Rabu, Oktober 7, 2026

30 Tahun di Jalan Ekonomi Rakyat, Ir. Sharmila Tak Pernah Berhenti Berjuang

Headline30 Tahun di Jalan Ekonomi Rakyat, Ir. Sharmila Tak Pernah Berhenti Berjuang

JAKARTA – Tiga puluh tahun bukan waktu yang singkat untuk bertahan dalam satu medan perjuangan. Tiga dekade Ir. Sharmila, M.Si. mengabdikan diri bagi koperasi, perempuan pengusaha, warung rakyat, dan UMKM. Perjalanannya bukan sekadar rangkaian kegiatan, melainkan proses panjang membangun gagasan, jaringan, dan model pemberdayaan ekonomi yang relevan dengan perubahan zaman.

Pemerintahan berganti, kebijakan ekonomi berubah, teknologi berkembang, ritel modern tumbuh, pandemi mengguncang dunia usaha, dan tantangan UMKM semakin kompleks. Namun, di tengah seluruh perubahan itu, Ir. Sharmila, M.Si. tetap berada di jalan yang sama: memperjuangkan ekonomi rakyat.

Ia memilih bekerja bersama koperasi, perempuan pengusaha, pemilik warung, dan pelaku usaha mikro yang setiap hari menjaga denyut ekonomi keluarga dan lingkungan. Bagi Ir. Sharmila, koperasi bukan sekadar badan usaha. Koperasi adalah cara agar masyarakat kecil tidak berjalan sendiri, memiliki posisi tawar, dan memperoleh manfaat ekonomi secara lebih adil.

Peringatan Hari UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah)  diperingati setiap  12 Agustus merujuk pada hari lahir Mohammad Hatta yang dikenal sebagai tokoh ekonomi kerakyatan. Pada 12 agustus 2026 menjadi momentum untuk merangkum perjalanan panjang tersebut. Bukan hanya tentang jabatan dan penghargaan, tetapi tentang ketahanan seorang perempuan yang terus percaya bahwa kekuatan ekonomi Indonesia harus dibangun dari rakyatnya sendiri.

Memulai dari persoalan nyata

Ir. Sharmila mengenal ekonomi rakyat bukan dari ruang teori semata. Ia melihat banyak perempuan memiliki ketekunan dalam menjalankan warung dan usaha rumahan, tetapi tumbuh tanpa pembukuan yang baik, akses pembiayaan, teknologi, jaringan pasar, dan pendampingan.

“Selama ini mereka menjalankan usahanya sendiri-sendiri dan belum pernah mendapatkan pelatihan pengelolaan usaha yang baik,” kata Ir. Sharmila.

Dari kenyataan itu, arah perjuangannya terbentuk. Menurutnya, pelaku usaha kecil tidak kekurangan kemauan. Mereka membutuhkan sistem yang membantu mereka berkembang. Karena itu, masyarakat tidak boleh terus diposisikan sebagai penerima bantuan, tetapi harus dibangun menjadi pelaku ekonomi yang mandiri.

Koperasi menjadi instrumen utama yang dipilihnya. Melalui koperasi, pelaku usaha dapat berhimpun, memperkuat modal, melakukan pembelian bersama, memperluas pasar, dan meningkatkan posisi tawar.

Komitmen tersebut dijalankan melalui Induk Koperasi Wanita Pengusaha Indonesia atau INKOWAPI. Di dalamnya, Ir. Sharmila mendorong koperasi perempuan agar tidak berhenti sebagai organisasi administratif. Koperasi harus hadir sebagai badan usaha yang sehat, produktif, profesional, dan benar-benar memberikan manfaat kepada anggotanya.

Perempuan mendapat perhatian besar dalam perjuangannya karena banyak usaha mikro, perdagangan kebutuhan pokok, dan industri rumahan bertahan melalui kerja perempuan. Mereka bukan hanya penopang keluarga, tetapi bagian penting dari ekonomi nasional.

BACA JUGA :  Yatim Al Mahabbah Ikuti Pawai Obor RT 1: Sambut 1 Muharram dengan Doa Bersama Perkuat Ukhuwah dan Kepedulian Sosial

Membela dan memodernisasi warung rakyat

Keberpihakannya kepada ekonomi akar rumput semakin nyata melalui pendirian SAHARA atau Sahabat Usaha Rakyat. Melalui SAHARA, Ir. Sharmila menjadikan warung tradisional sebagai salah satu medan utama perjuangan. Warung, dalam pandangannya, bukan hanya tempat jual beli. Di baliknya terdapat keluarga yang menggantungkan penghasilan, perempuan yang mengelola ekonomi rumah tangga, dan masyarakat yang membutuhkan akses terhadap kebutuhan pokok.

Namun, warung rakyat menghadapi persoalan yang tidak ringan: keterbatasan modal, harga kulakan yang tinggi, stok barang yang terbatas, pembukuan sederhana, serta persaingan dengan ritel berjaringan. Ir. Sharmila tidak memilih mempertahankan warung dalam pola lama. Ia mendorong warung rakyat untuk berubah, belajar, dan menggunakan teknologi tanpa kehilangan kepemilikan serta kemandiriannya.

“Kami menjadikan warung tradisional yang mereka kelola sebagai warung digital alias warung zaman now,” ujarnya.

Melalui SAHARA, pemilik warung memperoleh pendampingan manajemen, akses permodalan, pasokan barang, penataan usaha, pembukuan, dan pengenalan teknologi. Modernisasi, menurut Ir. Sharmila, harus memperkuat rakyat. Jangan sampai pelaku usaha kecil hanya menjadi ujung distribusi dari kekuatan modal besar.

Membawa koperasi memasuki era digital

Ir. Sharmila termasuk figur yang sejak awal menyuarakan pentingnya transformasi digital bagi koperasi dan UMKM.

“Jika koperasi tidak masuk ke dalam dunia digital, maka akan ditinggalkan perkembangan bisnis online,” katanya.

Baginya, teknologi bukan sekadar simbol kemajuan. Digitalisasi harus meningkatkan transparansi, memperbaiki pencatatan, mempercepat pelayanan, dan membantu pelaku usaha mengambil keputusan berdasarkan data. Namun, ia juga memahami bahwa teknologi bukan jawaban tunggal. Transformasi digital harus disertai pendidikan, kesiapan sumber daya manusia, perlindungan data, serta akses infrastruktur yang terjangkau.

Pandangan itu semakin relevan ketika pandemi Covid-19 mengguncang usaha mikro dan kecil.

“Di masa pandemi, sudah menjadi keharusan bagi anggota INKOWAPI untuk mengubah pola bisnis,” kata Ir. Sharmila.

Bagi Ir. Sharmila, krisis bukan alasan untuk berhenti. Krisis adalah ujian bagi kemampuan koperasi dan UMKM untuk beradaptasi. Sikap tersebut memperlihatkan satu karakter penting dalam kepemimpinannya: tidak terjebak pada nostalgia ekonomi kerakyatan, tetapi terus mencari bentuk baru agar koperasi tetap relevan.

Dari pendampingan menuju gerakan ekonomi

Ir. Sharmila tidak ingin pemberdayaan berhenti pada pelatihan dan seminar.

“Tidak hanya pemberdayaan melalui pendampingan, tetapi langsung ada aksi nyatanya,” tegasnya.

BACA JUGA :  Tragedi Mengerikan Gorong-gorong Cipayung, 3 Orang Pekerja itu Meninggal Dunia Satu Persatu

Prinsip itu diwujudkan dalam penguatan pasokan barang, akses pembiayaan, penataan warung, digitalisasi, pemotongan rantai distribusi, dan pengembangan jaringan usaha. Di Jakarta Pusat, ribuan warung masuk dalam program pembinaan dan dijadikan model yang dapat dikembangkan di daerah lain.

Perjalanan tersebut kemudian berkembang menuju program yang lebih luas, termasuk GO Warung, Posko Pangan, SAHARA Preneur, dan penguatan koperasi perempuan. Baginya, keberhasilan program tidak ditentukan oleh kemeriahan peluncuran, tetapi oleh kemampuan untuk diperluas, direplikasi, dan memberikan dampak nyata.

Dari warung menuju ketahanan pangan

Pengalaman panjang bersama warung rakyat membawa Ir. Sharmila pada persoalan yang lebih besar: ketahanan pangan. Ia melihat bahwa mahalnya kebutuhan pokok sering kali bukan hanya disebabkan keterbatasan pasokan, tetapi juga panjangnya rantai distribusi.

“Sembako murah bisa didapat asalkan kita bisa memotong rantai pendistribusian sembako,” katanya.

Dari pemikiran tersebut, warung dikembangkan bukan hanya sebagai tempat berdagang, tetapi sebagai simpul distribusi pangan yang dekat dengan masyarakat. Melalui Posko Pangan, Ir. Sharmila berupaya mempertemukan dua tujuan: menjaga akses masyarakat terhadap kebutuhan pokok dan membuka peluang usaha bagi perempuan serta UMKM. Gagasannya kemudian berkembang ke isu ketahanan pangan perempuan dan pengembangan food bank berbasis koperasi.

“Inisiatif food bank ini tidak hanya dapat mengatasi food waste, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan sosial dan ekonomi,” ujarnya.

Perluasan gagasan itu menunjukkan bahwa Ir. Sharmila tidak berhenti pada satu model program. Ia terus mengikuti perubahan persoalan, tetapi tetap berpijak pada ekonomi rakyat.

Menyatukan koperasi dan kewirausahaan

Salah satu gagasan penting yang terus didorong Ir. Sharmila adalah coopreneur, yakni pertemuan antara nilai koperasi dan semangat kewirausahaan. Menurutnya, koperasi harus berani berinovasi, membaca pasar, menggunakan teknologi, serta dikelola secara profesional. Sebaliknya, dunia usaha juga membutuhkan nilai gotong royong dan keadilan agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya dinikmati oleh mereka yang memiliki modal besar.

Melalui gagasan itu, Ir. Sharmila ingin menunjukkan bahwa koperasi bukan model usaha masa lalu. Koperasi dapat menjadi badan usaha modern, kompetitif, dan relevan bagi generasi muda. Namun, koperasi juga harus berani memperbaiki diri. Ia harus kuat karena kemampuan, tata kelola, dan kebermanfaatannya, bukan hanya karena membawa nama ekonomi rakyat.

Pengalaman yang membentuk kapasitas kepemimpinan

Hampir tiga dekade pengabdian membawa Ir. Sharmila memperoleh berbagai kepercayaan dan pengakuan. Ia dipercaya memimpin INKOWAPI, membangun SAHARA, serta terlibat dalam berbagai organisasi ekonomi, kewirausahaan, koperasi, dan pemberdayaan perempuan.

BACA JUGA :  Kebijakan Pengusiran Paksa Tuai Kecaman, Kepala UPRS VII Gloria Febriani Didesak Lengser

Ia juga disebut menerima Satyalancana Pembangunan Bidang Perkoperasian dan UMKM, penghargaan Tokoh Penggerak Satu Juta UMKM Naik Kelas, serta Life Membership International Council of Women pada 2022. Namun, kekuatan utama Ir. Sharmila bukan hanya terletak pada penghargaan.

Ia memiliki pengalaman panjang dalam memahami persoalan lapangan, membangun kelembagaan, menghubungkan pemerintah dengan pelaku usaha, mengembangkan jaringan koperasi, serta menerjemahkan gagasan menjadi program nyata. Ia memahami koperasi dari sisi nilai dan tata kelola. Ia mengenal UMKM dari persoalan modal, pasar, teknologi, hingga distribusi. Ia juga mampu melihat hubungan antara pemberdayaan perempuan, ketahanan pangan, digitalisasi, dan pembangunan ekonomi nasional.

Pengalaman tersebut membentuk kapasitas kepemimpinan yang tidak lahir dalam waktu singkat. Ketika koperasi belum menjadi pembicaraan utama, ia telah bekerja di dalamnya. Ketika UMKM masih dianggap pelengkap ekonomi, ia memperjuangkannya sebagai kekuatan utama. Ketika digitalisasi belum menjadi agenda besar, ia telah mendorong koperasi untuk beradaptasi.

Saat pandemi datang, ia tetap berada di medan. Ketika persoalan pangan menguat, ia memperluas perjuangan. Konsistensi itu menjadikan Ir. Sharmila bukan hanya penggerak, tetapi salah satu figur yang memiliki pengetahuan, pengalaman, dan jejaring untuk ikut menentukan arah masa depan koperasi dan UMKM Indonesia.

Jalan panjang yang belum selesai

Hari UMKM seharusnya tidak hanya menjadi peringatan sejarah, tetapi momentum untuk melihat siapa yang sungguh-sungguh bekerja menjaga roh ekonomi kerakyatan. Perjalanan Ir. Sharmila menunjukkan bahwa gotong royong harus diorganisasi, kemandirian harus dibangun, teknologi harus dikuasai, dan pelaku usaha harus memperoleh akses yang adil.

Selama hampir 30 tahun, ia mengerjakan itu semua. Dari koperasi perempuan menuju warung rakyat. Dari pembukuan sederhana menuju digitalisasi. Dari persoalan modal menuju ketahanan pangan. Dari pendampingan usaha menuju gagasan kebijakan. Ketahanan juangnya memperlihatkan bahwa ekonomi kerakyatan tidak cukup dibela melalui pidato. Ia membutuhkan kepemimpinan yang memahami persoalan, mempunyai pengalaman panjang, mampu membangun kolaborasi, dan tetap berdiri bersama rakyat ketika keadaan berubah. Ir. Sharmila, M.Si. telah menempuh jalan tersebut hampir tiga decade dan perjalanan itu belum selesai.(RZ)

spot_img

Simak Konten Lainnya :

Terbaru

Check out other tags:

spot_img
spot_imgspot_img
spot_imgspot_img

Berita Populer