SLEMAN, zonarilis.com – Mantan Ketua BEM KM Universitas Gadjah Mada (UGM) periode 2025-2026, Tiyo Ardianto, memberikan klarifikasi terkait aksi demonstrasi penolakan terhadap dirinya di kawasan UGM yang viral di media sosial, Sabtu (13/6/2026).
Aksi yang diwarnai dengan pembentangan poster kritik tersebut sempat menuai polemik lantaran munculnya dugaan adanya pengerahan “massa bayaran” untuk menjatuhkan kredibilitas Tiyo. Menanggapi hal tersebut, Tiyo memilih merespons dengan kepala dingin.
Tiyo menegaskan bahwa dirinya tidak pernah mengatasnamakan institusi UGM dalam setiap pernyataan publiknya. Menurutnya, label “Mantan Ketua BEM UGM” yang disematkan kepadanya hanyalah bagian dari identitas historis yang melekat, bukan bentuk keterikatan organisatoris saat ini.
”Saya tidak pernah mengatasnamakan diri sebagai UGM. Bahwa saya punya histori atribusi sebagai ketua BEM, itu adalah cara orang mengenali saya. Namun, secara institusional, tidak ada hubungan lagi antara saya dengan BEM UGM,” ujar Tiyo saat ditemui di sela-sela aksi di Gejayan.
Ia pun menambahkan bahwa saat ini struktur organisasi mahasiswa di UGM telah mengalami perubahan signifikan, di mana BEM UGM telah bertransformasi menjadi Serikat Mahasiswa UGM. Oleh karena itu, secara formal ia tidak lagi memiliki relasi organisasi dengan lembaga tersebut.
Terkait dugaan bahwa aksi tersebut melibatkan massa bayaran, Tiyo mengaku prihatin. Ia menilai fenomena tersebut merupakan cerminan dari situasi ekonomi sulit yang memaksa sebagian mahasiswa harus mencari jalan pintas untuk memenuhi kebutuhan hidup.
”Saya kasih bocoran, demonstrasi itu punya semacam rekayasa situasi yang terjadi karena mereka punya kebutuhan untuk hidup dan melanjutkan perkuliahan. Saya rasa enggak apa-apa,” tuturnya.
Tiyo menegaskan tidak menaruh dendam kepada para pengunjuk rasa. Ia justru berharap bahwa setelah persoalan kebutuhan ekonomi mereka terpenuhi melalui aksi tersebut, mereka tetap bisa menjaga nurani dan tidak menggadaikan harga diri untuk kepentingan sesaat.
”Kalau untuk hidup sebagian orang harus menghina saya, hinalah saya. Tapi sesudahnya, saya harap mereka semua menjadi manusia yang punya nurani dan bisa hidup bermoral tanpa harus menggadaikan harga diri,” pungkasnya.(zr).










