Rabu, Oktober 7, 2026

I Nyoman Parta Soroti Krisis Hubungan Spiritual Manusia Bali dengan Alam di Momentum Tumpek Wariga

NasionalI Nyoman Parta Soroti Krisis Hubungan Spiritual Manusia Bali dengan Alam di Momentum Tumpek Wariga

GIANYAR – Anggota DPR RI asal Dapil Bali dari Fraksi PDI Perjuangan, I Nyoman Parta, mengajak masyarakat Bali merenungkan kembali makna mendalam Hari Raya Tumpek Wariga di tengah semakin memudarnya hubungan manusia dengan alam.

Melalui unggahan reflektif di akun Instagram pribadinya, Parta menilai para leluhur Bali sejak dahulu telah mewariskan konsepsi hidup yang sangat maju tentang konservasi dan spiritualitas alam, jauh sebelum istilah lingkungan hidup dikenal secara modern.

“Para tetua Bali sudah lama meninggalkan warisan pengetahuan tentang konservasi. Alam dipandang sebagai bagian dari diri manusia sendiri,” tulis Parta.

Menurutnya, tradisi Tumpek Wariga bukan sekadar ritual meminta pohon berbuah lebat, tetapi merupakan pengingat tentang hubungan spiritual manusia dengan pohon, tanah, air, gunung, laut, dan seluruh semesta kehidupan.

BACA JUGA :  Cetak Bibit Unggul Lewat Olahraga, Jakarta High School Hoop Battle 2026 Siap Jadi Ajang Basket Pelajar Paling Bergengsi

Ia menjelaskan, dalam pandangan leluhur Bali, semua unsur kehidupan harus dihormati karena diyakini memiliki energi kehidupan atau prana. Konsep tersebut kemudian dikenal dalam filosofi Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit, hubungan antara makrokosmos dan mikrokosmos.

Namun Parta mengaku prihatin melihat kondisi Bali hari ini yang perlahan mulai kehilangan keteduhan alamnya. Halaman rumah semakin tertutup beton dan paving, pohon peneduh makin jarang, ruang hijau menyusut, hingga sungai dan kawasan alam yang mulai kehilangan kesakralannya.

“Kita seperti sedang bergerak menuju Bali yang semakin rapi secara visual, tetapi semakin panas dan kehilangan keteduhan,” ujarnya.

Parta juga menyoroti paradoks di tengah gencarnya promosi filosofi Tri Hita Karana ke dunia internasional, sementara dalam praktik keseharian masih banyak perilaku yang menjauh dari semangat menjaga harmoni dengan alam.

BACA JUGA :  Anggaran Paskibraka DKI Tembus Rp12,9 Miliar, GSBK: Ada Aroma Mark-up, Kejagung Harus Bertindak!

“Kita begitu gampang menebang pohon, merusak hutan, menimbun danau dan laut, bahkan membuang sampah ke sungai tanpa rasa takut,” tegasnya.

Karena itu ia menilai Tri Hita Karana tidak cukup hanya menjadi slogan atau materi seminar, melainkan harus hadir nyata dalam cara masyarakat Bali membangun rumah, menata desa, menjaga sungai, serta merawat pohon dan tanah.

Parta mengajak masyarakat Bali membangun kesadaran ekologis baru agar modernitas tidak menghilangkan jiwa Bali itu sendiri.

“Bali tentu harus berkembang. Tetapi perkembangan tanpa kesadaran ekologis hanya akan membuat Bali kehilangan jiwanya sendiri,” katanya.

Ia menekankan bahwa menanam dan merawat pohon harus menjadi gerakan budaya dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar kegiatan seremonial tahunan.

BACA JUGA :  Siap-Siap KAI Jakarta Bakal Tutup 40 Perlintasan Liar pada 2026

Menurut Parta, tantangan terbesar kaum cerdik pandai ke depan adalah menjaga Bali tetap menjadi pulau yang teduh bagi manusia, alam, dan generasi mendatang.

“Tantangan terbesar kita adalah menjaga agar pulau ini tetap menjadi tempat yang teduh — bagi manusia, bagi alam, dan bagi generasi yang akan datang. Astungkara,” tutup Parta.

spot_img

Simak Konten Lainnya :

Terbaru

Check out other tags:

spot_img
spot_imgspot_img
spot_imgspot_img

Berita Populer