JAKARTA, zonarilis.com — Di tengah pesatnya pembangunan kawasan penyangga ibu kota, ketika hamparan sawah perlahan berganti menjadi permukiman, pusat perdagangan, dan jalan-jalan perkotaan, masyarakat Pondok Ranggon masih mempertahankan sebuah tradisi yang telah diwariskan turun-temurun selama beberapa generasi. Tradisi itu adalah Hajat Bumi atau Sedekah Bumi Kramat Ganceng, ritual adat tahunan yang menjadi simbol rasa syukur, penghormatan kepada leluhur, sekaligus peneguhan identitas kampung tua yang berada di perbatasan Jakarta Timur, Depok, dan Bekasi.
Jumat 5 Juni 2026, ratusan warga kembali memadati kawasan Makam Keramat Ganceng. Sejak pagi mereka berdatangan untuk mengikuti rangkaian acara yang telah menjadi bagian penting dari kehidupan budaya masyarakat setempat.
Suasana khidmat menyelimuti area makam ketika doa-doa dipanjatkan. Setelah itu, iring-iringan warga bergerak meninggalkan kawasan keramat. Di barisan terdepan tampak sejumlah tokoh masyarakat membawa kepala kambing hasil penyembelihan yang nantinya akan ditanam di titik-titik tertentu yang dianggap sebagai batas kampung.
Di belakangnya, masyarakat dari berbagai usia mengikuti arak-arakan yang dimeriahkan atraksi pencak silat, tabuhan rebana, serta kesenian tradisional yang masih hidup di kawasan Pondok Ranggon.
Prosesi tahun ini turut dihadiri Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta Uus Kuswanto, Wakil Wali Kota Depok Chandra Rahmansyah, serta sejumlah tokoh masyarakat dan pejabat daerah lainnya.
Kehadiran para pejabat tersebut menunjukkan bahwa Hajat Bumi Kramat Ganceng bukan lagi dipandang sebagai kegiatan kampung semata, melainkan bagian dari warisan budaya masyarakat perbatasan yang masih bertahan di tengah perkembangan kawasan metropolitan Jabodetabek.
Tradisi ini tumbuh dan berkembang di Pondok Ranggon, sebuah kawasan tua yang secara historis berada di persimpangan wilayah Jakarta, Depok, dan Bekasi.
Sebelum berkembang menjadi kawasan urban seperti sekarang, wilayah tersebut didominasi persawahan, kebun, rawa, serta jalur-jalur penghubung antarperkampungan. Kehidupan masyarakat sangat bergantung pada pertanian dan hasil alam sehingga berbagai tradisi syukuran terhadap bumi dan lingkungan berkembang kuat.
Namun berbeda dengan bebaritan yang umum ditemukan di sejumlah wilayah Betawi dan Sunda sebagai selamatan menjelang musim tanam atau panen, Hajat Bumi Kramat Ganceng memiliki makna yang lebih luas.
Tradisi ini bukan hanya bentuk rasa syukur atas hasil bumi dan keselamatan kampung, tetapi juga penghormatan kepada leluhur serta pengingat terhadap batas-batas wilayah yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Beberapa tahun silam, tim zonarilis sempat berbincang-bincang dengan sesepuh masyarakat Pondok Ranggon, Boim Diman. Dia menjelaskan, pusat kegiatan sedekah bumi berada di kawasan Makam Keramat Ganceng dan Makam Keramat Embah Uyut Kudung yang dipercaya sebagai makam para leluhur masyarakat setempat.
“Sedekah bumi di Makam Keramat Ganceng diadakan pada hari Jumat terakhir bulan Haji atau Dzulhijjah,” ujarnya.
Bagi masyarakat tua Pondok Ranggon, pelaksanaan sedekah bumi memiliki kaitan erat dengan datangnya Tahun Baru Islam.
Tradisi ini dilaksanakan menjelang 1 Muharam atau yang juga dikenal sebagai 1 Suro. Momentum tersebut dianggap sebagai masa pergantian satu siklus kehidupan menuju tahun berikutnya.
Dalam tradisi lisan masyarakat setempat dikenal istilah “naas tahun”, yaitu keyakinan mengenai karakter perjalanan tahun yang akan datang berdasarkan hari jatuhnya 1 Muharam.
Apabila sepanjang tahun kampung terhindar dari wabah penyakit, bencana besar, maupun musibah lainnya, maka sedekah bumi menjadi bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas keselamatan tersebut.
“Hari pertama jatuhnya tanggal 1 Muharam diyakini sebagai naas tahun yang berlangsung sepanjang tahun tersebut. Biasanya masyarakat menghindari pernikahan, khitanan, menanam padi, sampai membangun rumah,” kata Boim.
Meski sebagian besar masyarakat modern tidak lagi menjalankan kepercayaan tersebut secara ketat, kisah mengenai naas tahun masih hidup dalam ingatan para sesepuh dan menjadi bagian dari warisan budaya lokal.
Tradisi Ancak dan Sesaji Empat Penjuru Angin
Dalam pelaksanaan sedekah bumi pada masa lalu, masyarakat juga mengenal tradisi ancak.
Ancak merupakan sesaji yang ditempatkan di empat penjuru mata angin sebagai simbol rasa syukur dan harapan agar kampung terhindar dari berbagai marabahaya.
Isi ancak biasanya terdiri atas limun, kopi pahit, kopi manis, ayam bekakak, ikan gabus, kapur sirih, serta berbagai perlengkapan adat lainnya.
Tradisi ini dahulu menjadi bagian penting dari sedekah bumi. Namun seiring perkembangan zaman, penggunaan ancak mulai berkurang.
“Belakangan sudah tidak ada yang pakai karena dianggap mubazir,” ujar Boim.
Selain ancak, pembakaran menyan juga pernah menjadi bagian dari rangkaian ritual adat. Namun praktik tersebut kini semakin jarang dilakukan dan lebih banyak dikenang sebagai bagian dari sejarah tradisi masyarakat.
Bagian paling khas dari Hajat Bumi Kramat Ganceng adalah prosesi mengarak kepala kambing mengelilingi kampung.
Dahulu, masyarakat menggunakan kepala kerbau sebagai bagian dari ritual. Namun seiring perkembangan zaman dan pertimbangan ekonomi, penggunaan kepala kerbau digantikan dengan kepala kambing.
Kepala-kepala kambing tersebut kemudian dibawa berkeliling sebelum ditanam di sejumlah titik yang dianggap sebagai batas wilayah kampung.
Beberapa lokasi yang dikenal dalam tradisi ini antara lain kawasan TPU Pondok Ranggon, Kramat Ampel, wilayah perbatasan menuju Bekasi, kawasan yang berbatasan dengan Jakarta Timur, hingga Rawa Jemblung dekat Situ Baru Cibubur.
Menurut para sesepuh, batas kampung pada masa lalu bukan sekadar garis administratif seperti yang dikenal saat ini. Batas tersebut merupakan penanda ruang hidup masyarakat, wilayah garapan, jalur perlintasan, sumber air, hingga kawasan yang dianggap memiliki nilai sejarah dan spiritual.
Karena itu, mengelilingi batas kampung dimaknai sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur yang dahulu membuka dan menjaga wilayah tersebut.
Kramat Ampel sendiri menjadi salah satu titik penting dalam rangkaian tradisi. Bersama Keramat Ganceng dan Keramat Embah Uyut Kudung, lokasi tersebut merupakan bagian dari situs-situs yang masih dihormati masyarakat hingga sekarang.
Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kota Depok, Eko Herwiyanto, menjelaskan bahwa tradisi penguburan kepala kambing memiliki makna simbolis yang mendalam.
Menurutnya, kepala kambing yang ditanam di sejumlah titik perbatasan kampung bukan dimaksudkan sebagai persembahan, melainkan perlambang sifat-sifat buruk manusia yang harus ditinggalkan.
“Maknanya adalah mengubur sifat-sifat buruk manusia agar kehidupan masyarakat menjadi lebih baik, rukun, dan harmonis,” ujarnya.
Ia menilai tradisi tersebut mengandung pesan moral yang masih relevan hingga saat ini, terutama mengenai pentingnya menjaga kebersamaan dan kehidupan sosial yang harmonis di tengah masyarakat.
Masyarakat Pondok Ranggon juga menyimpan berbagai cerita mengenai asal-usul Keramat Ganceng yang dikaitkan dengan tokoh-tokoh masa lampau yang pernah berpengaruh di wilayah Bekasi dan kawasan sekitarnya.
Sebagian kisah tersebut masih hidup dalam bentuk tradisi lisan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Meski belum seluruhnya didukung catatan sejarah tertulis, cerita-cerita itu menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat setempat.
Di tengah perubahan wajah kawasan perbatasan yang kini dipenuhi permukiman modern dan infrastruktur perkotaan, Hajat Bumi Kramat Ganceng tetap bertahan sebagai penanda hubungan masyarakat dengan masa lalunya, yang tentunya perlu literasi dan narasi yang formal ketimbang cerita lisan. ***










