JAKARTA, zonarilis.com — Tepuk tangan panjang menyambut kehadiran Prof. Dr. Emil Salim di Kantor Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Jakarta, Senin (8/6/2026). Di usia 96 tahun, Emil masih tampil dengan ketenangan dan kejernihan berpikir yang membuat banyak hadirin menyebutnya sebagai “living legend” lingkungan hidup Indonesia.
Acara tersebut digelar untuk memperingati ulang tahun ke-96 Emil Salim sekaligus peluncuran buku yang merekam perjalanan panjang pemikiran dan pengabdiannya dalam bidang ekonomi dan lingkungan hidup. Sejumlah tokoh bangsa, akademisi, pegiat lingkungan, hingga sahabat lama hadir memberikan penghormatan.
Dalam sambutannya, Emil Salim menegaskan bahwa keberhasilan menjaga lingkungan tidak dapat dilepaskan dari kesadaran masyarakat.
“Lingkungan hidup akan terjaga apabila masyarakat merasa memiliki dan mencintainya,” ujar Emil.
Ia kemudian mengenang awal keterlibatannya dalam isu lingkungan hidup, yang berawal dari sebuah momen sederhana saat memancing bersama Presiden Soeharto di Teluk Jakarta. Dari situ, keduanya melihat langsung tanda-tanda kerusakan lingkungan di wilayah pesisir ibu kota.
Tak lama setelah peristiwa itu, Emil menerima penugasan untuk menangani bidang lingkungan hidup. Ia mengaku saat itu belum memiliki bekal khusus, namun memilih menjalankan amanah negara.
“Kalau itu tugas negara, saya siap melaksanakan,” kenangnya.
Sejak saat itu, Emil memilih pendekatan yang tidak biasa. Alih-alih langsung merujuk pada pengalaman luar negeri, ia justru berkeliling Indonesia untuk belajar dari masyarakat.
Ia berdialog dengan ulama, tokoh Nahdlatul Ulama, pemimpin pesantren, pemuka lintas agama, akademisi, hingga masyarakat di berbagai daerah. Dari perjalanan itu, ia menemukan bahwa nilai-nilai pelestarian lingkungan telah hidup dalam tradisi dan spiritualitas masyarakat Indonesia.
Pengalaman tersebut ia temukan di berbagai daerah, termasuk Madura dan Maumere, Nusa Tenggara Timur. Di Madura, wilayah yang secara alamiah kering dan tandus, masyarakat tetap mampu menjaga kelestarian lingkungan melalui peran para kiai dan pesantren yang menggerakkan santri menanam pohon.
Sementara di Maumere, para pemimpin gereja mengajak jemaat menanam lamtoro di lahan terasering untuk mencegah erosi sekaligus meningkatkan produktivitas pertanian.
“Dari pengalaman itu saya belajar bahwa pengelolaan lingkungan tidak cukup dengan aturan. Harus ada kesadaran moral dan rasa memiliki,” kata Emil.
Ia menekankan bahwa pengelolaan lingkungan tidak bisa hanya menjadi urusan pemerintah.
“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Harus ada kolaborasi dengan dunia usaha, akademisi, organisasi keagamaan, dan masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, mantan Menteri Perdagangan Gita Wirjawan menyebut Emil sebagai sosok yang langka dalam sejarah Indonesia.
“Spesies langka yang perlu dilestarikan,” kata Gita, yang disambut tawa hadirin.
Menurut Gita, Emil sudah jauh lebih dahulu menyuarakan pentingnya konservasi mangrove dan keberlanjutan lingkungan, bahkan sebelum isu perubahan iklim menjadi perhatian global.
Menteri/Kepala BPLH Moh Jumhur Hidayat menilai warisan Emil bukan hanya pada kebijakan, tetapi pada cara pandangnya terhadap masa depan.
“Warisan terbesar beliau adalah cara berpikirnya. Di tengah tantangan lingkungan yang semakin kompleks, pemikiran Prof. Emil tetap menjadi kompas penting bagi arah pembangunan berkelanjutan,” Kata Jumhur.
Di usia hampir satu abad, Emil Salim tetap menjadi rujukan penting dalam diskursus lingkungan hidup Indonesia. Gagasannya menegaskan bahwa pembangunan dan pelestarian alam bukan dua hal yang bertentangan, melainkan harus berjalan seiring. ***










