JAKARTA, zonarilis.com – Asosiasi Panas Bumi Indonesia (API) memberi alarm terkait lambatnya hilirisasi potensi “Emas Hijau” di tanah air. Dengan cadangan yang mencapai 24.000 MW, baru 12 persen atau 2.740 MW yang telah terealisasi. Pemerintah kini dihadapkan pada tantangan besar untuk mengejar target tambahan 5.200 MW dalam RUPTL 2025–2034 guna mendukung ambisi Net Zero Emission 2060.
Sekretaris Jenderal API, Riza Pasikki, menyatakan bahwa komitmen pemerintah harus dibarengi dengan iklim investasi yang sehat. Saat ini, sektor panas bumi terbentur pada persoalan keekonomian proyek akibat regulasi tarif yang dianggap tidak lagi kompetitif.
”IRR (Internal Rate of Return) saat ini bahkan di bawah 5 persen. Angka ini tidak atraktif bagi investor di sektor yang memiliki risiko eksplorasi tinggi dan padat modal. Kami butuh insentif fiskal dan revisi regulasi yang konkret,” ujar Riza dalam program Prime Time INAnews TV, Rabu (20/5/2026).
Riza menekankan bahwa Perpres Nomor 112 Tahun 2022 menjadi salah satu poin krusial yang saat ini sedang dikaji ulang oleh pemerintah. Perubahan regulasi ini diharapkan mampu memberikan ruang napas bagi pelaku usaha untuk mempercepat akselerasi pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP).
Menurutnya, tanpa perbaikan struktur harga jual listrik yang lebih menarik, target RUPTL 2025–2034 berisiko terhambat. Padahal, panas bumi memiliki keunggulan kompetitif yang tidak dimiliki sumber energi terbarukan lain, yakni sifatnya yang baseload (stabil) dan siklikal.
Di sisi lain, API aktif meluruskan berbagai misinformasi di tengah masyarakat. Riza memastikan bahwa isu kerusakan lingkungan dan gangguan air tanah tidak relevan dengan teknologi panas bumi modern.
”Reservoir kita berada di kedalaman 2.000 hingga 3.000 meter. Jauh di bawah level sumur masyarakat. Penggunaan lahan permukaan pun sangat minimalis, jauh lebih ramah dibandingkan tambang terbuka,” paparnya.
Pihaknya juga memastikan telah memperketat standar keselamatan operasional pasca-insiden Sorik Marapi pada 2021 lalu sebagai komitmen profesionalisme industri.
Lebih lanjut, Riza menyoroti peran strategis panas bumi sebagai pemantik ekonomi di wilayah Timur Indonesia. Kehadiran PLTP di wilayah terpencil, seperti di lapangan Hamiding, Maluku, diyakini menjadi pintu masuk bagi investasi industri hilir lainnya.
”Listrik adalah fondasi. Jika pasokan listrik stabil melalui geotermal, maka cold storage hingga smelter bisa terbangun. Ini adalah jalan panjang menuju kemandirian ekonomi daerah yang berkelanjutan,” pungkas Riza.(zr).










