JAKARTA, zonarilis.com — Wacana kenaikan tarif Transjakarta menuai beragam tanggapan dari masyarakat. Bagi sebagian warga, transportasi publik menjadi penopang utama mobilitas sehari-hari karena lebih terjangkau dibandingkan kendaraan pribadi.
Arman, seorang pencari kerja yang berdomisili di Jakarta, mengaku khawatir apabila tarif Transjakarta benar-benar mengalami kenaikan. Menurutnya, biaya transportasi menjadi salah satu pengeluaran yang harus ditekan selama masih mencari pekerjaan.
“Kalau tarif Transjakarta naik, saya jujur tidak sanggup. Saat ini saya masih mencari kerja dan hampir setiap hari menggunakan transportasi umum untuk mendatangi lokasi wawancara atau mengantar lamaran,” ujar Arman, Senin (15/6/2026).
Ia menuturkan, tarif yang terjangkau sangat membantu para pencari kerja yang harus berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain. Kenaikan tarif, meski hanya beberapa ribu rupiah, tetap akan terasa ketika digunakan secara rutin.
“Bagi orang yang sudah punya penghasilan mungkin tidak terlalu terasa. Tapi bagi pencari kerja seperti saya, setiap pengeluaran harus dihitung. Uang yang ada harus cukup untuk makan, kebutuhan sehari-hari, dan biaya transportasi,” katanya.
Arman yang kini masih bekerja serabutan, berharap pemerintah mempertimbangkan kondisi masyarakat berpenghasilan rendah atau warga rentan miskin, pekerja informal, serta para pencari kerja sebelum memutuskan penyesuaian tarif. Menurutnya, transportasi publik seharusnya menjadi sarana yang memudahkan masyarakat untuk mengakses peluang ekonomi dan pekerjaan.
“Saya berharap tarif tetap terjangkau. Transportasi umum membantu banyak orang untuk mencari nafkah dan mencari kesempatan kerja. Jangan sampai biaya perjalanan justru menjadi hambatan,” ujarnya.
Wacana kenaikan tarif Transjakarta sendiri masih menjadi pembahasan berbagai pihak. Sejumlah kalangan menilai penyesuaian tarif perlu diimbangi dengan peningkatan kualitas layanan, sementara masyarakat berharap aspek keterjangkauan tetap menjadi prioritas dalam pengambilan kebijakan. ***










