Rabu, Oktober 7, 2026

Indonesia masuk top 2 ketahanan energi dunia, strategi transformasi energi mulai berhuah

HeadlineIndonesia masuk top 2 ketahanan energi dunia, strategi transformasi energi mulai berhuah

JAKARTA, zonarilis.com – Indonesia mencatat capaian di sektor energi. Lembaga Keuangan Internasional JP Morgan menempatkan Indonesia pada posisi kedua dari 52 negara, sebagai negara dengan ketahanan energi terbaik di dunia di tengah ketidakpastian geopolitik.

Capaian tersebut menjadi sorotan karena menunjukkan bahwa berbagai kebijakan strategis pemerintah di sektor energi mulai memberikan hasil nyata, terutama dalam upaya menuju kemandirian energi nasional.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, kondisi energi Indonesia saat ini masih menghadapi tantangan besar. Indonesia yang sebelumnya merupakan negara eksportir minyak kini berubah menjadi negara pengimpor, dengan produksi hanya sekitar 605 ribu barel per hari, sementara konsumsi mencapai 1,6 juta barel per hari.

“Dalam kondisi ini kita harus putar otak bagaimana caranya mencapai kemandirian energi,” ujar Bahlil dalam forum bisnis di Jakarta, dikutip dari laman resmi ESDM, Senin 4 Mei 2026.

BACA JUGA :  HGU Habis dan Telantar Tak Perlu Lagi Diberi Hak Pengelolaan

Meski menghadapi tekanan tersebut, pemerintah mencatat capaian positif pada 2025. Untuk pertama kalinya dalam satu dekade, produksi minyak nasional berhasil melampaui target APBN.

Pemerintah juga mendorong optimalisasi sumur minyak tua yang selama ini tidak produktif melalui penerapan teknologi baru, serta pelibatan masyarakat sekitar dalam pengelolaan sumur secara legal dengan skema insentif.

Selain itu, percepatan pengembangan blok migas juga dilakukan. Salah satunya Blok Masela yang sebelumnya mangkrak hampir 30 tahun, kini telah memasuki tahap lelang Engineering, Procurement, and Construction (EPC) dengan nilai proyek mencapai USD 21 miliar.

Di sektor bahan bakar, pemerintah mencatat tonggak sejarah dengan berhentinya impor solar pada 2026. Capaian ini didorong oleh kebijakan mandatori biodiesel berbasis campuran minyak sawit yang kini mencapai 40 persen, dan ditargetkan naik menjadi 50 persen.

BACA JUGA :  Hari Lahir Pancasila 2026, Soedeson Tandra Serukan Penguatan Nilai Kebangsaan dan Keadilan Sosial

Kebijakan ini dinilai mampu menekan ketergantungan impor sekaligus memperkuat industri sawit nasional.

Etanol 2028, LPG Mulai Dialihkan ke CNG

Pemerintah juga menyiapkan kebijakan serupa untuk bensin melalui pencampuran etanol hingga 20 persen yang ditargetkan mulai diterapkan pada 2028. Bahan baku seperti tebu, jagung, dan singkong disebut tersedia melimpah di dalam negeri.

Sementara itu, untuk sektor gas rumah tangga, pemerintah mulai mengembangkan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai alternatif LPG. Teknologi ini diklaim lebih hemat 30–40 persen dibanding LPG dan telah diuji pada sejumlah dapur program makan bergizi gratis.

Indonesia saat ini masih mengimpor sekitar 7,47 juta ton LPG per tahun, sementara produksi dalam negeri baru mampu memenuhi sekitar 20 persen kebutuhan nasional.

BACA JUGA :  Putusan MK: Sisa Kuota Tak Hangus, Kata Konsumen Merah Putih Dorong Operator Segera Implementasi

Pemerintah juga melakukan diversifikasi sumber impor minyak dari berbagai kawasan, tidak lagi bergantung pada satu wilayah tertentu. Langkah ini dilakukan untuk menjaga ketahanan pasokan di tengah dinamika global.

Di sisi lain, pemerintah memastikan harga energi subsidi tetap stabil hingga akhir tahun.

“Sampai 31 Desember, sekalipun harga ICP 100 dolar AS, harga BBM dan LPG subsidi tidak akan naik,” pungkasnya.  ***

spot_img

Simak Konten Lainnya :

Terbaru

Check out other tags:

spot_img
spot_imgspot_img
spot_imgspot_img

Berita Populer