JAKARTA, Zonarilis.com – Instrumen pemantauan antariksa milik NASA baru saja mengungkap temuan mencengangkan dari orbit Bumi. Berdasarkan data terbaru, Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang di Kota Bekasi terdeteksi sebagai salah satu sumber emisi gas metana terbesar di dunia dari sektor tempat pembuangan akhir (TPA).
Fenomena ini terpantau melalui teknologi EMIT (Earth Surface Mineral Dust Source Investigation) yang terpasang di Stasiun Luar Angkasa Internasional. Instrumen ini memiliki kemampuan presisi tinggi untuk memetakan sebaran gas rumah kaca yang tidak kasat mata, namun berdampak fatal bagi atmosfer.
Data mentah hasil pindaian satelit tersebut dianalisis lebih lanjut oleh tim peneliti dari University of California, Los Angeles (UCLA) melalui inisiatif STOP Methane Project. Dalam laporan berjudul “Spotlight on the Top 25 Methane Plumes in 2025: Landfills” yang dirilis April 2026, intensitas emisi dari Bantargebang tercatat mencapai 6,3 ton per jam.
Angka fantastis ini menempatkan Bantargebang di urutan kedua secara global dalam kategori emisi metana dari landfill. Posisi ini hanya terpaut sedikit di bawah Campo de Mayo di Argentina yang mencatat emisi 7,6 ton per jam, namun masih lebih tinggi dibandingkan lokasi kritis lainnya seperti Jeram di Malaysia dengan 6,0 ton per jam dan Secunderabad di India sebesar 5,9 ton per jam.
Bantargebang, yang menjadi muara akhir ribuan ton sampah warga DKI Jakarta setiap harinya, mengalami penumpukan limbah organik yang luar biasa. Limbah inilah yang melalui proses dekomposisi alami kemudian melepaskan gas metana ke atmosfer dalam jumlah masif. Metana sendiri merupakan gas rumah kaca yang sangat agresif; kemampuannya dalam memerangkap panas di atmosfer jauh lebih kuat dibandingkan karbon dioksida (CO_2) dalam jangka pendek.
Temuan ini menjadi sinyal peringatan bahwa pengelolaan sampah perkotaan di Indonesia kini memiliki implikasi serius terhadap kondisi iklim global, bukan sekadar masalah lingkungan lokal. Pemanfaatan data berbasis satelit ini diharapkan menjadi dasar bagi pemerintah untuk segera memperkuat kebijakan mitigasi.
Langkah-langkah strategis seperti optimalisasi penangkapan gas metana untuk energi, pengolahan limbah menjadi sumber daya baru, hingga pengurangan sampah organik dari sumbernya di rumah tangga kini menjadi mandat yang mendesak guna menjinakkan “monster” emisi di langit Bekasi tersebut.(Red).










