ayahnya, Deddy Dores (Dedy Suriadi, 1950–2016), di industri musik Indonesia.

Deddy dikenal sebagai musisi genius yang pernah memperkuat band rock legendaris God Bless, memimpin grup Rhapsodia (Freedom of Rhapsodia), serta Super Kid.

Namanya abadi sebagai sosok di balik meroketnya karier mendiang Nike Ardilla ke puncak popularitas tertinggi, serta mengorbitkan nama-nama besar seperti Nafa Urbach.

Sang maestro wafat tepat sepuluh tahun lalu, pada 17 Mei 2016 di Tangerang Selatan akibat serangan jantung, meninggalkan warisan karya yang hingga kini masih terus diperdengarkan.(zr).

spot_img

Simak Konten Lainnya :

Terbaru

Check out other tags:

spot_img
spot_imgspot_img
spot_imgspot_img

Berita Populer