JAKARTA, ZONARILIS.COM — Kegagalan berulang dalam menjaga stabilitas pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) nasional berujung pada desakan perombakan total di tubuh pimpinan tertinggi PT Pertamina (Persero). Center For Budget Analysis (CBA) secara terbuka meminta Presiden Prabowo Subianto segera mencopot Simon Aloysius Mantiri dari jabatan Direktur Utama Pertamina.
Pernyataan keras tersebut dipicu oleh krisis BBM jenis Pertalite dan Pertamax yang melumpuhkan berbagai SPBU di Provinsi Bali hingga Rabu (14/10). CBA menilai kelangkaan BBM yang telah memicu antrean panjang selama sepekan di pulau dewata tersebut menjadi bukti shahih buruknya tatakelola dan perencanaan distribusi energi nasional.
”Krisis BBM di Bali ini sangat memalukan. Pertamina benar-benar seperti sudah hilang kepedulian. Warga sudah terlanjur kesal dan kecewa, baru kemudian Direktur Utama PT Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, buka suara dan meminta maaf,” tegas Direktur Eksekutif CBA, Uchok Sky Khadafi, dalam keterangan tertulisnya.
Uchok menggarisbawahi bahwa krisis pasokan BBM di Bali bukanlah kejadian terisolasi, melainkan bagian dari rantai kelangkaan yang terus berpindah dari satu daerah ke daerah lain di Indonesia sepanjang tahun ini.
”Kelangkaan BBM ini terlalu sering berulang, sudah kayak tur konser. Kalau sekali, itu musibah. Tapi kalau berkali-kali di provinsi yang berbeda, itu masalah kompetensi. Ini membuktikan Simon Aloysius Mantiri tidak punya kapasitas untuk memimpin BUMN sekelas Pertamina,” kata Uchok.
Atas dasar evaluasi objektif terhadap kinerja distribusi Pertamina yang tak kunjung membaik, CBA mendesak Presiden Prabowo untuk mengambil tindakan tegas demi menyelamatkan kepentingan publik dan iklim investasi pariwisata nasional.
Selain persoalan kapabilitas, CBA melontarkan kritik pedas terhadap pola komunikasi publik dan respons manajemen Pertamina yang terkesan lamban serta baru bertindak apabila suatu krisis telah tereskalasi di media sosial.
”Pertamina di era Simon Aloysius Mantiri kerjanya mirip admin Instagram: nunggu DM netizen masuk dulu baru merespons. Rakyat harus mengantre BBM di bawah terik matahari Bali, sementara Dirut baru sibuk buat klarifikasi setelah masalah ini viral dan masuk FYP,” sindir Uchok.
CBA juga menolak tegas pembelaan Pertamina yang menuding keterlambatan kapal pengangkut BBM sebagai dalih utama krisis di Bali. Menurut Uchok, ketidakmampuan mengantisipasi keterlambatan armada logistik menunjukkan betapa rapuhnya manajemen rantai pasok BUMN terbesar di Indonesia tersebut.
”Hebat memang. Pertamina ini BUMN energi terbesar, tapi manajemen distribusinya justru kalah dari warung makan. Warteg saja kalau kehabisan beras tidak pakai alasan ‘kapal telat’—mereka langsung sigap beli ke pasar,” pungkasnya.(zr).










