JAKARTA – Guberrnur DKI Jakarta, Pramono Anung dikabarkan sedang mengkaji penyesuaian tarif TransJakarta dari semula Rp3.500 menjadi Rp5.000 per-perjalanan. Kenaikan tarif ini akan segera diputuskan dalam waktu dekat ini. Pramono beralasan, kenaikan tarif TransJakarta akibat biaya operasional yang makin meningkat setiap tahunnya.
Menurut politisi PDI Perjuangan ini, penetapan tarif perlu mempertimbangkan panjang perjalanan serta kualitas layanan yang diterima penumpang. Sebab, tidak mungkin lagi, rute Blok M-Soekarno-Hatta, masih dengan tarif Rp3.500. Sementara jika menggunakan bus Damri, rata-rata harganya sudah mencapai Rp100.000.
Merespon wacana kenaikan tarif Transjakarta tersebut, Pengurus Komisariat Federasi Serikat Buruh Garmen, Kerajinan, Tekstil, Kulit dan Sentra Industri TransJakarta afiliasi Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia PT Transjakarta (PK FSB GARTEKS KSBSI TransJakarta), mendukung kenaikan tarif tersebut.
Untuk Kesejahteraan?
Andreas Hutagalung, Departemen Media dan Tim Organiser Buruh DKI Jakarta, DPP FSB GARTEKS KSBSI menyampaikan, alasannya mendukung kenaikan tarif TransJakarta memang sangat realistis. Bahwa keputusan tersebut sudah melalui kajian kritis dan ilmiah di internal organisasi.
“PK FSB GARTEKS KSBSI TransJakarta tegas mendukung kenaikan tarif yang diwacanakan Gubernur DKI Jakarta selama tujuan kenaikan tersebut, untuk meringankan subsidi APBD DKI Jakarta dan untuk kesejahteraan pekerja buruh, kami mendukung,” kata Andreas dalam keterangan resmi yang diterima redaksi, Minggu (12/6/2026).
Menurutnya, kenaikan tarif Transjakarta memang dipergunakan untuk keberlangsungan operasional agar berjalan baik sehingga diharapkan buruh bisa lebih sejahtera.
Senada, Ketua PK FSB GARTEKS KSBSI TransJakarta, Sudarman Sihombing menjelaskan, tarif TransJakarta saat ini sudah tak relevan lagi dengan kondisi sekarang. Harga kebutuhan Bahan Bakar, perawatan dan operasional bus TransJakarta setiap tahun meningkat.
“Jika tarif TransJakarta tidak dinaikkan, akan berdampak pada ketiadaan penambahan armada bus baru untuk melayani masyarakat,” jelasnya.
Karena itu, PK FSB GARTEKS KSBSI TransJakarta mendukung penuh wacana yang disampaikan Pramono Anung. Sudarman menepis isu miring, bahwa kehadiran PK FSB GARTEKS KSBSI TransJakarta hanya berdemo saja. Ia menegaskan, serikatnya tidak menjadi momok menakutkan bagi perusahaan dan masyarakat. Justru yang terjadi adalah sebaliknya.
“Kehadiran kami di lingkungan perusahaan adalah sebagai mitra dialog sosial dengan manajemen perusahaan. Kami akan memberikan saran dan kritik yang membangun untuk memajukan perusahaan. Kalau perusahaan maju, maka pekerjanya juga akan sejahtera,” tandas Sudarman Sihombing. (RHW).










