JAKARTA, ZONARILIS.COM – Kinerja Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di bawah kepemimpinan Setyo Budiyanto kembali menuai sorotan tajam. Kali ini, Aliansi Seniman Ngeyel Indonesia menyatakan sikap tegas dengan menggelar aksi teatrikal bertajuk “KPK Sakit Jiwa” yang akan dilaksanakan pada Kamis (16/7/2026), di depan Gedung KPK (lama dan baru), Jakarta Selatan.
Aksi ini merupakan puncak kegelisahan para seniman terhadap penanganan kasus dugaan korupsi Blueray Cargo yang dinilai jauh dari semangat pemberantasan korupsi yang transparan dan akuntabel.
Dalam pernyataan resminya, Aliansi Seniman Ngeyel Indonesia menegaskan bahwa aksi ini adalah bentuk gugatan moral. “KPK hari ini telah kehilangan nalar hukumnya. Kami menarasikan kegilaan ini melalui panggung teater sebagai bentuk perlawanan terhadap praktik tebang pilih yang kian nyata di lembaga tersebut,” bunyi pernyataan tersebut.
Koordinator Aksi, Rahmat Himran, secara tegas mendesak Dewan Pengawas (Dewas) KPK untuk segera mengambil tindakan konkret. Menurutnya, pembiaran terhadap ketidakprofesionalan pimpinan KPK adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanat pemberantasan korupsi.
”Kami menuntut Dewas KPK segera memanggil Ketua KPK, Setyo Budiyanto. Ia harus mempertanggungjawabkan kinerjanya. Jangan sampai Dewas KPK justru dianggap ikut ‘sakit jiwa’ karena membiarkan integritas KPK hancur dan terkesan melindungi pihak-pihak tertentu yang terlibat dalam kasus Cargo Brury,” tegas Rahmat Himran.
Di sisi lain, Koordinator Lapangan, Pamit Andrianto, membeberkan sejumlah fakta yang diabaikan oleh penyidik KPK. Ia menyoroti keterlibatan nama anggota BPK, Nyoman Adhi Suryadnyana, yang hanya muncul di persidangan tanpa adanya upaya pemeriksaan proaktif dari penyidik.
”Selain itu, ada 20 perusahaan forwarder dan eksportir-importir yang jelas-jelas terlibat namun dibiarkan begitu saja. KPK terkesan tuli dan bisu terhadap pihak-pihak ini,” ujar Pamit Andrianto.
Pamit menegaskan bahwa jika KPK tidak segera memproses pihak-pihak yang terlibat tanpa pandang bulu, maka aksi ini akan terus berlanjut. “Kami menuntut transparansi dan ketegasan. Pemeriksaan terhadap pimpinan KPK oleh Dewas adalah harga mati yang tidak bisa ditawar lagi,” tutupnya.
Aksi yang akan melibatkan elemen seniman dari berbagai latar belakang ini diharapkan mampu memberikan tekanan publik agar KPK kembali ke jalur yang benar dan tidak lagi menjadi alat pelindung bagi pihak-pihak yang memiliki kekuasaan.(zr).










