JAKARTA, ZONARILIS.COM — PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI/BBRI) kembali membuktikan ketangguhan fundamental bisnisnya di tengah dinamisnya situasi ekonomi global. Bank BUMN beraset terbesar ini mengumumkan langkah strategis melalui aksi pembeliaan kembali (buyback) saham sebagai dorongan nyata dalam mengoptimalkan nilai bagi para pemegang saham (shareholder value).
Aksi korporasi ini berlandaskan hasil Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 24 Maret 2025 lalu, di mana para pemegang saham menyepakati pagu buyback hingga nilai maksimal Rp3 triliun secara bertahap maupun sekaligus.
Mengarungi gejolak pasar keuangan sepanjang 2026, BRI merealisasikan komitmen tersebut dalam beberapa gelombang. Setelah sukses merampungkan Tahap I senilai Rp500 miliar pada periode Juni hingga September 2026, BRI kembali meluncurkan Tahap II berdasarkan keterbukaan informasi publik per 22 Oktober 2026.
Pada tahap kedua ini, perseroan mengalokasikan anggaran sebesar-besarnya Rp1 triliun yang akan berlangsung hingga 21 Januari 2027 mendatang.
Corporate Secretary BRI, Dhanny, menegaskan bahwa eksekusi buyback saham ini merupakan kalkulasi terukur untuk merespons dinamika pasar keuangan yang dipengaruhi oleh ketidakpastian global, pergerakan inflasi, tensi geopolitik, serta volatilitas arus modal.
“Langkah buyback saham ini mencerminkan keyakinan penuh BRI terhadap fundamental bisnis dan prospek pertumbuhan jangka panjang perseroan. Dalam pelaksanaannya, BRI tetap memegang teguh prinsip kehati-hatian, kecukupan permodalan, serta penerapan Good Corporate Governance (GCG),” tegas Dhanny dalam keterangan tertulisnya, selasa (27/10)
Aksi korporasi BRI tersebut berdiri di atas pijakan keuangan yang teruji. Hingga akhir Triwulan II-2026, BRI mencatatkan raihan laba bersih yang impresif hingga Rp31,2 triliun.
Pertumbuhan dari sisi ekspansi bisnis turut menunjukkan geliat positif:
Total Aset: Melesat 11,7% (YoY) menjadi Rp2.352 triliun.
Penyaluran Kredit & Pembiayaan: Tumbuh pesat 16,2% (YoY) mencapai Rp1.646 triliun.
Dana Pihak Ketiga (DPK): Berhasil dihimpun hingga Rp1.581 triliun atau naik 6,7% (YoY).
Daya tahan perbankan BRI juga didukung benteng permodalan dan likuiditas yang sangat memadai. Capital Adequacy Ratio (CAR) BRI berada pada level kokoh 21,5%, sedangkan Loan to Deposit Ratio (LDR) terjaga secara ideal di posisi 90,8%. Angka-angka ini memberikan fleksibilitas tinggi bagi BRI untuk terus memacu intermediasi secara sehat.
Dhanny menambahkan, BRI akan terus fokus memperkuat bisnis inti dan menjaga pola pertumbuhan yang sustain.
“Dengan fundamental dan kecukupan permodalan yang sangat kuat, kami optimistis BRI memiliki ruang yang luas untuk terus bertumbuh serta memberikan imbal hasil (return) terbaik bagi seluruh pemegang saham dalam jangka panjang,” pungkasnya.(Zr)










