Rabu, Oktober 7, 2026

Laba Pertamina Hulu Energi Anjlok Nyaris USD1 Miliar, Ekspektasi Publik Lewat Perombakan Pimpinan Diuji

Ekonomi dan BisnisLaba Pertamina Hulu Energi Anjlok Nyaris USD1 Miliar, Ekspektasi Publik Lewat Perombakan Pimpinan Diuji

​Jakarta, ZONARILIS.COM — Gelombang sorotan tajam mengarah ke tubuh PT Pertamina Hulu Energi (PHE). Di tengah transisi kepemimpinan yang bergulir sejak pertengahan tahun lalu, subholding upstream PT Pertamina (Persero) ini justru mencatatkan rapor keuangan yang terkoreksi signifikan sepanjang tahun fiskal 2025.

​Berdasarkan Laporan Tahunan PHE 2025, laba tahun berjalan perusahaan terperosok ke angka USD2,175 miliar. Jika dikomparasikan dengan capaian tahun sebelumnya yang menembus USD3,121 miliar pada 2024, terjadi penyusutan tajam hingga USD945,55 juta atau setara dengan 30,30 persen. Tak hanya tergerus pada pos laba bersih, roda pendapatan usaha PHE turut mengalami koreksi tipis sebesar 3,56 persen—turun dari USD14,330 miliar pada 2024 menjadi USD13,819 miliar di penghujung 2025.

BACA JUGA :  Bamsoet Kecam Penurunan Bendera Merah Putih di Hari Damai Aceh

​Menanggapi rapor merah tersebut, Direktur Eksekutif Center for Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi, melontarkan kritik keras. Dalam keterangannya pada Minggu (27/09/2026), Uchok menilai anjloknya performa laba ini tidak bisa dipandang sebelah mata, terutamanya karena bertepatan dengan momentum perombakan formasi strategis di level puncak manajemen PHE.

​Seperti diketahui, kursi Direktur Utama PHE resmi beralih dari Chalid Said Salim kepada Awang Lazuardi pada Juli 2025. Bersamaan dengan itu, perombakan di jajaran komisaris menempatkan Denny Januar Ali (Denny JA) sebagai Komisaris Utama merangkap Komisaris Independen, menggantikan formasi sebelumnya yang dipimpin oleh Rinaldi Firmansyah.

​”Setelah ada pergantian pimpinan di level atas, PT Pertamina Hulu Energi seperti menghadapi tantangan berat,” ungkap Uchok pada Minggu (27/09/2026). Ia bahkan menyentil secara satir ihwal efisiensi dan proses bisnis di sektor hulu migas, termasuk rumitnya rantai birokrasi dan tingginya biaya yang mengiringi proses pengangkatan atau lifting minyak mentah.

BACA JUGA :  Adde Rosi Gelar Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Lebak-Pandeglang

​Kendati demikian, tinjauan mendalam atas dokumen finansial perusahaan menunjukkan bahwa koreksi laba ini tidak berdiri sendiri. Laporan Tahunan PHE secara terbuka menjabarkan bahwa penurunan tersebut utamanya dipicu oleh faktor akuntansi, yakni lonjakan beban depresiasi serta pencadangan penyisihan penurunan nilai aset nonkeuangan (impairment).

​Menariknya, di balik merosotnya angka laba bersih, struktur likuiditas PHE justru menunjukkan ketahanan yang solid. Tercatat, arus kas bersih dari aktivitas operasi melesat tajam sebesar 23,62 persen, dari USD5,63 miliar pada 2024 melonjak menjadi USD6,96 miliar di sepanjang 2025.

​Dinamika ini memperlihatkan bahwa pelemahan laba bersih PHE tidak serta-merta merepresentasikan penurunan kesehatan finansial secara utuh. Evaluasi terhadap korporasi migas pelat merah ini menuntut objektivitas tinggi—memilah secara cermat antara dampak fluktuasi harga komoditas global, instrumen akuntansi depresiasi aset, hingga efektivitas manajerial dari kepemimpinan baru dalam mengawal target kedaulatan energi nasional.(zr).

BACA JUGA :  Skandal Perjalanan Dinas Fiktif Rp9,16 Miliar: CBA Minta Kejati DKI Periksa Dirut Bank Mandiri Riduan
spot_img

Simak Konten Lainnya :

Terbaru

Check out other tags:

spot_img
spot_imgspot_img
spot_imgspot_img

Berita Populer