JAKARTA – Samsul Hidayah, warga Tanjung Priok, Jakarta Utara, kini dikenal luas di media sosial berkat akun TikTok @baimofficial_13 yang memperkenalkan dua primata peliharaannya bernama Baim (primata jenis Monyet Ekor Panjang) dan Zero (primata jenis Beruk). Akun tersebut telah meraup hampir 698 ribu pengikut dengan lebih dari 14 juta likes. Namun dibalik popularitasnya itu, Samsul menyimpan misi edukasi yang lebih besar, yakni bagaimana mengajarkan masyarakat cara terbaik merawat primata secara benar sekaligus memperingatkan bahwa ternyata tidak semua orang mampu dan bisa memelihara satwa liar jenis Monyet ini.
Faktanya, bersama @baimofficial_13, ada kisah panjang tentang cinta, dedikasi, dan misi edukasi terhadap kesejahteraan primata yang diadopsi Samsul.
Dalam kesehariannya, selain Samsul Hidayah, @baimofficial_13 juga digawangi oleh Istri Samsul bernama Nur Khasanah dan tiga orang Crew bernama Agung Gumelar, Nirmala dan Akmal Fuad sebagai Kameramen dan Video editing sekaligus konten creator untuk akun Instagram dengan nama BAIM&ZERO’OFFICIAL_13.
Permintaan Sang Anak
Samsul tidak pernah merencanakan menjadi pemelihara primata. Semuanya berawal dari sang anak yang kerap menonton video monyet dan beruk lucu di media sosial, lalu meminta dibelikan seekor.

“Sebagai orang tua, saya menuruti keinginannya karena dia memang sangat penyayang binatang,” ujar Samsul kepada wartawan, Rabu (17/6/2026).
Seekor monyet bernama Baim pun hadir di rumah mereka di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Saat itu, Samsul mengaku sama sekali belum memiliki pengetahuan tentang cara merawat primata. Saat Baim menginjak usia satu tahun dan mulai menunjukkan perilaku nakal, Samsul sempat berniat menyerahkannya kepada orang lain. Bahkan calon pengadopsi sudah datang ke rumah. Namun, sang anak menangis histeris dan memeluk Baim erat-erat dan tak mau menyerahkan Baim kepada orang lain, hingga rencana itu urung dilaksanakan.
“Mungkin sudah rezekinya di sini,” kenang Samsul Hidayat yang kini dikenal dan akrab disapa dengan nama “Ayah Baim“.
Tak lama setelah kejadian itu, ia iseng membuat akun TikTok untuk Baim dan mulai menyiarkan tingkah Baim yang lucu dan menggemaskan. Video yang dibuat tampil apa adanya dan hasilnya di luar dugaan. Kini Baim, bersama seekor beruk bernama Zero, telah menjadi maskot dan ikon untuk akun tersebut.
Hasil Rescue dan Hibah
Saat ini Samsul atau Ayah Baim mengasuh enam ekor primata. Sebagian besar merupakan hasil rescue dan hibah dari para pemilik primata sebelumnya yang tidak lagi sanggup merawat mereka. Salah satunya adalah Zero, Beruk berusia 15 tahun yang ia adopsi dari pemilik sebelumnya di Bekasi. Ada pula primata jenis ekor panjang bernama Dexter dan Memei, yang diserahkan secara sukarela oleh pemilik lamanya. Ayah Baim ini pun membentuk koloni kecil bagi mereka agar tidak hidup sendiri.

“Banyak orang di luar sana yang hanya menyukai primata saat mereka masih kecil dan lucu, namun ketika sudah besar dan mulai banyak tingkah, mereka hanya mengurungnya di dalam kandang. Dan itu tindakan yang salah,” tegasnya.
Menurut dia, tidak mudah mengadopsi satwa jenis primata yang cenderung bersikap liar, dengan tingkat emosi yang kerap berubah dan respon yang sangat berbeda dengan satwa peliharaan lainnya. Maka jika salah merawat, satwa ini berpotensi menjerat pemiliknya ke ranah hukum. Misalnya, jika monyet yang dipelihara menyerang anak di lingkungan, menggigit atau mencakar atau merusak dan mengganggu lingkungan, bisa berdampak buruk bagi pemiliknya.
Ia mengupas, bahwa merawat primata membutuhkan 90 persen waktu sehari-hari, biayanya sangat mahal, dan risikonya besar, dari kerusakan rumah hingga jerat hukum jika hewan melukai orang lain.
Ia pun mengingatkan bahwa jenis primata yang ia pelihara — Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) dan Beruk (Macaca nemestrina), termasuk dalam kategori Appendix II CITES, yang berarti boleh dipelihara dengan syarat pemiliknya benar-benar sanggup, berkomitmen, dan memahami ilmunya.
“Primata pada hakikatnya adalah satwa liar. Jika belum siap secara totalitas, lebih baik peliharalah kucing,” tandasnya.
Ayah Baim menuturkan, gerakan rescue ini, diakuinya murni lahir dari inisiatif pribadi tanpa pendampingan lembaga resmi mana pun. Sebagai pemilik primata, ia mengakui dirinya dituntut untuk mengetahui lebih banyak soal perawatan dan kesejahteraan primata yang diadopsinya. Ia bahkan pernah melatih dan cukup memahami psikologi Primata, termasuk cara merawat primata yang sakit terkena demam, pilek atau batuk.
Untuk itu, Ayah Baim mengakui rutin memberikan vaksin bagi primata yang diadopsinya. Diberikan secara berkala terutama vaksin rabies dan vitamin untuk kesehatan.

Latar belakang dirinya sebagai mantan pelatih beruk dan monyet menjadi modal besar dalam merawat hewan-hewan tersebut. Ia memahami bahwa primata memiliki hierarki sosial tersendiri, ada yang berkarakter alfa (pemimpin) dan ada yang berkarakter beta (anggota/bawahan). Ia cukup memahami sruktur sosial yang lahir secara alamiah di kalangan komunitas pecinta primata.
Contohnya Bastian (seekor Beruk yang dikenal luas di salah satu komunitas) yang berkarakter alfa, sementara Zero, Beruk miliknya meski badannya besar dan sudah 15 tahun, karakternya beta.
“Kalau didekatkan dengan Bastian, Zero langsung terlihat ketakutan,” jelas Ayah Baim.
Pemahaman itulah yang membuatnya mampu menangani primata-primata tersebut tanpa ada insiden serangan terhadap warga. Bahkan yang terjadi sebaliknya, Zero yang besar dengan berat sekitar 15 kg dan Baim, kini menjadi sahabat bagi anak-anak kecil di lingkungan sekitar tentu di bawah pengawasan yang ketat.
Totalitas dan Popok
Merawat enam primata bukan perkara mudah, Ayah Baim menyebut urusan kebersihan sebagai tantangan harian terbesar, seekor primata bisa buang air besar lebih dari sepuluh kali sehari. Dan untuk persoalan ini saja, cukup menyita waktu.
“Habis makan pasti pup, lagi mandi pup, bahkan kalau takut pun langsung pup,” ujarnya sambil tertawa.
Untuk itu, ia memakaikan popok pada primata-primatanya. Namun begitu, pemakaian popok tidak dilakukan berlama-lama, hanya saat interaksi atau bepergian agar tidak menimbulkan iritasi di tubuh hewan kesayangannya ini.
Demikian juga soal kesehatan, dikala ada primatanya yang sakit ringan, ia mengandalkan ramuan tradisional seperti rebusan kunyit dicampur madu untuk pilek dan demam, serta air garam sebagai pertolongan pertama saat Baim atau Zero diare.

Sementara untuk edukasi dan perawatan lainnya, Samsul atau Ayah Baim ini juga aktif dalam komunitas pecinta primata bernama ‘South Monkey‘. Komunitas ini dikenal sebagai wadah berbagi ilmu dan pengalaman sesama pemelihara primata.
Viral dan Diundang Bupati Indramayu
Popularitas Baim dan Zero bahkan membawa Samsul bertemu Lucky Hakim, Bupati Indramayu. Saat berkunjung ke Kantor Lucky Hakim, sang Bupati bahkan sempat menyuapi Zero secara langsung dan terkesan dengan ketenangan monyet besar tersebut.
Menurut Lucky Hakim, sebelumnya, belum pernah dirinya bertemu monyet berbadan besar, namun bersikap tenang dan lembut seperti Zero. Dengan bobot 15 kg, beruk ini sangat pendiam dan ramah terhadap manusia yang ditemuinya. Zedo memang dikenal tidak banyak bertingkah. Dia kalem dan disukai anak-anak.
“Biasanya kera yang lain kalau ditaruh makanan langsung serakah diambil semua. Ini (Zero) tenang sekali. Mantap!” ujar Lucky Hakim. Menurutnya, Ayah Baim berhasil merawat beruk yang sehat dan kalem.
Sang Bupati juga memuji cara Ayah Baim dalam mengadaptasikan primata untuk hidup berdampingan dengan manusia, bukan sekadar menjinakkannya, namun mampu mensejahterakan dan membuat banyak orang suka dengan Zero dan Baim.
Dukungan Warga
Sementara itu, Ketua RT 013/08 Kel. Tugu Utara, Koja, Jakarta Utara, H. Nurul Jamil, SPDi kepada wartawan mengatakan dukungan penuh terhadap kegiatan yang dilakukan Ayah Baim.
Selain tidak pernah ada laporan keluhan dari warga, kehadiran primata di tengah pemukiman juga menjadi hiburan tersendiri, terutama saat perayaan hari besar nasional seperti Hari Kemerdekaan 17 Agustus, primata yang diadopsi Samsul, terutama Baim dan Zero kerap dilibatkan dalam lomba.
“Kehadiran Baim dan Zero ini berhasil mengangkat nama wilayah. Jadi saya sangat mendukung jika mereka berkembang,” tandas Nurul. Ia mengakui kehadiran primata yang diadopsi Samsul cukup menghibur bagi anak anak di lingkungannya dan tidak pernah ada keluhan.
Kisah Samsul atau Ayah Baim dan primata peliharaannya dalam cerminan akun @baimofficial_13, menjadi cermin dua sisi: hiburan yang mengundang perhatian jutaan orang, sekaligus pengingat bahwa memelihara satwa liar bukan perkara mudah, melainkan tanggung jawab penuh waktu yang menuntut ilmu, dedikasi, dan kesiapan secara finansial. (RHW)










