Rabu, Oktober 7, 2026

Kinerja Keuangan PT Danareksa Disorot, GSBK Pertanyakan Anomali Laba Rp1,5 T Jadi Rugi Rp342 Miliar

Ekonomi dan BisnisKinerja Keuangan PT Danareksa Disorot, GSBK Pertanyakan Anomali Laba Rp1,5 T Jadi Rugi Rp342 Miliar

​JAKARTA, ZONARILIS.COM — Kinerja keuangan PT Danareksa (Persero) sepanjang tahun 2025 memicu sorotan tajam dari berbagai kalangan. Sebagai salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan portofolio bisnis yang merambah luas—mulai dari jasa keuangan, kawasan industri, sumber daya air, konstruksi, manufaktur, media, teknologi, hingga transportasi dan logistik—perusahaan pelat merah ini justru diterpa tekanan finansial berat yang berujung pada kerugian bersih ratusan miliar rupiah.

​Hal tersebut diungkapkan oleh Koordinator Nasional Gerakan Santri Biru Kuning (GSBK), Febri Yohansyah, dalam keterangan resminya pada Rabu (30/09/2026). Menurut Febri, gelombang tantangan yang mendera Danareksa nyaris menggoyangkan fondasi keuangan perseroan setelah tercatat membukukan kerugian bersih hingga mencapai Rp342,2 miliar.

​Angka defisit ini sangat kontras jika dibandingkan dengan pencapaian tahun sebelumnya. Pada tahun 2024, PT Danareksa masih mampu mencatatkan performa keuangan yang gemilang dengan raihan laba bersih mencapai Rp1,5 triliun.

BACA JUGA :  Disorot CBA Jelang Penampilan di Urban Talk TIM, Anggaran Pakaian Dinas Gubernur Maluku Utara Tembus Rp990 Juta

​Kejanggalan terbesar dalam laporan keuangan Danareksa 2025 terletak pada anomali volume pendapatan usaha yang berbanding terbalik dengan perolehan laba akhir (bottom line).

​Berdasarkan catatan GSBK, pendapatan usaha perseroan pada tahun 2025 justru mengalami kenaikan menjadi Rp4,1 triliun, meningkat jika dibandingkan pencapaian tahun 2024 yang berada di angka Rp3,9 triliun.

​Tahun 2024: Pendapatan usaha Rp3,9 triliun sukses meraup laba bersih Rp1,5 triliun.

​Tahun 2025: Pendapatan usaha naik menjadi Rp4,1 triliun, namun justru menanggung kerugian bersih Rp342,2 miliar.

​”Pendapatan usaha naik Rp200 miliar lebih dibanding tahun sebelumnya, tapi yang masuk ke bawah garis justru lubang Rp342 miliar. Kalau pendapatan lebih kecil bisa untung Rp1,5 triliun, lalu kenapa saat pendapatan lebih besar justru hancur?” tanya Febri kritis, Rabu (30/09/2026).

BACA JUGA :  Habib Aboe: Indonesia Kehilangan Putra Terbaik Bangsa, Jasa Ryamizard Akan Selalu Dikenang

​GSBK menilai bahwa anjloknya performa finansial Danareksa tidak terlepas dari dua guncangan struktural dan manajerial yang terjadi sepanjang tahun 2025:

​Arah Transformasi Holding: Perseroan menerima arahan resmi melalui “surat cinta” dari PT Danantara Asset Management (Persero) selaku pemegang saham Seri B. Surat tersebut menuntut tindak lanjut atas rencana besar transformasi bisnis perusahaan agar fokus bertransisi menjadi holding Kawasan Industri.

Perombakan Kursi Komisaris Utama: Terjadi pergantian kepemimpinan strategis di jajaran dewan pengawas, di mana posisi Komisaris Utama yang sebelumnya diemban oleh Robert Pakpahan beralih kepada A. Helmy Faishal Zaini.

​Menanggapi fenomena di mana peningkatan omzet justru berujung pada kemunduran drastis hasil akhir, GSBK menyimpulkan bahwa akar permasalahan tidak bersumber dari dinamika pasar maupun konsumen, melainkan pada efektivitas pengelolaan manajemen internal.

BACA JUGA :  Tragedi Mengerikan Gorong-gorong Cipayung, 3 Orang Pekerja itu Meninggal Dunia Satu Persatu

​”Kalau penghasilan naik tapi hasilnya turun drastis, berarti ada yang bocor. Bukan di sisi pelanggan, bukan di sisi pasar—tapi di dalam pengelolaannya sendiri,” tegas Febri.

​”Danareksa punya banyak ladang usaha. Tapi kalau diurus begini, semakin banyak yang tidak masuk akal,” pungkasnya.(zr).

spot_img

Simak Konten Lainnya :

Terbaru

Check out other tags:

spot_img
spot_imgspot_img
spot_imgspot_img

Berita Populer