Rabu, Oktober 7, 2026

Gurita Sektor Energi Kuasai Daftar Orang Terkaya RI 2026, Ichsanuddin Noorsy: Ekonomi Kita Masih ‘Haus’ Eksploitasi Alam

HeadlineGurita Sektor Energi Kuasai Daftar Orang Terkaya RI 2026, Ichsanuddin Noorsy: Ekonomi Kita Masih 'Haus' Eksploitasi Alam

​JAKARTA, Zonarilis.com – Rilis terbaru Forbes per Mei 2026 mengenai daftar 10 orang terkaya di Indonesia mempertegas dominasi sektor ekstraktif dan petrokimia dalam struktur ekonomi nasional. Di tengah gemerlap angka miliaran dolar para taipan tersebut, pakar kebijakan publik Dr. Ichsanuddin Noorsy melontarkan kritik keras, menyebut potret ini sebagai sinyal bahaya ketergantungan ekonomi pada eksploitasi sumber daya alam.

​Posisi puncak masih digdaya ditempati oleh Prajogo Pangestu dengan kekayaan fantastis US20,9 miliar, disusul raja batu bara **Low Tuck Kwong** dengan US16,5 miliar. Munculnya nama baru di sektor infrastruktur digital juga menandai pergeseran gaya akumulasi modal di era teknologi.

​Berikut adalah daftar 10 besar miliarder Indonesia versi Forbes (Mei 2026):

  1. ​Prajogo Pangestu: US$20,9 miliar (Petrokimia, Energi)
  2. ​Low Tuck Kwong: US$16,5 miliar (Batu Bara)
  3. ​R. Budi Hartono: US$15,8 miliar (Perbankan, Rokok)
  4. ​Michael Hartono: ~US$15 miliar (Perbankan, Rokok)
  5. ​Anthoni Salim: ~US$11,9 miliar (Diversifikasi)
  6. ​Tahir & Keluarga: ~US$9,7 miliar (Rumah Sakit, Keuangan)
  7. ​Sri Prakash Lohia: ~US$8,8 miliar (Petrokimia)
  8. ​Mariana Budiman: ~US$6 miliar (Data Center)
  9. ​Lim Hariyanto Wijaya Sarwono: ~US$5,3 miliar (Sawit, Nikel, Tambang)
  10. ​Haryanto Tjiptodiharjo: ~US$5 miliar (Manufaktur)
BACA JUGA :  Habib Aboe di Hari Pramuka: Saya Dorong Sukseskan Swasembada Pangan

​Menanggapi data tersebut, Dr. Ichsanuddin Noorsy menilai komposisi kekayaan ini mencerminkan kegagalan struktur ekonomi Indonesia dalam bertransformasi menuju ekonomi kerakyatan berbasis nilai tambah.

​”Dominasi kekayaan di sektor ekstraktif menunjukkan mesin ekonomi kita masih bernapas pada eksploitasi alam, bukan inovasi teknologi yang inklusif,” tegas Noorsy di Jakarta, Senin (4/5/2026).

​Noorsy membedah empat anomali dalam struktur kekayaan nasional saat ini:

  • ​Kerentanan Komoditas: Kekayaan yang berpusat pada harga komoditas global sangat rawan terhadap stabilitas jangka panjang jika hilirisasi yang berkeadilan tidak segera diwujudkan.
  • ​Konsentrasi Modal Perbankan: Keuntungan besar di sektor perbankan dan konsumsi membuktikan bahwa meskipun daya beli rakyat menjadi tumpuan, akumulasi profit tetap mengalir deras ke kantong segelintir pemilik modal besar.
  • ​Kedaulatan Digital: Menyoroti masuknya sektor data center (Mariana Budiman), Noorsy memperingatkan agar infrastruktur digital nasional jangan hanya menjadi ladang cuan baru tanpa menjamin kedaulatan data rakyat.
  • ​Jurang Ketimpangan: Noorsy mendesak evaluasi total kebijakan fiskal agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya menjadi “pesta” bagi mereka yang ada di daftar Forbes, sementara masyarakat bawah terhimpit tekanan struktural.
BACA JUGA :  Optimalkan Subsidi APBD, GPM Dukung Penyesuaian Tarif TransJakarta Maksimal Rp5.000 dengan Syarat Peningkatan Layanan

​”Jangan sampai angka pertumbuhan ekonomi yang dibanggakan pemerintah hanya menjadi angka di atas kertas bagi rakyat kecil, sementara segelintir orang di daftar ini semakin menjauh dari realitas sosial,” tutup Noorsy.(Red/ZR).

spot_img

Simak Konten Lainnya :

Terbaru

Check out other tags:

spot_img
spot_imgspot_img
spot_imgspot_img

Berita Populer