JAKARTA, ZONARILIS.COM — Koordinator Nasional Gerakan Santri Biru Kuning (GSBK), Febri Yohansyah, melontarkan kritik tajam terhadap manajemen PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI). Ia mendesak agar insiden serangan siber masa lalu tidak lagi didaur ulang sebagai “alibi” untuk menutupi perlambatan kinerja internal perusahaan.
Sorotan ini mengemuka setelah GSBK mencatat adanya tren perlambatan pertumbuhan laba bersih BSI dari periode 2024 ke 2025. Meskipun secara nominal laba bersih tercatat naik—dari Rp5,70 triliun pada 2023, melonjak ke Rp7,01 triliun pada 2024, lalu merangkak naik tipis ke Rp7,57 triliun pada 2025—selisih pertumbuhan tahunannya justru merosot tajam.
Sebagai catatan, lonjakan laba dari 2023 ke 2024 sempat menembus angka Rp1,30 triliun. Namun, kenaikan tersebut anjlok drastis ke kisaran Rp561,6 miliar pada periode 2024 ke 2025.
Febri menilai, perlambatan drastis ini seharusnya menjadi alarm evaluasi bagi manajemen, alih-alih berlindung di balik isu serangan ransomware kelompok LockBit yang terjadi pada Mei 2023 silam.
”BSI pernah mengalami musibah pada 2023. Serangan LockBit memang fakta dan menimbulkan persoalan serius. Tetapi, jangan biarkan satu kejadian dari luar menjadi tirai yang menutupi segala pertanyaan soal kinerja internal yang melambat,” tegas Febri dalam keterangannya, Sabtu (19/9/2026).
Menurutnya, publik dan pemegang saham tidak boleh terkecoh oleh angka nominal laba yang secara statistik masih naik, tetapi mengabaikan fakta bahwa laju pertumbuhannya melambat secara signifikan. Ia mempertanyakan komitmen profesionalisme manajemen di balik merosotnya selisih perolehan laba tersebut.
”Kalau manajemen betul profesional dan jujur, mengapa pertumbuhan laba dari 2024 ke 2025 hanya sekitar Rp561,6 miliar? Padahal dari 2023 ke 2024 pertumbuhannya masih sekitar Rp1,3 triliun,” sindirnya.
Febri menegaskan, ketahanan finansial sebuah bank syariah sebesar BSI tidak ditentukan oleh ada atau tidaknya gangguan eksternal, melainkan oleh ketepatan strategi internal.
”Yang menjaga laba bukan kehadiran atau ketiadaan peretas. Yang menjaga laba adalah manajemen yang profesional, perencanaan yang matang, efisiensi yang konsisten, dan pelayanan yang sungguh-sungguh,” tandasnya.
Lebih lanjut, GSBK mengingatkan agar manajemen terbuka membedakan antara retorika bisnis dan realitas efisiensi operasional. Meskipun pada awal 2026 BSI sempat mengumumkan pertumbuhan laba sekitar 17 persen secara tahunan yang ditopang bisnis emas dan pembiayaan, tata kelola (governance) secara menyeluruh tetap wajib diawasi ketat.
”Bank ini membawa nama syariah dan mengelola dana umat. Transparansi dan akuntabilitas tidak boleh dikompromikan hanya demi menutupi rapor kinerja yang mulai melandai,” pungkas Febri.(zr).










