JAKARTA, zonarilis.com – Eco enzyme kini semakin dikenal sebagai salah satu solusi pengelolaan sampah organik yang mudah diterapkan di lingkungan rumah tangga maupun komunitas. Terlebih Eco enzyme punya sejuta manfaat yang bisa berubah menjadi berbagai produksi seperti sabun batangan, cuci piring, deterjen hingga pestisida nabati.
Namun tahukah kamu, di balik berkembangnya konsep tersebut, terdapat sosok Dr. Rosukon Poompanvong, peneliti dan pegiat pertanian organik asal Thailand yang mengembangkan pemanfaatan limbah organik melalui proses fermentasi sejak dekade 1980-an.
Dr. Rosukon merupakan pendiri Thai Organic Farming Association yang aktif mengembangkan berbagai metode pertanian berkelanjutan dan ramah lingkungan. Melalui penelitian yang dilakukannya, ia memperkenalkan konsep garbage enzyme atau enzim sampah, yaitu cairan hasil fermentasi limbah organik dapur seperti kulit buah dan sayuran yang dicampur gula dan air.
Konsep tersebut lahir dari upaya mencari solusi sederhana terhadap meningkatnya volume sampah organik sekaligus mendukung praktik pertanian yang lebih berkelanjutan. Hasil fermentasi yang dihasilkan kemudian dikenal luas dengan sebutan eco enzyme dan dimanfaatkan oleh masyarakat untuk berbagai kebutuhan sehari-hari.
Seiring berjalannya waktu, eco enzyme berkembang menjadi gerakan lingkungan yang diterapkan di berbagai negara. Konsep ini kemudian diperkenalkan lebih luas oleh Dr. Joean Oon, sehingga penggunaannya semakin dikenal oleh komunitas lingkungan, sekolah, lembaga sosial, hingga pemerintah daerah.
Saat ini eco enzyme banyak dimanfaatkan sebagai pembersih ramah lingkungan, pupuk cair organik, pengurai bau, serta media edukasi pengurangan sampah berbasis sumber. Selain membantu mengurangi timbulan sampah organik yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA), pemanfaatan eco enzyme juga mendorong masyarakat untuk menerapkan pola hidup yang lebih peduli terhadap lingkungan.
Pengembangan eco enzyme menjadi contoh bagaimana inovasi sederhana dapat memberikan dampak positif yang luas. Melalui pemanfaatan limbah organik yang sebelumnya dianggap tidak bernilai, masyarakat diajak untuk mengubah sampah menjadi sumber daya yang bermanfaat.
Hingga kini, gagasan yang dikembangkan Dr. Rosukon terus menginspirasi berbagai gerakan lingkungan di dunia, termasuk di Indonesia. Berbagai komunitas dan instansi terus mengembangkan pelatihan pembuatan eco enzyme sebagai bagian dari upaya mengurangi sampah organik dan mendukung terciptanya lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan. ***










