Rabu, Oktober 7, 2026

Haruskah Safeea Ahmad terus dirundung, siapa yang salah? Kata Ahmad Dhani perundungan terjadi sudah sejak lama

Gaya HidupHaruskah Safeea Ahmad terus dirundung, siapa yang salah? Kata Ahmad Dhani perundungan terjadi sudah sejak lama
JAKARTA, zonarilis.com – Isu perundungan terhadap Safeea Ahmad, putri dari Ahmad Dhani dan Mulan Jameela, rupanya telah terjadi sejak lama dan bukan hal baru.Dalam sebuah podcast bersama Denny Sumargo sekitar sembilan bulan lalu, Ahmad Dhani telah lebih dulu menyinggung adanya gelombang perundungan yang masif terhadap anaknya sejak dulu dan semakin meningkat setelah anak pertamanya, Al Ghazali, menikah.
Penghakiman terhadap putri semata wayangnya itu dinilai semakin ekstrem dengan kata-kata yang kurang pantas. Cuplikan pernyataan tersebut kini kembali viral di YouTube dan berbagai platform media sosial. Dhani menyebut, serangan tidak hanya terjadi di kolom komentar, tetapi juga merambah ke pesan pribadi (DM) dengan kata-kata yang dinilai tidak pantas untuk ditujukan kepada anak di bawah umur.
“Pembulian terhadap anakku itu kok masif,” ungkap Dhani dalam podcast tersebut, dikutip zonarilis, Sabtu, 2 Mei 2026.
Ia bahkan menyoroti penggunaan istilah kasar seperti “anak pelakor” hingga “anak gundik” yang disematkan oleh sejumlah netizen kepada Safeea. Menurutnya, hal itu sudah melampaui batas dan berpotensi melanggar hukum, mengingat anak di bawah umur dilindungi oleh undang-undang.
Menariknya, Dhani juga mengungkap bahwa dirinya sempat membawa persoalan ini ke ranah hukum. Ia menyebut beberapa akun telah terlacak, bahkan ada yang disebut menghadapi konsekuensi serius.
“Ada beberapa yang minta maaf di DM, ada yang kali ini yang tidak akan kita maafkan adalah netizen yang mengaku psikolog. Masa psikolog begitu, kok tidak mengerti undang-undang perlindungan anak,” kata Dhani.
Dalam wawancara itu, Dhani menegaskan akan kembali mengambil langkah hukum jika perundungan tersebut kembali terulang. Menurutnya, laporan harus dilayangkan langsung oleh wali anak, dalam hal ini adalah dirinya.
“Langsung ke Polda Metro dan saya sebagai pelapor rencana. Kemarin itu Al yang melapor, ternyata tidak bisa, harus bapaknya, harus wali,” terangnya.
Sementara itu, isu perundungan terhadap Safeea Ahmad kembali memanas setelah momen pernikahan anak keduanya, yakni El Rumi dengan Syifa Hadju. Namun, penghakiman dan perundungan oleh netizen terhadap Safeea kali ini disebut dipicu oleh pernyataan Ahmad Dhani sendiri melalui media sosialnya.
Pernyataan itu merupakan respons dari narasi lama terkait konflik masa lalu Ahmad Dhani dan Maia Estianty yang disebut-sebut kembali disinggung dalam momen siraman pernikahan tersebut.
Dalam pernyataan panjangnya pada Kamis, 30 April 2026 di Instagram, Dhani mengungkap versinya terkait luka lama rumah tangganya, disertai foto dirinya yang memeluk Safeea yang menangis saat acara siraman. Sejumlah tudingan pun disampaikan, di antaranya dugaan bahwa Maia Estianty berselingkuh dengan pemilik televisi, opini Dhani soal akting Maia dalam acara siraman, hingga adanya dugaan campur tangan media dan rumah produksi yang terus membentuk narasi yang dinilai merugikan dirinya dan Safeea selama hampir 20 tahun.
Namun, pernyataan kontroversial tersebut justru memantik reaksi balik dari netizen yang kembali merundung Safeea melalui akun media sosialnya. Unggahan terakhir Safeea dipenuhi ribuan komentar negatif, meski tidak sedikit pula yang memberikan dukungan.
Di sisi lain, polemik turut berkembang dengan beredarnya dokumen lama yang diduga merupakan putusan Mahkamah Agung terkait perceraian Ahmad Dhani dan Maia Estianty. Dokumen tersebut menyeret sejumlah nama saksi dan memuat narasi bahwa perceraian dipicu oleh pernikahan siri Ahmad Dhani dengan Mulan Jameela.
Ahmad Dhani kemudian merespons dengan mengunggah potongan dokumen yang disebut sebagai pengakuan Maia Estianty terkait dugaan perselingkuhan.
“Ada pengakuannya dan sudah ditandatangani,” tulis Dhani.
Polemik semakin berlanjut setelah dokumen putusan cerai kembali beredar di media sosial. Salah satu yang menyoroti hal ini adalah pegiat media sosial sekaligus penulis sejarah, Rumail Abbas atau yang dikenal sebagai Gus Rumail.
Dalam pernyataannya, ia mengaku merujuk pada dokumen putusan Pengadilan Agama Jakarta Selatan tahun 2008 yang sebelumnya sempat beredar di publik.
“Saya cek ulang: apakah ‘pengakuan’ Dhani sesuai fakta hukum 2008?” tulisnya dalam akun Instagram pribadinya, dikutip Hops, Jumat, 1 Mei 2026.
Menurutnya, narasi yang disampaikan Dhani tidak sepenuhnya sesuai dengan fakta hukum. Ia menyebut dalam dokumen tersebut tidak ada talak tiga seperti yang disebutkan.
“Faktanya talak satu bain sughra. Bukan Dhani yang menjatuhkan, tapi pengadilan atas gugatan cerai Maia,” lanjutnya.
Ia juga menjelaskan bahwa dalam putusan tersebut, Dhani disebut menolak perceraian.
Tudingan perselingkuhan terhadap Maia Estianty juga dibantah. Menurutnya, tidak ada bukti dalam dokumen persidangan.
“Majelis tegas, tidak ada yang mengarah kepada terjadinya nusyuz penggugat kepada tergugat,” tulisnya lagi.
Nama Tamara Geraldine turut disinggung dalam konteks persidangan, terkait kesaksian soal isu nikah siri yang disebut menjadi salah satu pemicu retaknya rumah tangga. Namun, majelis tidak memutus sah atau tidaknya isu tersebut. Selain itu, ia juga menyinggung soal tudingan laporan KDRT palsu. Dalam putusan, disebutkan majelis tidak menemukan adanya laporan palsu berdasarkan keterangan saksi.
Putusan tingkat pertama sendiri mengabulkan gugatan cerai, menetapkan hak asuh anak kepada Maia, serta kewajiban nafkah dan pembagian harta bersama. Sebagai catatan, istilah talak satu bain sughra dalam hukum Islam merujuk pada perceraian yang diputus oleh pengadilan dan tidak dapat dirujuk kembali selama masa iddah, namun mantan pasangan masih dapat menikah kembali dengan akad baru jika keduanya sepakat. Istilah ini berbeda dengan talak tiga yang bersifat final.
Sementara itu, perhatian publik masih berputar pada isu lama yang sejatinya telah berlalu, sementara kondisi Safeea sebagai anak justru luput dari perhatian. Perundungan terhadap Safeea bukanlah reaksi spontan, melainkan telah berlangsung sejak lama jauh sebelum polemik terbaru mencuat ke permukaan.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa anak-anak, terutama yang berada di ruang publik karena latar belakang keluarga, tetap memiliki hak perlindungan dari segala bentuk perundungan, baik secara langsung maupun di dunia digital. ***
spot_img

Simak Konten Lainnya :

Terbaru

Check out other tags:

spot_img
spot_imgspot_img
spot_imgspot_img

Berita Populer