Rabu, Oktober 7, 2026

Ancaman Fundamental Ekonomi: CBA Desak Gubernur BI Mundur Jika Rupiah Terus Melemah

Ekonomi dan BisnisAncaman Fundamental Ekonomi: CBA Desak Gubernur BI Mundur Jika Rupiah Terus Melemah

JAKARTA, ZONARILIS.COM – Optimisme Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, mengenai penguatan nilai tukar rupiah pasca-Juni 2026 dinilai sebagai langkah retoris yang tidak berpijak pada realitas ekonomi. Direktur Eksekutif Center for Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi, menegaskan bahwa pelemahan rupiah saat ini merupakan akumulasi dari persoalan struktural yang mendalam, bukan sekadar fluktuasi teknikal atau musiman sebagaimana diklaim pihak Bank Indonesia.

​Pernyataan Gubernur BI yang menyebut pelemahan rupiah periode April hingga Juni disebabkan oleh kebutuhan repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri korporasi, dianggap oleh CBA sebagai upaya “cuci tangan” di hadapan DPR. Menurut Uchok, narasi tersebut sengaja dibangun untuk meredam kekritisan parlemen sekaligus mengamankan posisi sang Gubernur di tengah ketidakpastian ekonomi nasional. Baginya, pernyataan tersebut merupakan pembelaan diri agar posisi Perry Warjiyo tetap aman dari tekanan elite politik dan Presiden Prabowo Subianto. Uchok mengingatkan bahwa keyakinan bahwa rupiah akan otomatis menguat setelah Juni justru membuat pengambil kebijakan terlena dan abai terhadap ancaman struktural yang lebih serius.

BACA JUGA :  Bamsoet Jadi Co-Promotor Disertasi Doktor Ilmu Hukum

​CBA secara tegas menyoroti kondisi fiskal negara yang kian terjepit oleh beban utang. Dengan total utang yang telah menembus angka Rp9.000 triliun, sementara kewajiban pembayaran bunga dan pokok utang tahun 2026 diperkirakan mencapai Rp800 triliun, pasar keuangan dinilai mulai kehilangan kepercayaan. Uchok menggambarkan kondisi di mana brankas pemerintah seolah terkunci karena investor dan kreditor mulai menarik diri akibat melihat beban utang yang sangat berat serta minimnya kolateral yang memadai untuk memperkuat nilai mata uang.

​Selain faktor fiskal, CBA juga menyoroti variabel politik yang mempengaruhi iklim investasi di Indonesia. Keterlibatan TNI dalam berbagai sektor sipil, mulai dari pengelolaan perkebunan sawit hingga masuk ke jabatan-jabatan strategis pemerintahan, dinilai menciptakan ketidakpastian iklim usaha yang membuat modal asing enggan bertahan. Hal ini memicu kekhawatiran kreditor terhadap tata kelola ekonomi di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

BACA JUGA :  Haul Ulama & Habaib Betawi di Monas: Habib Salim bin Jindan Serukan Pendidikan Inklusif sebagai Bentuk Hijrah Nyata

​Menatap masa depan ekonomi pasca-Juni, Uchok memberikan peringatan keras bahwa tekanan terhadap rupiah berpotensi terus berlanjut apabila fundamental ekonomi tidak segera dibenahi. Ia bahkan melayangkan ultimatum kepada Perry Warjiyo. Jika setelah bulan Juni rupiah tetap melemah, Uchok menilai Gubernur BI tersebut harus siap mundur atau dipaksa dicopot dari jabatannya. Menurutnya, mengundurkan diri mungkin menjadi jalan yang lebih elegan untuk menghindari jeratan hukum, namun jika sampai dicopot akibat kegagalan menjaga stabilitas mata uang, Perry harus siap menghadapi pemeriksaan oleh pihak berwenang, termasuk Kejaksaan Agung.

​Hingga berita ini diturunkan, Bank Indonesia tetap berpegang teguh pada proyeksi bahwa nilai tukar rupiah akan kembali stabil seiring dengan meredanya tekanan kebutuhan valas korporasi dan membaiknya kondisi pasar keuangan global.(zr).

BACA JUGA :  Pemerintah Didesak Segera Implementasikan PBI BPJS Ketenagakerjaan bagi Pekerja Miskin
spot_img

Simak Konten Lainnya :

Terbaru

Check out other tags:

spot_img
spot_imgspot_img
spot_imgspot_img

Berita Populer