JAKARTA, Zonarilis.com — Perumda Pengelolaan Air Limbah Jaya (PAL Jaya) dinilai perlu melakukan transformasi komunikasi publik secara besar-besaran agar masyarakat mengenal perusahaan daerah tersebut sebagai pengelola sanitasi modern secara utuh, bukan sekadar penyedia jasa sedot lumpur tinja.
Penilaian tersebut disampaikan oleh Ketua Umum Forum Pemuda Peduli Jakarta (FPPJ), Endriansah, yang akrab disapa Ryan. Menurutnya, selama puluhan tahun citra PAL Jaya di mata masyarakat masih lekat dengan layanan sedot WC dan pengelolaan Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT). Padahal, saat ini PAL Jaya telah berkembang pesat dengan memiliki beragam produk, layanan, program, hingga proyek strategis yang manfaatnya krusial bagi jangka panjang warga Jakarta.
”Masih banyak warga Jakarta yang belum mengetahui bahwa PAL Jaya telah berkembang menjadi perusahaan pengelola sanitasi modern. Yang melekat di masyarakat hanya sedot tinja, padahal layanan PAL Jaya jauh lebih luas dan sangat strategis bagi kesehatan masyarakat maupun kelestarian lingkungan,” ujar Ryan di Jakarta, Senin (20/7).
Ryan memaparkan, PAL Jaya saat ini memiliki sedikitnya delapan layanan utama yang dapat diakses oleh masyarakat luas, yang mencakup Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Terpusat (SPALD-T), penyambungan rumah ke jaringan perpipaan air limbah serta perbaikan jaringan, penyediaan tangki septik biofilter ramah lingkungan (BIOPAL), jasa sedot lumpur tinja, pengoperasian Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), laboratorium pengujian air limbah, layanan air daur ulang hasil pengolahan limbah, hingga penanganan dan pengelolaan limbah B3.
Selain melayani masyarakat secara langsung, PAL Jaya juga mengemban mandat sebagai operator pengelolaan sistem air limbah domestik Jakarta, termasuk mengelola Zona 1 Jakarta Sewerage Development Project (JSDP) yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2027. Kendati demikian, Ryan menyoroti bahwa proyek sanitasi terbesar tersebut belum dipahami secara utuh oleh masyarakat. Dampak fisik pembangunan di lapangan—seperti kemacetan lalu lintas, penggalian jalan dengan metode pipe jacking, kebisingan, debu, hingga terganggunya aktivitas warga dan pelaku usaha—kerap lebih mendominasi perhatian publik.
”Selama ini masyarakat melihat proyeknya sebagai penyebab macet. Padahal yang sedang dibangun adalah infrastruktur sanitasi yang manfaatnya akan dirasakan puluhan tahun ke depan. Di sinilah pentingnya sosialisasi,” tegasnya.
Sebagai bagian dari Jakarta Sewerage System (JSS), JSDP merupakan Proyek Strategis Nasional yang bertujuan meningkatkan akses sanitasi layak, memperbaiki kualitas air sungai dan air tanah, menekan pencemaran lingkungan, serta memangkas risiko penyakit berbasis lingkungan seperti diare, tifus, kolera, dan infeksi lainnya.
Untuk menjembatani kesenjangan informasi tersebut, FPPJ mengusulkan agar PAL Jaya membangun pola komunikasi yang lebih dekat dengan masyarakat melalui program sosialisasi berbasis kelurahan. FPPJ menyarankan agar setiap wilayah yang menjadi lokasi pembangunan melibatkan unsur lokal secara aktif, mulai dari lurah, camat, RT/RW, PKK, Karang Taruna, FKDM, tokoh agama, sekolah, komunitas lingkungan, hingga pelaku UMKM.
Lebih lanjut, FPPJ mengusulkan peluncuran program “PAL Jaya Goes to Community” sebagai bentuk edukasi sanitasi keliling, yang meliputi diskusi publik, pameran pelayanan sanitasi, simulasi penyambungan rumah ke jaringan perpipaan, kunjungan edukatif ke IPAL, lomba sekolah peduli sanitasi, serta optimalisasi media sosial, podcast, video edukasi, dan pengerahan mobil informasi keliling. Melalui strategi komunikasi yang konsisten dan berkelanjutan ini, diharapkan citra PAL Jaya dapat bertransformasi sepenuhnya di mata publik.
”Kalau masyarakat mengenal produk dan manfaatnya, dukungan terhadap proyek akan semakin besar. PAL Jaya harus dikenal sebagai perusahaan yang menjaga lingkungan hidup Jakarta, bukan hanya perusahaan sedot WC,” pungkas Ryan.(zr).










