JAKARTA, zonarilis.com – CEO Promedia Teknologi, Agus Zoelis Triyono, menyoroti polemik pernyataan politik yang belakangan viral terkait tudingan pribadi yang dilontarkan oleh politisi senior Amien Rais terhadap Letkol Teddy.
Dalam pandangan tersebut, isu yang berkembang dinilai tidak disertai bukti yang jelas dan cenderung mengarah pada serangan personal yang tidak berbasis data.
“Ini bukan kritik politik yang sehat. Ini lebih terlihat sebagai lemparan isu yang dekat dengan gosip ketimbang substansi,” demikian pandangan yang disampaikan dalam keterangan opini tersebut dikutip dari laman resminya, Senin 4 Mei 2026.
Menurutnya, ketika ruang publik diisi oleh tuduhan tanpa verifikasi, maka yang terjadi bukan lagi kontrol terhadap kekuasaan, melainkan upaya pembentukan opini melalui karakterisasi negatif.
Ia menilai praktik seperti ini tidak memberikan kontribusi terhadap kualitas demokrasi, bahkan berpotensi menciptakan kebisingan politik yang tidak produktif.
“Kalau isu pribadi dibawa ke ruang publik tanpa dasar yang jelas, itu bukan koreksi terhadap kekuasaan, tapi upaya menjatuhkan karakter,” ujarnya.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa normalisasi serangan personal dalam politik dapat berdampak jangka panjang terhadap budaya demokrasi.
Jika pola seperti ini dibiarkan, publik dikhawatirkan akan semakin sulit membedakan antara kritik kebijakan dan serangan berbasis kebencian.
“Hari ini tuduhan tanpa bukti, besok bisa berkembang menjadi fitnah yang lebih luas. Lama-lama publik kehilangan standar,” lanjutnya.
Dalam pandangan tersebut, kritik politik yang sehat seharusnya diarahkan pada kebijakan, kinerja, serta keputusan publik, bukan pada kehidupan pribadi seseorang.
Ia menegaskan bahwa jika terdapat dugaan pelanggaran, maka yang harus dihadirkan adalah data dan fakta, bukan opini tanpa verifikasi.
“Negara maju membangun kritik dari data, bukan dari isu personal,” tegasnya.
Ia juga menyayangkan ketika tokoh senior ikut terseret dalam pola komunikasi politik yang dinilai semakin dangkal. Menurutnya, publik justru berharap adanya keteduhan dari figur yang memiliki pengalaman panjang dalam dunia politik.
“Kalau tokoh senior ikut dalam arus ini, maka standar politik kita makin turun,” katanya.
Lebih lanjut ia menekankan pentingnya mengembalikan kualitas diskursus publik.
Media, menurutnya, harus lebih selektif dalam memberi ruang pada tuduhan tanpa bukti, sementara publik perlu lebih kritis dalam menyaring informasi.
“Politik boleh keras, tapi tidak boleh liar. Kalau semua jadi serangan personal, yang rusak bukan hanya individu, tapi demokrasi kita,” tandasnya. ***










