JAKARTA , zonarilis.com– Di balik narasi “gangguan teknis” yang digaungkan pemerintah terkait pemadaman listrik masif di Pulau Jawa, suara kritis datang dari Center for Budget Analysis (CBA). Direktur Eksekutif CBA, Uchok Sky Khadafi, membongkar dugaan adanya kekacauan kebijakan di balik layar yang berpotensi menjadi ancaman serius bagi pasokan batu bara pembangkit listrik milik PT PLN (Persero).
Uchok secara tegas menolak jika PT PLN dijadikan “tumbal” atas pemadaman yang terjadi. Ia justru menyoroti keputusan Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, yang dinilai tidak taktis. Kebijakan pemangkasan masa berlaku Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) dari tiga tahun menjadi satu tahun disebut sebagai pemicu ketidakpastian tata kelola tambang nasional.
”Jangan jadikan PLN kambing hitam. Persoalan utamanya ada pada kebijakan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Perubahan masa berlaku RKAB itu menciptakan turbulensi yang berdampak langsung pada rantai pasok batu bara kita,” ujar Uchok kepada awak media, Rabu (17/6/2026).
Tak hanya soal RKAB, Uchok membeberkan ancaman nyata dari rencana pemerintah memangkas produksi batu bara nasional hingga 30 persen atau menyentuh angka 600 juta ton pada tahun 2026. Analisis CBA menunjukkan angka tersebut sangat berbahaya. Dengan skema Domestic Market Obligation (DMO) sebesar 25 persen, stok nasional hanya tersisa 150 juta ton. Padahal, kebutuhan PLN untuk menerangi negeri mencapai 160 juta ton.
”Ada defisit 10 juta ton. Bagaimana mau aman kalau angka kebutuhannya saja tidak tertutupi? Apalagi 150 juta ton itu masih harus dibagi lagi dengan perusahaan swasta. Ini bom waktu yang siap meledak jika pemerintah tidak segera melakukan koreksi kebijakan,” tegasnya dengan nada tinggi.
Menanggapi kritik tersebut, pihak Kementerian ESDM melalui Juru Bicara, Dwi Anggia, tetap teguh pada pendiriannya. Pihak kementerian bersikukuh bahwa stok batu bara nasional masih melimpah dan pemadaman listrik di Pulau Jawa murni disebabkan oleh persoalan teknis operasional.
Namun, argumen pemerintah tersebut seolah bertolak belakang dengan kekhawatiran yang kini menyelimuti publik. Ketidaksesuaian antara target produksi, pemenuhan DMO, dan kebutuhan riil kelistrikan kini menjadi sorotan utama. Jika sinkronisasi kebijakan tidak segera dilakukan, bukan tidak mungkin krisis listrik akan menjadi ancaman nyata yang melumpuhkan produktivitas nasional ke depan.(Red).
#CBA #UchokSkyKhadafi #BahlilLahadalia #KrisisListrik #PLN #Zonarilis #BatuBara #KebijakanEnergi #InfoNasional #KetahananEnergi










